Membela 'Terdakwa' Bernama Kopdes                  

Reporter : Yuris. T. Hidayat

Oleh As Khabul Mukminin *

JatimUPdate.id - Bapak pengembang Indonesia, Ciputra  selalu berpesan. Bisnis properti sukses jika memperhatikan 3 L. Yakni location, location and location. Hal senada di tegaskan founder
PSPI  (Pusat Studi Preperti Indonesia) Panangian Simanungkalit. Sukses bisnis properti ada dalam, lokasi, lokasi dan lokasi. Apa benang merah bisnis properti dengan KOPDES.

Disinilah menariknya. Sebagai instruktur KDKMP bidang kewiraushaan, fleksibilitas menjadi spirit dalam berbisnis. Masyarakat desa ternyata memiliki kesadaran baru untuk bersifat fleksibel. Sifat ini menjadikan hewan bernama Komodo bisa melampaui zamannya. Dinosaurus kuat, ganas, raksasa. Tumbang lebih dulu karena tidak memiliki karakter fleksibel.

Sekedar ilustrasi dunia hewan. Tapi begitulah. Masyarakat Ngadirejo, Pacitan telah melakukan terobosan (break trought).  Menggunakan Gedung KDKMP untuk hajatan pernikahan. Fakta ini menarik, bahwa tidak di semua lokasi KDKMP tak beroleh hati di masyarakat.

Langkah sederhana yang cerdas.  Sambil tersenyum saya menganalisa. Catatan pentingnya jangan berhenti sampai disini saja. Gelarlah acara serupa, rangkul masyarakat dan deklarasikan bahwa KDKMP dari, oleh dan untuk kita. Jika langkah strategis ini berhasil, maka mimpi menjadikan KDKMP sebagai soko guru dan Fondasi Kemandirian ekonomi desa makin hadir nyata. Rangkul dan libatkan sebagai anggota KDKMP, karena kemanfaatan gedung bisa di rasakan semuanya.

Dalam Pembekalan Capasity Building pengurus KDKMP di seluruh Indonesia. Bekal untuk mapping potensi desa dalam menggali’ Harta Karun’ desa harus di lakukan dengan analisa SWOT yang dalam. Tidak semua KopDes mesti mengembangkan retail. Kata Sekjen.AKRINDO (Asosiasi koperasi Retail Indonesia) dengan ribuan anggota usaha ritailnya. Anang Zunaedi yang sejak puluhan tahun mendedikasikan dirinya bagi pengembangan Retail Koperasi. Sudah wanti wanti. Retail is detail. Jangan coba coba,  karena dunia retail butuh detail.

MINDSET PENGUSAHA
Stakeholder Kopdes. Masyarakat desa, Tokoh Masyarakat, Kepala desa, Lurah, Pengurus dan manajer wajib memiliki kesadaran dan kepekaan. Pola pikir sebagai pengusaha harus menjadi modal utama merubah pola fikir dan mental, pekerja / karyawan. Menjadi mental wirausaha. Pengusaha Nasioanal yang lahir dari “anak singkong”. 

Dengan raksasa bisnisnya dalam Trans Coorporation , Bapak Chairul Tanjung. Dalam sebuah seminar bagi kalangan GenZ soal kewirausahaan beliau berpesan. “Bisnis itu harus di awali dengan 3 hal, baru modal sebagai pendukung. Tiga hal itu adalah 3 A (action, action dan action).
Kopdes, Ngadirejo , Pacitan telah melakukan itu action, action dan action.

Gedung dan Kopdes memang belakangan ini, nyaris mirip terdakwa. Keberadaan gedung (aset properti) seakan di lihat sebagai aset nganggur. Dalam SPSI, pandangan Panangian S, jika aset bernama properti nganggur maka dia akan menjadi leabilitas, menjadi cost (biaya) baru. Dalam studi properti di kelas MRE (Master Real Estate) dengan afiliasi WAUC-Sire Australia, (meski belum terakreditasi).

 Forum kuliah yang pernah saya ikuti, di era 90 an ini memberikan pencerdasan dalam fungsionalitas aset properti menjadi aset produktif. Dari cost centre, menjadi aset produktif.

Apa yang sudah dilakukan pengurus KDKMP Ngadirejo Pacitan, sebenarnya juga telah dilakukan oleh KDKMP, SILO Jember. Keberadaan gedungnya menjadi produktif. Potensi petani kopi dan perkebunan kopi dengan kualitas premium telah  menggugah kesadaran masyarakat petani desa. Dimotori Mas Kades, Kamil. Kades termuda di Jember menjadikan gelora usaha pertanian kopi beserta derivatnya. 
NGADIREJO WEDDING, SILO EKSPORT KOPI

Dalam analisa appraisal properti paling tidak ada tiga hal. Sisi pertama, Yield artinya velue gedungnya berbuah rupiah. Kedua Cap rate tumbuh, ada cash flow yang membuat nilai appraisal gedung bertambah , terdongkrak 30 sd 40 %. Ketiga utilisasi maksimal jika fungsionalitas gedungnya di kelola secara transparan, akuntable dan sentuhan managemen WO (wedding Organization). Di sisnilah peran Instruktur dan Trainer, pendamping KDKMP baik BA (Bussiness Asisten) maupun PMO (Project Management Officer) betul betul diuji.

Beralih ke KDKMP SILO, Jember. Gairah KDKMP desa Sidomulyo, tepatnya begitu. Memiliki potensi 3000 hektar perkebunan kopi. Potensi panen pertahun mencapai 4000 sampai 5000 ton pertahun, berupa kopi robusta.
Keberadaan gedungnya tidak strategis untuk mengembangkan retail. Namun sangat strategis untuk dikembangkan sebagai warehouse. Maka tidak mengherankan, gebrakan pertama berhasil mengekspor 1 kontainer (20 ton) kopi ke Timur Tengah (midle East).
Selanjutnya permintaan tumbuh sampai 80 ton. Sebelumnya pasar international yang berhasil ditembus diantaranya, Brunai, Singapura dan Hongkong.

Ekonomi berdampak dalam lingkup desa menyokong tumbuhnya tidak kurang 6 unit usaha lain, mulai Klinik Kesehatan, Apotik, homestay, Sembako dan Pergudangan.

Seorang teman akademisi bergelar Doktor pernah membuat literasi yang membuat dada saya sedikit sesak. Kopdes itu anak haram koperasi. Ibunya koperasi, Bapaknya Korporasi, Lahirnya Prematur, Susunya asupan APBN.

Kali ini justru saya membenarkan, Bahwa Kopdes adalah Anak kandung Koperasi. Bapaknya modern, Ibunya orang desa, bayinya cerdas. Pergaulannya International. (*)


Penulis adalah Instruktur Kemenkop , alumni Profesional Training, In went Magdeburg, Germany.
 

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru