Catatan Redaksi - Ada satu kalimat menarik dalam serap aspirasi masyarakat di Wonokromo. Seorang warga bukan mengeluhkan jalan rusak, bansos, atau banjir, justru mempertanyakan kenapa camatnya dipindah.
Keluhan seperti ini jarang terjadi. Sebab dalam banyak kasus, warga bahkan tidak hafal nama camatnya sendiri.
Baca juga: Reses di Kampung Nelayan, Abdul Ghoni Dorong Kawasan Maritim Bulak Berkelanjutan
Artinya pemimpin wilayah itu terasa hadir dan bekerja, membangun komunikasi, dan meninggalkan kesan baik di masyarakat.
Di tengah birokrasi yang kerap dingin dan administratif, sosok pemimpin seperti itu justru semakin langka.
Maka pernyataan warga Wonokromo seharusnya menjadi alarm bagi banyak kepala daerah dan kepala OPD. Keberhasilan pemimpin bukan diukur dari berapa sering masuk media, sidak sambil marah-marah, atau viral video terkait penertibannya. Tetapi apakah rakyat merasa dipimpin.
Hari ini terlalu banyak pejabat gemar tampil seperti “superhero lapangan”. Sedikit-sedikit sidak. Kamera menyala, konten berjalan, lalu selesai.
Padahal pekerjaan teknis semacam itu bisa dilakukan oleh kepala OPD dan perangkat di bawahnya.
Baca juga: Terkait Dugaan Keracunan MBG di Surabaya, Pigai Sebut SPPG Tidak Layak tapi Tetap Operasi
Kepala daerah seharusnya fokus pada arah besar kota. Menjamin sistem berjalan. Memastikan kebijakan berpihak kepada wong cilik, bukan cuma mengejar tepuk tangan dan penghargaan.
Sayangnya, belakangan yang sering terlihat justru pendekatan kosmetik. Penataan kota dilakukan agresif, tetapi minim solusi. PKL digusur atas nama ketertiban.
Wong cilik dipindah atas nama estetika. Ruang hidup mereka dipersempit demi citra kota “rapi” dan “bersih”.
Ironisnya, setelah penggusuran selesai, persoalan ekonomi rakyat sering kali dibiarkan menggantung. Padahal kota bukan cuma trotoar mulus dan taman cantik untuk bahan presentasi lomba. Kota adalah tentang manusia yang hidup di dalamnya.
Baca juga: Bineka Pushbike Indonesia Kenalkan Balance Bike untuk Anak di Surabaya
Oleh sebab itu, kisah Camat Wonokromo yang dipertanyakan warga saat dipindah menyimpan pesan penting. Masyarakat tidak butuh pemimpin yang hanya pandai tampil.
Mereka membutuhkan pemimpin yang mau mendengar, memahami wilayahnya, dan hadir dalam persoalan sehari-hari warga.
Pemimpin yang dicintai rakyat tidak lahir dari pencitraan. Namun lahir dari kedekatan, keberpihakan, dan kerja nyata yang dirasakan langsung masyarakat.
Editor : Redaksi