Oleh Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan.
Ketua DPD AFEBSI Jatim.
Surabaya, JatimUPdate.id - Layar ponsel saya berpendar di tengah kesunyian malam. Sebuah pesan WhatsApp dari Ibu Dr. Yovita, Rektor UNTAG Banyuwangi, memecah hening: "Pak... Bu Maheni lulus doktor."
Kalimat itu singkat, tapi getarannya sanggup menghentikan jemari saya sejenak.
Ada rasa hangat yang menjalar. Saya segera menelusuri lini masa, dan di sana saya melihatnya: *Ibu Dr. Maheni Ika Sari, S.E., M.M.*—seorang Dekan, seorang kolega di AFEBSI Jatim—berdiri tegak di podium pascasarjana Universitas Jember. Ia baru saja menuntaskan ujian doktornya.
Saya tersenyum, bukan sekadar merayakan bertambahnya satu gelar di belakang nama.
Saya tersenyum karena kabar ini adalah sebuah anomali yang indah bagi logika awam: Mengapa seseorang yang sudah berada di puncak kepemimpinan fakultas masih mau merunduk, menjadi mahasiswa lagi?
Mengapa ia masih bersedia bergelut dengan tumpukan jurnal yang melelahkan, revisi yang tak kunjung usai, dan debat intelektual yang menguras sisa-sisa energi di sela kesibukan jabatan?
Jawabannya tersimpan dalam sel terdalam keberadaan kita. Itulah DNA seorang dosen.
Bagi seorang dosen, belajar bukanlah sebuah fase yang bisa diselesaikan. Ia bukan garis finis yang ditandai dengan toga dan ijazah. Menjadi dosen adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah untuk menjadi "mahasiswa abadi."
Gelar doktor bukanlah titik henti. Ia justru "pintu masuk" menuju ruang tanggung jawab yang lebih gelap jika tidak diterangi. Ia adalah mandat untuk membaca lebih dalam, meneliti lebih jujur, dan membimbing dengan lebih bijaksana.
Orang Jawa menitipkan sebuah azimat filosofis: Urip iku Urup.
Hidup itu adalah nyala.
Baca juga: Bamsoet Dorong Pemerintah Perkuat Implementasi Perlindungan Hak Pendidikan Penyandang Disabilitas
Ilmu pengetahuan, jika hanya disimpan untuk diri sendiri, hanyalah tumpukan kertas mati. Ia baru benar-benar "hidup" ketika ia menjadi cahaya (urup) yang menerangi ruang-ruang kuliah yang dingin, menghidupkan dialektika, dan memberi solusi bagi masyarakat yang sedang buntu. Gelar hanyalah identitas akademik, namun kebermanfaatan adalah identitas kemanusiaan.
Saya teringat Etienne Wenger yang bicara tentang Communities of Practice. Kita bertumbuh bukan karena kita pintar sendirian di dalam gua, melainkan karena kita saling berbenturan gagasan dalam komunitas. Kita bertumbuh karena kita berani mengakui bahwa di atas langit masih ada langit.
Seperti konsep Growth Mindset dari Carol Dweck, seorang dosen yang sejati selalu menyisakan ruang kosong di gelasnya. Itulah mengapa seorang Dekan tetap merasa nyaman duduk di kursi mahasiswa. Karena bagi mereka, jabatan adalah titipan, tapi belajar adalah napas.
Perjalanan ini memang tak mengenal garis finis.
Setelah doktor, ada cakrawala baru yang menanti: publikasi yang lebih berdampak, pengabdian yang lebih menyentuh akar rumput, hingga tangga Guru Besar. Namun, semua itu bukan tentang pengejaran status, melainkan upaya memperbesar kapasitas diri untuk melahirkan ilmu yang menyelamatkan peradaban.
Kampus yang besar bukanlah kampus yang hanya memoles gedung hingga megah. Kampus yang besar adalah tempat di mana tradisi membaca adalah kewajiban, meneliti adalah kegembiraan, dan belajar adalah detak jantungnya.
Pesan singkat dari Bu Rektor malam tadi bukan sekadar kabar kelulusan. Itu adalah pengingat bagi saya, bagi Anda, dan bagi kita semua: Bahwa seorang dosen tidak pernah benar-benar lulus dari kehidupan sebagai murid.
Baca juga: Bamsoet Tegaskan Korporasi Bisa Dipidana, Reformasi KUHP Perkuat Akuntabilitas Dunia Usaha
Kita hanya berpindah ruang ujian. Dari ruang sidang yang formal, menuju ruang kehidupan yang sesungguhnya.
Selamat untuk Ibu Dr. Maheni Ika Sari. Terima kasih telah mengingatkan kami bahwa ilmu haruslah bermuara pada Memayu Hayuning Bawana—memperindah dunia dan merawat kehidupan.
Karena pada akhirnya, DNA kita bukan sekadar mengajar.
DNA kita adalah belajar tanpa henti, berkarya tanpa lelah, dan berbagi tanpa pamrih.
Sebab Urip iku Urup. Dan hanya dalam nyala itulah, kita menemukan kemuliaan.
Editor : Redaksi