Oleh Ken Bimo Sultoni Adisiswanto, S.I.P., M.Si.
(Dosen Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, CEO Sygma Research and Consulting)
Baca juga: Kepemimpinan Hati: Warisan Sepuluh Tahun Membangun Jawa Timur
Dan
A. Nashir Fakhrudin, S.Stat.
(Peneliti Sygma Research and Consulting)
Surabaya, JatimUPdate.id - Di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang bergerak semakin cepat, masyarakat membutuhkan figur yang tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga menghadirkan keteladanan moral dan kebangsaan.
Pemimpin yang tidak sekadar menjalankan kekuasaan, tetapi meninggalkan jejak pengabdian, nilai, dan inspirasi bagi generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Jawa Timur, sosok Imam Utomo Soeparno merupakan salah satu figur yang layak disebut sebagai guru bangsa sekaligus sesepuh warga Jawa Timur.
Istilah guru bangsa bukan sekadar penghormatan simbolik. Dalam makna yang lebih mendalam, guru bangsa adalah sosok yang mampu menjadi penuntun moral, menghadirkan keteduhan, serta memberi inspirasi lintas generasi melalui keteladanan hidupnya.
Sementara dalam tradisi masyarakat Jawa, seorang sesepuh bukan hanya dihormati karena usia atau jabatan yang pernah diemban, tetapi karena kebijaksanaan, kejernihan sikap, dan kemampuannya menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial.
Kedua makna tersebut bertemu dalam sosok Imam Utomo Soeparno.
Dengan latar belakang sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia, Imam Utomo dikenal memiliki karakter yang disiplin, tegas, nasionalis, namun tetap sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Karir militernya yang cemerlang dimulai setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang pada tahun 1965, dengan puncaknya menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya (1995-1997) sebelum akhirnya dipercaya memimpin Jawa Timur .
Jejak Prestasi: Pembangunan Infrastruktur dan Program Sosial
Ketika menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur pada periode 1998–2008, Indonesia sedang berada dalam fase transisi reformasi yang penuh tantangan.
Krisis ekonomi, perubahan politik nasional, hingga ketidakpastian sosial menjadi ujian besar bagi banyak daerah.
Namun di tengah situasi tersebut, Jawa Timur mampu menjaga stabilitas sosial, keamanan, dan keberlanjutan pembangunan .
Imam Utomo tidak membangun legitimasi melalui kegaduhan politik atau pencitraan yang berlebihan.
Beliau menunjukkan bahwa kewibawaan seorang pemimpin lahir dari kerja nyata, kedisiplinan, serta kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Penghormatan masyarakat tidak diraih melalui retorika, tetapi melalui ketulusan pengabdian dan konsistensi menjaga amanah.
Di sektor pembangunan, warisan Imam Utomo masih nyata terlihat hingga saat ini. Pada masa kepemimpinannya, ia tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga aktif mendorong program-program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, seperti penanggulangan kemiskinan, peningkatan akses pendidikan, serta pelayanan kesehatan bagi warga kurang mampu.
Beberapa proyek strategis yang lahir di era kepemimpinannya antara lain pengembangan Puspa Agro dan pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur yang hingga kini menjadi tulang punggung konektivitas dan perekonomian wilayah selatan . Jembatan Surabaya-Madura merupakan upaya Imam Utomo untuk membuat Jawa dan Madura terhubung. Gardutaskin, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan, prototipe program pengentasan kemiskinan yang jadi best practise dan dikembangkan hingga ke pusat.
Baca juga: Imam Utomo Masih di Jawa Timur
Dedikti Kemanusiaan: Menakhodai PMI Jawa Timur
Nilai-nilai tersebut justru terasa semakin relevan ketika dikaitkan dengan kondisi Jawa Timur saat ini. Di tengah situasi ini, masyarakat membutuhkan figur pemersatu yang mampu menghadirkan kesejukan dan kebijaksanaan.
Setelah pensiun dari jabatan gubernur pada 2008, Imam Utomo tidak berhenti berkarya. Beliau memilih jalan "lengser keprabon, madeg pandito" (turun dari tahta, menjadi pendeta/sesepuh), mengabdikan diri sepenuhnya pada bidang kemanusiaan sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur.
Di era media sosial yang sering dipenuhi polarisasi, konflik opini, dan respons yang serba cepat, keteduhan sikap seperti yang ditunjukkan Imam Utomo menjadi sesuatu yang semakin langka namun sangat dibutuhkan.
Beliau mengajarkan bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak selalu berasal dari suara yang paling keras, tetapi dari integritas, kesabaran, dan kemampuannya menjaga harmoni sosial.
Kepemimpinannya di PMI bukannya tanpa prestasi.
Ia berhasil menjaga soliditas organisasi dan memperkuat struktur PMI di berbagai daerah hingga terpilih kembali secara aklamasi untuk periode 2025–2030 .
Atas jasanya yang konsisten dalam aksi kemanusiaan, mendukung korban bencana, dan menjadi penggerak organisasi sosial, Imam Utomo dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement kategori Tokoh Pengabdian Kemanusiaan pada ajang Beritajatim Award 2026 .
Prestasi Unggulan PMI Jatim di Bawah Imam Utomo;
1. Nomor Satu di Indonesia: Berhasil memenuhi kebutuhan darah di Jawa Timur, yang mencapai lebih dari 750.000 kantong darah per tahun, menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan pemenuhan kebutuhan darah terbanyak dan terbaik se-Indonesia .
2. Penguatan Relawan: Fokus pada peningkatan kapasitas dan kompetensi relawan untuk respons kebencanaan yang lebih cepat di seluruh wilayah.
Warisan Moral: Antikorupsi dan Anti-Dinasti Politik
Sebagai guru bangsa, Imam Utomo juga memberikan pelajaran penting bagi generasi muda tentang arti pengabdian kepada negara.
Baca juga: Imam Utomo Soeparno: Guru Bangsa dari Tlatah Bumi Brawijaya
Jabatan dipandang sebagai amanah untuk melayani rakyat, bukan alat untuk mengejar kekuasaan atau popularitas.
Nilai loyalitas terhadap bangsa, kedisiplinan, kerja keras, serta kepedulian terhadap masyarakat merupakan warisan moral yang tetap relevan di tengah tantangan zaman modern.
Di tengah maraknya praktik dinasti politik di Indonesia, Imam Utomo menjadi salah satu contoh langka pemimpin yang tidak membangun dinasti politik.
Tidak ada anak-anaknya atau istrinya yang dipersiapkan untuk terjun ke dunia politik. Anak-anak Pak Imam menjadi private citizen, orang biasa, yang bekerja di bidangnya masing-masing secara profesional tanpa memanfaatkan jabatan orang tua .
Bagi warga Jawa Timur, Imam Utomo Soeparno bukan sekadar mantan gubernur. Beliau adalah simbol keteladanan, penjaga nilai, dan sesepuh yang dihormati.
Sosok beliau mengingatkan bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu menjadi guru—yang mengayomi, mempersatukan, dan memberi inspirasi melalui ketulusan dalam melayani.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, keteladanan Imam Utomo Soeparno menjadi pengingat bahwa kepemimpinan terbaik lahir dari pengabdian, keteguhan prinsip, dan kemampuan menjaga persatuan.
Dari Jawa Timur, beliau telah menunjukkan bahwa pemimpin yang benar-benar besar bukanlah yang paling banyak berbicara tentang dirinya, melainkan yang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup dalam ingatan dan hati masyarakat.
Sebagai guru bangsa dan sesepuh warga Jawa Timur, Imam Utomo Soeparno adalah cermin bahwa nilai-nilai kebangsaan, kesederhanaan, dan integritas tetap menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa yang kuat, damai, dan bermartabat.
Beberapa hari yang lalu, 14 Mei 2026, H. Imam Utomo merayakan ulang tahun ke-83. Selamat Berulang Tahun Ke-83 Eyang Imam Utomo, Sehat Selalu dan Mohon jangan lelah membersamai kami warga Jawa Timur.
Editor : Redaksi