Ruang Dekan FHB, 21 Mei 2026

ITB Yadika Pasuruan dan Kemewahan Bernama Bertahan

Reporter : Redaksi
Dr. Agus Andi Subroto dan kolega berada di depan ruang Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika PasuruanĀ 

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto

Baca juga: Sekdaprov Adhy Dorong Program 1 Gudep 1 RTLH dan Jalur Prestasi Pramuka melalui Rakerda Pramuka 2026

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan 

 


Pasuruan, JatimUPdate.id - Senja di lobi kampus ITB Yadika Pasuruan sore ini bukan sekadar pergantian cahaya. Di bawah langit yang mulai meredup, ada pendar lain yang memancar dari wajah-wajah muda: kelegaan, harapan, sekaligus rasa bangga karena berhasil melewati satu fase penting dalam hidup mereka.

Saya melihatnya pada sosok Rayhan, mahasiswa Program Studi Manajemen yang baru saja menyelesaikan seminar hasil  plus revisi atas skripsinya, beberapa pekan yang lampau, dengan map di tangan dan sorot mata yang sulit menyembunyikan kebahagiaan.

Wajahnya tampak ringan, seolah baru selesai menurunkan beban panjang yang selama berbulan-bulan dipikul diam-diam.

Bagi sebagian orang, skripsi mungkin hanya dianggap sebagai syarat administratif menuju gelar sarjana. Tumpukan kertas yang harus diselesaikan sebelum wisuda.

Namun bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi sering kali menjadi “palagan sunyi”: ruang tempat rasa lelah, cemas, ragu, dan tekanan bertemu dalam waktu yang panjang.

Di lorong-lorong ITB Yadika Pasuruan sore tadi, suasana semacam itu terasa begitu nyata. Ada mahasiswa Fakultas Hukum dan Bisnis yang duduk mematung sambil membaca ulang catatan kecilnya.

Ada yang berjalan mondar-mandir mengatur napas sebelum memasuki ruang seminar. Ada pula yang memilih diam, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Di titik itu, pendidikan tidak lagi bicara soal angka IPK semata. Pendidikan sedang menguji sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan seseorang untuk bertahan dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai.

Baca juga: Hari Pertama Masuk Kerja, Kalaksa BPBD Jatim Langsung Tinjau Banjir Pasuruan

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Banyak hal dirancang instan, ringkas, dan mudah dilupakan. Orang gemar memulai sesuatu, tetapi tidak semuanya siap bertahan ketika proses berubah melelahkan.

Di tengah budaya seperti itu, skripsi justru berdiri sebagai antitesis. Ia memaksa mahasiswa akrab dengan revisi, kesabaran, disiplin, dan ketidaknyamanan.

Barangkali karena itulah menyelesaikan skripsi sesungguhnya bukan hanya soal akademik. Ia adalah latihan mental.

Yang diuji bukan semata validitas data atau ketepatan metodologi penelitian, melainkan juga tanggung jawab terhadap pilihan hidupnya sendiri. Sebab menjadi mahasiswa berarti berani memulai sebuah perjalanan, dan menyelesaikan skripsi berarti berani menuntaskannya dengan terhormat.

Dunia hari ini terlalu penuh dengan orang-orang yang mudah menyulut semangat di awal, tetapi cepat menyerah saat menghadapi tekanan. Maka kemampuan untuk bertahan hingga garis akhir sesungguhnya telah menjadi kualitas yang mahal.

Kalimat sederhana seperti, “skripsi saya selesai,” sering kali menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan. Di dalamnya ada malam-malam panjang, revisi yang melelahkan, kecemasan yang diam-diam dipendam, hingga perjuangan untuk tetap percaya diri saat keadaan terasa berat.

Baca juga: Perhutani Pasuruan dan FPN Bersinergi Jaga Legalitas Air Hutan

Karena itu, setiap mahasiswa yang berhasil melewati seminar hasil sejatinya sedang membuktikan satu hal penting: bahwa ia tidak lari dari tanggung jawab hidupnya.

Melalui wajah-wajah muda di lobi ITB Yadika Pasuruan sore ini, kita seperti diingatkan kembali bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencetak orang pintar. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang tangguh, yang sanggup berdiri di tengah tekanan, dan yang mampu menghargai proses panjang sebelum mencapai tujuan.

Saat matahari benar-benar tenggelam di ufuk Pasuruan, lobi kampus itu masih menyisakan kehangatan. Kehangatan dari sebuah kesadaran sederhana bahwa di tengah zaman yang serba terburu-buru, bertahan hingga selesai ternyata telah menjadi sebuah kemewahan.

Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting yang tidak tertulis di lembar skripsi mana pun.

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru