Refleksi dan Kado Ulang Tahun untuk Bapak Imam Utomo

Kepemimpinan Hati: Warisan Sepuluh Tahun Membangun Jawa Timur

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy
Imam Utomo
Imam Utomo

Oleh: Hadipras 

JatimUPdate.id - Waktu seolah melambat ketika kita menoleh ke belakang, pada sebuah dekade krusial antara tahun 1998 hingga 2008. Di masa transisi bangsa yang penuh gejolak pasca-Reformasi, Jawa Timur beruntung memiliki nakhoda seperti Bapak Imam Utomo. Sebagai seseorang yang mendapat kehormatan mendampingi beliau—sejak menjabat Kepala Biro Administrasi Pembangunan 2000-2002 hingga dipercaya menjadi Kepala Bappeda 2003-2010—saya menyaksikan bagaimana sebuah visi besar dijalankan dengan kerendahan hati yang mendalam.

Filosofi Kepemimpinan Hati
Kepemimpinan Pak Imam bukanlah tentang gegap gempita panggung politik atau pencitraan semata. Beliau menghidupi filosofi Jawa yang adiluhung: "Noto Roso, Among Roso, Mijil Trisno, Agawe Karyo". Beliau menata rasa, menjaga perasaan rakyat, hingga membuahkan kasih sayang yang kemudian diwujudkan dalam kerja nyata (agawe karyo).

Di bawah kepemimpinannya, disiplin militer yang tegas bersenyawa secara harmonis dengan kelembutan seorang bapak. Beliau membuktikan bahwa ketegasan tidak harus kehilangan sisi kemanusiaan.

Terobosan Strategis: Dari Suramadu hingga Jalur Lintas Selatan
Banyak yang mungkin lupa bahwa Jembatan Suramadu sempat menjadi wacana yang membeku selama puluhan tahun. Di tangan beliau, impian tersebut bukan sekadar dihidupkan, melainkan diperjuangkan dengan determinasi tinggi hingga ke tingkat pusat. Momen mengharukan saat jenazah Bapak Mohammad Noer (mantan Gubernur Jawa Timur inisiator Jembatan Suramadu) dibawa melintasi Suramadu yang telah operasional adalah bukti nyata bahwa estafet kepemimpinan yang tulus akan membuahkan penghormatan abadi.

Begitu pula dengan inisiasi Jalur Lintas Selatan (Pansela). Beliau menyadari bahwa keadilan sosial hanya bisa tercapai jika isolasi wilayah selatan dibuka. Program Gerdu Taskin (Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan) melengkapi visi infrastruktur tersebut dengan pendekatan humanis yang langsung menyentuh akar rumput di desa-desa tertinggal.

Pesan untuk Masa Depan: Menghadapi Tantangan Global
Dunia saat ini sedang berada dalam pusaran ketidakpastian global—mulai dari disrupsi teknologi hingga krisis pangan. Di sinilah relevansi visi "Provinsi Agrobisnis Terkemuka di Asia" yang didorong beliau melalui Rencana Jangka Panjang kembali menemukan urgensinya. Bagi para pemimpin saat ini, warisan Pak Imam mengajarkan satu hal: pembangunan fisik haruslah memiliki jiwa. Teknologi dan data hanyalah alat, namun kematangan emosional dan stabilitas sosial adalah pondasi utama.

Pemimpin masa kini perlu belajar bagaimana menjaga stabilitas dalam keberagaman, bekerja dalam diam namun berdampak nyata, dan yang terpenting, berani mengambil keputusan sulit demi kemaslahatan jangka panjang rakyatnya.

Selamat ulang tahun, Bapak Imam Utomo. Terima kasih atas teladan, bimbingan, dan cinta yang telah Bapak tanamkan di Bumi Brawijaya. Semoga sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan-Nya. (*)