"Harga adalah apa yang harus Anda bayar, dan nilai adalah apa yang harus Anda dapatkan!"
Hidup semakin sulit semua pada naik, pendapatan tidak terderek naik juga. Itu jare kerumunan para penikmat kopi pagi ini!
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Lain lagi kata Mbah Darmo. "Urip ket mbiyen yo ngono kuwi, tapi yo aman ayom ayem ae nganti saiki, katanya sambil ngudud rokok kreteg mbuh merek rokok e!"
Dan aku hanya mampu mengiyakan kedua pemikiran itu. Karena apa? Ya, karena aku mengalaminya. Yang menjadi pembedanya, sudah jadi habitku saja, aku lebih memilih ambil sisi positifnya saja untuk setiap kejadian yang dialami, berlama-lama terlibat dan jadi pikiran, aku tak mau tak ada mupangate. Meski benar harga rempah-rempah, sembako, dan segala kebutuhan dapur lainnya, naiknya sangat siginifikan, masif, dan terstruktur. Gayamu mas AAS, diksi pilihan kalimat yang kamu buat sudah kayak pengamat sosial Ibu Kota saja! Lha wong pean gor dodolan sego goreng ae, lan kadang ngojek. Mungkin di benak Anda berpikir demikian!
Pagi-pagi benar aku sudah meluncur pergi ke pasar, sendirian kali ini. Bahan-bahan yang dibeli untuk kebutuhan masak nasi dan mie goreng MBAH JOYO sudah tertulis rapi di secarik kertas, hanya harga-harganya saja yang tidak rapi, naik sangat signifikan. Semua sembako yang aku beli! Ini bukan soal menjawab hasil hipotesis penelitian. Hanya membatin saja, harga per porsi nya Mbah Joyo nanti, terus aku mau jual berapa ya per porsinya? Kulakan ae wis semono larange, mosok podo regone? Emplok en wis!
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Apakah ada pengaruh antara kenaikan harga BBM dengan harga kebutuhan bahan dapur? Itulah pertanyaan penelitian atau rumusan masalah yang bisa dibuat untuk bahan mahasiswa skripsi! Rasah diteliti, wis nyoto tenan terbukti pangaruhe esuk iki ning Pasar Soponyono! Cie cie cie.
"Terus kate laopo, jare Mbah Darmo?" Kuat dilakoni ra kuat tinggal ngopi. Mbah Darmo karena pengalaman hidupnya yang panjang, ia mampu berkata yang demikian. Segala persoalan hidup yang ia alami mampu ia nikmati, atau kalaulah dimintai pendapat terhadap fenomena kekinian yang terjadi, ia selalu berpendapat dan memilih aspek, dan pikiran yang cenderung positif, agar dapat melanjutkan perjalanan hidup yang masih panjang! Lain Mbah Darmo, lain bagi para penikmat kopi yang rata-rata masih berusia muda dan pemuda, masih baru saja menjadi keluarga muda. Istri satu anak satu, rata-rata mulai rada pening mereka! Asline penulisnya juga mengalaminya, tapi ia pendukung ideologine Mbah Darmo, yang pagi ini sama-sama sedang menikmati kopi usai kulakan belanja bumbu dapur tadi di pasar.
Aku jadi ingat para leluhur kita dahulu juga pernah ngendikan: sing penting obah mengko lak mamah! bergerak menambah keranjang sumber penghasilan, mestinya layak dicoba, agar mampu menyelesaikan problem pening kepala yang dialami! Tapi, keluar dari zona nyaman, adalah problem tersendiri lainnya, yang kadang kala, manusia rada bebal untuk melakukan itu! Kadung PW soalnya, alias posisi wenak!
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Obrolan di warung kopi pagi ini. Bila aku lanjutkan tulisannya, bisa memanjang, melebar, dan meninggi, setinggi-tingginya. Bisa keluar banyak teori manajemen, pemasaran, dan teori perilaku nantinya. Dan itu bukan keahlian ku, itu ranah kaum cerdik pandai di dalam kampus sana! Bagaimana mereka selesaikan atau kasih solusi, buat menjawab obrolan seru yang terjadi di sini! Masak solusinya cukup dijelaskan soal arti dan definisi dari teori TPB atau teori plan behavior! Kepada mereka tadi. Bisa-bisa aku malah disawat gelas kopi, oleh kaum gelap mata kurang penghasilan ini, hahaha!
Ah, sudahlah. Sepertinya aku kudu segera pulang ke rumah. Dan langsung nguleg bumbu di dapur saja. Karena hari Sabtu nanti, Mbah Joyo, dapat pesanan banyak! Sepertinya ini adalah cara saya buat menambah keranjang penghasilan, selain penghasilan dari keranjang utama selaku seorang fasilitator, teman berdiskusi mahasiswa di dalam kelas kuliah!
Editor : Yuris. T. Hidayat