Cerita Pendek

Warkop Ekspektasi: Pertemuan Senja (Bagian 1)

Reporter : Redaksi
Ilustrasi Cerita Pendek Warkop Ekspektasi

JatimUPdate.id - Langit mulai berubah jingga ketika Bahar Khan memarkir sepeda motornya di depan Warkop Ekspektasi. Warung kopi itu tidak pernah benar-benar sepi. 

Dari pagi hingga larut malam, selalu ada orang datang dan pergi. Sebagian hanya ingin menikmati kopi, sebagian lagi datang membawa urusan yang tak pernah tertulis di secarik kertas.

Baca juga: Analisis Lirik “Bursa Metal” Big Panzer: Dari Darah Metal Menuju Puncak Perjuangan

Bahar Khan menoleh ke arah pintu masuk. Di dalam, beberapa rekannya sudah menunggu.

"Baru datang, Har?" sapa seorang pria paruh baya sambil berdiri menyambutnya.

Bahar mengangguk pelan lalu menjabat tangan satu per satu. Wajah-wajah itu tidak asing baginya. 

Mereka pernah berada dalam barisan yang sama ketika memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini benar. 

Sebagian pernah merasakan dinginnya ruang tahanan, sebagian lain kehilangan pekerjaan karena memilih bersuara.

Waktu mengubah banyak hal. Saat ini mereka menjalani kehidupan berbeda. Ada yang dipercaya mengemban jabatan di pemerintahan, ada pula yang menjadi pengusaha. Meski demikian, hubungan mereka tetap terjalin.

Seorang pelayan menghampiri meja. "Pesan seperti biasanya, Mas?"

"Iya. Kopi hitam saja," jawab Bahar singkat.

Obrolan ringan mengawali pertemuan itu. Mereka saling menanyakan kabar keluarga, pekerjaan, hingga kesehatan. 

Setelah suasana mencair, pembicaraan mulai mengarah pada persoalan yang lebih serius.

"Ekonomi belum benar-benar pulih, banyak usaha kecil yang masih terseok-seok sejak pandemi," kata salah seorang di antara mereka. Yang lain pun mengangguk.

"Bantuan pemerintah memang ada, tapi belum semua pelaku usaha bisa merasakannya," kata rekan Bahar Khan yang lain

Bahar menyimak tanpa memotong pembicaraan. Ia baru berbicara ketika semua mata mengarah kepadanya.

"Kita pernah memperjuangkan perubahan. Kalau sekarang diberi kesempatan berada di dalam sistem, jangan sampai kehilangan tujuan awal. Jabatan hanya alat, bukan tujuan," usai berkata, Bahar Khan lalu menghisap kreteknya, diikuti menyuruput kopi yang baru tiba di hadapannya. 

Suasana meja pun mendadak hening, ucapan itu kedengarannya biasa saja, akan tetapi cukup membuat semua orang berpikir.

Baca juga: Analisis Lirik “Kau Maniz Kau Ibliz” Edane: Pesona yang Menipu, Kepercayaan yang Hancur

Mereka lalu saling bertukar gagasan. Ada yang mengusulkan pelatihan usaha bagi masyarakat kecil, ada yang menawarkan pembentukan jaringan pemasaran untuk produk rumahan. Tak satu pun pembicaraan mengarah pada kepentingan pribadi.

Namun di luar warkop, lalu lintas semakin padat. Lampu kendaraan mulai membentuk garis-garis cahaya di sepanjang jalan.

Sebuah mobil berwarna putih melambat ketika melintasi depan Warkop Ekspektasi. Pengemudinya tanpa sengaja melirik ke arah dalam. Ayu Chen.

Tatapannya berhenti ketika melihat sosok Bahar Khan sedang duduk bersama beberapa pria yang dikenalnya. Napasnya tertahan.

Ia mengenali sebagian wajah di meja itu. Nama-nama mereka pernah menghiasi pemberitaan bertahun-tahun lalu. Orang-orang yang dikenal vokal mengkritik penguasa.

"Sedang apa mereka berkumpul?" gumam Ayu Chen pelan.

Lampu lalu lintas berubah hijau. Klakson kendaraan di belakang membuatnya tersadar. Ia kembali menginjak pedal gas, tetapi pikirannya tidak lagi berada di jalan. Bayangan pertemuan itu terus berputar di kepalanya.

Semakin dipikirkan, semakin banyak dugaan bermunculan. Baginya, pertemuan tertutup seperti itu bukan cuma reuni.

Mobilnya melaju tanpa tujuan yang jelas sebelum akhirnya berbelok menuju rumah Bahar. Sesampainya di sana, Ayu Chen mematikan mesin mobil. 

Baca juga: Mahkota Para Bayangan

Ia tidak segera turun, tangannya masih menggenggam kemudi. Tatapannya kosong menembus kaca depan.

"Apa sebenarnya yang sedang kalian rencanakan?" keluh Ayu Chen.

Tak ada jawaban hanya kesunyian sore yang perlahan berubah menjadi malam.

Beberapa menit kemudian, Ayu Chen keluar dari mobil. Ia membuka pintu rumah menggunakan kunci yang masih disimpannya.

Ruang tamu tampak lengang, ia menjatuhkan tubuh ke sofa, Jam dinding berdetak pelan. Semakin lama menunggu rasa penasaran berubah menjadi kegelisahan.

Lalu kegelisahan itu perlahan menjelma menjadi amarah. Di sisi lain Bahar Khan sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di rumahnya.

Ia masih larut dalam pembahasan bersama para sahabat lamanya. Tanpa disadarinya, seseorang telah lebih dulu menyiapkan badai yang akan menyambut kepulangannya.

*)Oleh: Roy Arudam

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru