Stasiun Bangil Pasuruan, 15 September 2026

Tanda Tangan, Doa, dan Perjalanan Panjang

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto, S.T.P., M.M.

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Wasekjen IDEI (Insan Doktor Ekonomi Indonesia)


Bangil, Pasuruan, JatimUPdate.id -

Malam telah turun di Bangil.

Sehabis mengajar di dua kelas, langkah kembali ke ruang dekan. Duduk sejenak, menyimak fenomena yang disuguhkan semesta sebagai cermin kecil kehidupan hari ini.

Tak lama kemudian, *Pak Mustofa dari BAAK* datang membawa sejumlah ijazah mahasiswa Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan. Beberapa pekan lagi, mereka akan mengikuti wisuda.

Ijazah itu dibuka satu per satu. Nama demi nama. Tanda tangan pun dibubuhkan perlahan.

Sebuah pekerjaan yang tampak sederhana—rutinitas administratif yang harus diselesaikan sebelum lembar-lembar itu sampai ke tangan pemiliknya. Namun malam tadi, entah mengapa, setiap goresan tinta terasa menyimpan cerita tersendiri.

Di balik satu nama, ada seseorang yang pernah datang ke kampus sebagai mahasiswa. Pernah duduk di ruang kelas. Mengerjakan tugas. Menghadapi ujian. Berdiskusi dengan teman. Bertemu dosen.

Mungkin ia pernah lelah. Mungkin pernah ragu. Atau mungkin pernah bertanya-tanya, kapan fase ini akan sampai pada ujungnya.

Kini, satu tahap hampir rampung. Sebentar lagi toga dikenakan. Foto diabadikan. Nama dipanggil. Ijazah diserahkan. Lalu, semuanya bergerak kembali ke panggung kehidupan masing-masing.

Di sela tanda tangan yang terus berjalan, ada doa yang dirapalkan dalam diam.

Semoga setiap anak didik dan lulusan FHB ITB Yadika Pasuruan kelak menjadi sarjana yang sujana—bukan sekadar mereka yang menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar, melainkan insan yang mampu membumikan ilmunya dengan baik di tengah masyarakat.

Semoga ilmu itu menjadi bekal. Semoga langkahnya dimudahkan, rezekinya dilapangkan, dan mimpi-mimpi besarnya menemukan jalan. Serta semoga apa pun yang dikerjakannya kelak membawa manfaat bagi diri, keluarga, dan sesama.

Sebab, selepas wisuda, kehidupan dimulai dengan cara yang sama sekali berbeda.

Tidak ada lagi jadwal kuliah yang tersusun rapi. Tidak ada lagi kalender akademik yang menentukan kapan sebuah semester bermula dan berakhir. Yang tersisa adalah bentang jalan panjang dengan persimpangan yang kerap tak terduga.

Ada yang menjadi profesional. Ada yang membangun usaha. Ada yang melanjutkan studi. Ada yang mengabdi. Ada pula yang mungkin harus menempuh rute yang tak pernah direncanakan semasa kuliah dulu.

Setiap orang memang memiliki garis edarnya sendiri. Dan barangkali, begitulah hakikat kehidupan: kampus hanyalah tempat persinggahan untuk mempersiapkan diri menghadapi perjalanan yang lebih luas. Sementara ijazah hanyalah tanda bahwa sebuah pos telah terlewati. Makna sejati justru ditentukan oleh langkah-langkah setelahnya.

Malam semakin larut. Tumpukan ijazah kembali tersusun rapi. Tanda tangan telah usai.

Dari ruang dekan, langkah berlanjut menuju Stasiun Bangil. Duduk menunggu kereta, pikiran kembali melayang pada nama-nama yang baru saja diteken.

Menarik sekali. Tanda tangan itu hanya butuh beberapa detik untuk diselesaikan. Namun bagi pemilik nama di atas kertas tersebut, ia adalah babak baru dari narasi hidup yang panjang.

Di peron stasiun, orang-orang datang membawa kisah masing-masing. Ada yang baru tiba, ada yang hendak pulang, ada yang menunggu, ada yang bersiap memulai petualangan baru, dan ada pula yang mungkin belum tahu persis ke mana rel ini akan membawa mereka.

Kereta datang dan pergi. Begitu pula manusia.

Sesuatu yang selesai hari ini selalu membuka ruang bagi babak baru esok hari. Di situlah esensi paling sederhana dari sebuah ijazah: ia bukan garis finis, melainkan sebuah penanda bahwa seseorang pernah menapaki satu jalan, dan kini bersiap menempuh jalan berikutnya.

Malam ini, tangan telah berhenti menorehkan tanda tangan. Namun doa-doa tidak pernah berhenti berjalan.

Semoga mereka menemukan jalannya.
Semoga ilmu tak berhenti sekadar menjadi gelar.
Semoga ikhtiar menemukan takdir terbaiknya. Dan semoga, di mana pun kehidupan menempatkan mereka, selalu ada nilai dari kampus yang turut tumbuh: ilmu, kenangan, dan keberanian untuk melangkah.

Kereta pun tiba. Perjalanan malam dilanjutkan.

Sementara di sebuah ruang sunyi di kampus, beberapa lembar ijazah telah rampung ditandatangani. Di balik setiap nama di sana, terselip satu harapan sederhana: semoga perjalanan setelah ini jauh lebih berarti.

Aamiin.