Esuk-esuk Jagongan Karo Bakule Pecel Lontong
"Manusia sudah diciptakan lengkap dengan rejekinya masing-masing, tidak akan tertukar. Tinggal dijemput dengan ikhtiar, dan doa. Dan berharap ridho-Nya selalu!"
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Si Kadir yang jualan pecel lontong pagi ini wajahnya seperti kelegan ketok berseri-seri. Biasanya mbesengut ae karo ngobahke jenggote sing arang-arang iku pelan-pelan sambil merapal mantra memanggil para pembeli datang ke lapaknya!
"Wah tak sawang-sawang esuk iki awakmu kethok senengmen, Kadir!"_
" Iyo, Kang Agus. Iki mau dengaren, ono pesenan okeh, 15 porsi," kata si Kadir!
"Wuih, okehmen Dir, layak pasuryanmu kethok bedo, ngguya-ngguyu ae!"
"Lha Kang Agus, wis enthuk pirang orderan ngojek'e iki mau," tanya si Kadir kepadaku!
Dan aku jawab spontan. "Entuk 10 orderan, nol e nggelinding, Dir!"
Dasar, si Kadir ini orangnya suka kepo. Paling demen tahu urusan orang. Lalu ia teruskan pertanyaannya kepadaku. "Lha berarti baru entuk siji orderan to, kang Agus?"
"Iyo, Dir!"
"Orderan opo iku Kang Agus? Opo bokongan, maksudnya penumpang manusia, opo orderan panganan alias grab food, kang Agus?"
"Bokongan, ngeterke bojoku ning kantore, Dir!" Dan aku lanjutkan menggoda si Kadir. _"Awakmu iku, Dir, sepertinya senang ya, melihat kesedihan orang lain. Jelas aku durung entuk orderan, kok, malah ngguyu laka-laka, koyo kelakuane begejil-begejil bolo- bolomu iku!"_
Lalu, si Kadir berubah profesi spontan jadi seorang ustad. _"Ora ngono, kang Agus. Sing jenenge rejeki yo ngono iku, kadang rame, kadang sepi!"_
"Njih, Ustad Kadir!"
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Glodak hahahaha!
Dan kita berdua pun langsung *ngekek* bareng pagi ini. Sesama pemilik lapak yang sedang _ngundomono_ perihal rejeki _peparingenipun Gusti_ pada pagi ini! Di situlah aku bahagia melihat dan melakukan obrolan guyon maton parikeno bersama Kadir! Sering saat mampir di lapaknya si Kadir, aku dapat ide menulis. Salah satunya adalah tulisan kecil ini!
Tidak jarang, aku merasa spontan berjalan di lorong kehidupan yang begitu panjang dan menyenangkan. Karena sering bertemu banyak manusia dengan berbagai latar dan profesi. Yang sedang berperilaku *jujur* mengucap terima kasih kepadaNya di dalam peristiwa hidup yang dialaminya. Seperti si Kadir yang sedang dapat *miracle* _entuk pesenan uakeh anggone dodolan lontong pecel'e!_ Bisa jadi bagi Anda semua itu adalah hal yang biasa. Tapi tidak bagi si Kadir. Belum tentu dalam waktu 1 bulan bahkan hingga lebih, dalam berjualan setiap pagi di depan SD Yamasto Rungkut, ia dapat orderan sebanyak itu, dalam sekali beli!
_"Berarti esuk iki mau, awakmu entuk rejeki nomplok ya Kadir?"_
_"Iyo, kang Agus. Lan kang Agus ora usah bayar mangane mengko? Tanda syukurku karo Gusti," ucap si Kadir kepadaku!_
_"Termasuk sing mangan wingi sing durung tak bayar yo Kadir?"_
_"Nek sing Wingi mbayar Kang Agus, sing saiki tok gratis!"_
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Hahahaha
_"Yo wis iki duitku 20 ewu yo._
_"Lho okehmen kang Agus."_
_"Guayamu Dir. 8 ribu buat bayar pecelku sing wingi. Sisane sing 12 ewu, kanggo awakmu. Aku berbagi rejeki, mergo awakmu wis memotivasiku kanggo nulis tulisan iki,"_ dan si Kadir pun ikut membaca hasil obrolanku dengannya lewat aksara ini!
"Suwun, Kang Agus!"
"Yo, podo-podo Kadir.
Editor : Redaksi