Surabaya, JatimUPdate.id – Kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci agar inovasi keselamatan navigasi kapal tidak berhenti sebagai hasil penelitian di laboratorium, tetapi benar-benar diterapkan untuk mengurangi risiko kecelakaan pelayaran di Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Sistem Keselamatan Navigasi Kapal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Eng. Muhammad Badrus Zaman.
Baca juga: Akademisi Siap Sambut Ajakan Presiden Prabowo Untuk Menumbuhkan Kepekaan Dan Kepedulian Sosial
Menurutnya, tantangan keselamatan pelayaran tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kecanggihan teknologi, melainkan membutuhkan sinergi berbagai bidang ilmu, regulator, dan pelaku industri maritim.
“Keselamatan pelayaran merupakan persoalan multidimensi. Karena itu, penyelesaiannya harus melibatkan kolaborasi antara ilmu teknik, teknologi informasi, ilmu perilaku, manajemen, hingga kebijakan publik agar inovasi benar-benar bisa diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Badrus menjelaskan, inovasi yang dikembangkan ITS mengintegrasikan teknologi Automatic Identification System (AIS) dengan model analisis M-SHEL.
Sistem tersebut mampu menganalisis tingkat risiko tabrakan kapal secara real time dengan mempertimbangkan faktor manusia, perangkat lunak, perangkat keras, lingkungan pelayaran, serta aspek organisasi dan manajemen.
Melalui integrasi tersebut, sistem dapat mengklasifikasikan potensi risiko menjadi kategori rendah, sedang, hingga tinggi. Informasi tersebut diharapkan membantu nakhoda mengambil keputusan lebih cepat dan tepat untuk mencegah terjadinya kecelakaan di laut.
Baca juga: Data Desa Presisi, Memastikan Akurasi, Jadi Kunci Pembangunan Optimal
Menurut Badrus, berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab dominan dalam berbagai kecelakaan kapal.
Namun, faktor tersebut tidak berdiri sendiri karena sering kali dipengaruhi kondisi lingkungan, sistem operasional, peralatan navigasi, hingga tata kelola keselamatan.
Karena itu, ia menilai pengembangan teknologi keselamatan harus dilakukan secara kolaboratif. Perguruan tinggi, pemerintah, industri pelayaran, perusahaan teknologi, hingga lembaga keselamatan transportasi perlu membangun ekosistem inovasi yang saling mendukung agar hasil riset dapat diimplementasikan secara luas.
“Jangan sampai inovasi hanya berhenti menjadi prototipe atau publikasi ilmiah. Ukuran keberhasilan riset adalah ketika teknologi tersebut digunakan dan memberikan manfaat nyata bagi keselamatan pelayaran,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, ITS membangun kolaborasi penelitian dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga internasional, seperti Kobe University Jepang, Universiti Teknologi Malaysia, serta Wismar University of Applied Sciences Jerman. Di dalam negeri, pengembangan sistem juga melibatkan Kementerian Perhubungan dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Baca juga: Apresiasi Layer Baru CHT, Achsanul Qosasi Dorong Pemerintah Percepat KEK Tembakau Madura
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi hasil penelitian sehingga inovasi keselamatan navigasi dapat diadopsi oleh industri pelayaran nasional.
Selain meningkatkan keselamatan, penerapan teknologi juga diyakini akan memperkuat daya saing sektor maritim Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Badrus optimistis sinergi antara akademisi, pemerintah, dan dunia industri akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pelayaran nasional yang lebih aman, cerdas, dan berkelanjutan. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat