Menengok Sekolah Rakyat Kedung Cowek, Saat Harapan Anak-anak Tumbuh dari Asrama

Reporter : Ibrahim
Michael Leksodimulyo bersama salah satu Taruna AL di Sekolah Rakyat Kedung Cowek, dok Jatimupdate.id

Surabaya,JatimUPdate.id -Suasana siang di Sekolah Rakyat Kedung Cowek, Surabaya, tampak berbeda. Di lorong-lorong asrama yang masih beraroma bangunan baru, sejumlah anak tampak beraktivitas dengan tertib.

Ruang belajar tertata rapi, tempat tidur berjajar bersih, sementara fasilitas olahraga hingga ruang ibadah telah disiapkan.

Baca juga: Viral Dugaan Eksploitasi Anak, Komisi D Tekankan Penyempurnaan Perda Perlindungan Anak 

Belum lama diserahterimakan pemerintah, sekolah berasrama yang digagas Kementerian Sosial itu mulai menjalankan misinya membentuk generasi dari keluarga kurang mampu.

Pemandangan itu disaksikan langsung Anggota Komisi D DPRD Surabaya Michael Leksodimulyo bersama jajaran Komisi D saat meninjau sekolah tersebut, Selasa (4/8).

Baginya, kesan pertama yang muncul adalah kelengkapan fasilitas yang jauh melampaui bayangannya.

"Ini pertama kali kami melihat langsung. Sekolahnya begitu bagus, tempatnya juga sangat baik, termasuk peralatan yang disiapkan. Padahal sekolah ini baru beberapa hari diserahterimakan," kata Michael, kepada JatimUPdate,  Selasa (4/8).

Ia melihat kebutuhan dasar anak-anak telah dipenuhi. Makanan disediakan tiga kali sehari. Sarana belajar tersedia lengkap. Pembinaan karakter pun dipadukan dengan pembinaan kerohanian.

Setiap pekan, siswa muslim dijadwalkan mengikuti kegiatan mengaji sebanyak tiga kali. Sementara siswa nonmuslim juga difasilitasi menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, termasuk beribadah di gereja.

Menurut Michael, pola pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya menekankan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kebiasaan hidup mandiri. Kebersihan menjadi bagian dari proses pendidikan.

Di dalam lingkungan sekolah, para siswa bertanggung jawab menjaga kebersihan kamar, asrama, hingga ruang belajar mereka sendiri. Guru pun melakukan hal serupa. Mereka memiliki jadwal piket membersihkan ruang guru sebagai teladan bagi para siswa.

"Di dalam menjadi tanggung jawab anak-anak supaya mereka belajar mandiri. Guru-guru juga memberikan contoh dengan menjaga kebersihan ruang guru secara bergiliran," katanya.

Di setiap ruang belajar juga tersedia meja panjang yang dapat dimanfaatkan siswa mengerjakan pekerjaan rumah, berdiskusi, maupun belajar bersama setelah kegiatan sekolah selesai.

Baca juga: Cak Yo Dorong Tiap Kelurahan Punya Mini Excavator untuk Cegah Banjir

Fasilitas olahraga pun telah tersedia untuk menunjang aktivitas fisik para siswa.

Michael juga menyoroti keberadaan para pembina dari Taruna Angkatan Laut asal Cilegon yang ikut mendampingi pembentukan karakter para siswa. Menurutnya, kehadiran para pembina tersebut menjadi nilai tambah dalam membangun disiplin sejak dini.

"Karakter yang ingin dibangun sangat jelas, mulai dari kedisiplinan, menjaga kebersihan, integritas, hingga rasa tanggung jawab. Saya salut dengan konsep pembinaan seperti ini," tuturnya.

Kendati begitu, ia mencatat masih ada sejumlah kebutuhan yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya rasio pembimbing dengan jumlah siswa yang belum ideal.

Menurutnya, satu pembimbing seharusnya mendampingi sekitar 15 anak. Namun karena keterbatasan sumber daya manusia, saat ini seorang pembimbing harus menangani lebih dari 20 anak.

Selain itu, Michael menilai sekolah masih membutuhkan beberapa fasilitas pendukung seperti ruang UKS dan sarana penataan serta kebersihan area luar sekolah.

Baca juga: Revitalisasi Pasar Baktiono Minta Pemkot Gandeng Swasta Tak Gunakan Dana APBD

Dalam kunjungan itu, Michael juga sempat menanyakan kondisi psikologis para siswa, terutama anak-anak jenjang sekolah dasar yang baru pertama kali tinggal di asrama.

Menurut pengelola, sebagian anak memang sempat merindukan orang tua mereka. Namun sekolah telah mengatur jadwal kunjungan keluarga agar proses adaptasi tetap berjalan dengan baik.

Bagi Michael, Sekolah Rakyat merupakan salah satu upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

"Kalau anak-anak ini diberi kesempatan menjadi mandiri sejak kecil, maka keluarga mereka juga akan ikut berdaya. Dari bibit-bibit inilah kita menyiapkan penerus bangsa yang kelak bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi," katanya.

Ia pun mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Sosial, Dinas Sosial Surabaya, para pembina dari Taruna Angkatan Laut, tenaga pendidik, petugas pembangunan, hingga seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat Kedung Cowek.

Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial. Sementara proses penjaringan peserta didik dilakukan oleh Dinas Sosial Surabaya dengan menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu agar memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik dan masa depan yang lebih mandiri. (Roy/mmt)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru