Serial Urip Iku Urup, Pasuruan, (5/03/026)
Doktor, Energi Kolektif, dan Masa Depan FHB ITB Yadika Pasuruan
Oleh : Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Pasuruan, JatimUPdate.id - Di sebuah sore yang hangat, selepas kelas-kelas dituntaskan dan menjelang waktu berbuka, obrolan ringan mengalir di emper kampus Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan.
Tidak ada forum resmi. Tidak ada mimbar akademik. Hanya percakapan sederhana di antara dosen-dosen muda lintas program studi—manajemen, akuntansi, dan hukum. Namun dari percakapan itulah, muncul kesadaran yang tidak sederhana: fakultas ini sedang bergerak.
Hari ini, Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan telah memiliki dua doktor ilmu manajemen.
Beberapa hari lalu, bertambah satu doktor ilmu akuntansi setelah Dr. Tyas menuntaskan studi doktoralnya di Universitas Airlangga.
Di belakangnya, enam kandidat doktor lainnya tengah berjibaku dalam sunyi: satu di Universitas Brawijaya, tiga di Ubaya, dan dua di kampus-kampus Malang.
Ini bukan sekadar statistik akademik. Ini adalah tanda-tanda kebangkitan intelektual.
Gelar doktor sering kali dipahami sebagai puncak prestise personal. Padahal sejatinya, ia adalah infrastruktur intelektual bagi sebuah institusi.
Doktor bukan sekadar tambahan tiga huruf di belakang nama. Ia adalah simbol kedalaman berpikir, ketekunan metodologis, dan ketangguhan dalam menguji gagasan.
Di dalamnya ada disiplin, ada kesabaran, ada keberanian untuk bergulat dengan teori dan realitas. Tanpa peningkatan kualitas sumber daya dosen, fakultas akan berjalan di tempat—mengulang materi, memutar rutinitas, tetapi tidak melompat.
Karena itu, membangun atmosfer akademik bukan pilihan, melainkan keniscayaan. Atmosfer akademik adalah ruh perguruan tinggi. Tanpa itu, kampus hanya menjadi bangunan dengan jadwal kuliah yang tertib, tetapi miskin percikan gagasan. Diskusi ilmiah akan mengering. Tradisi membaca dan menulis melemah. Publikasi berubah menjadi beban administratif, bukan panggilan intelektual.
Sebaliknya, ketika atmosfer akademik dirawat, kampus menjadi ruang hidup ide. Dosen terdorong membaca lebih dalam, menulis lebih tajam, dan berdialog lintas disiplin.
Prodi manajemen, akuntansi, dan hukum tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menyapa dalam diskursus ilmiah. Perbedaan perspektif bukan ancaman, melainkan kekayaan epistemik. Di situlah fakultas menemukan daya hidupnya.
Namun atmosfer akademik tidak lahir secara otomatis. Ia tumbuh dari budaya saling mendukung.
Pendidikan doktor adalah perjalanan panjang dan sering kali sunyi. Ada fase jenuh. Ada fase ragu. Ada fase hampir menyerah. Tanpa dukungan kolega, semangat mudah meredup. Karena itu, solidaritas akademik menjadi penopang utama.
Mereka yang telah menyandang gelar doktor memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong, membimbing, dan menyemangati koleganya. Bukan untuk berdiri lebih tinggi, tetapi untuk mengulurkan tangan. Bukan untuk menciptakan jarak, tetapi membangun jembatan.
Institusi tidak bertumbuh karena satu dua individu hebat. Ia bertumbuh karena *ekosistem yang sehat*, yang memuliakan proses belajar sebagai tradisi bersama.
Mengapa semua ini penting? Karena yang paling diuntungkan bukanlah para dosen itu sendiri, melainkan mahasiswa.
Mahasiswa berhak mendapatkan pengajaran yang lahir dari riset, bukan sekadar dari ringkasan buku. Mereka berhak merasakan kelas yang hidup oleh argumentasi, bukan sekadar hafalan. Mereka berhak melihat dosennya sebagai pembelajar yang terus bergerak, bukan pengulang materi.
Ketika dosen bertumbuh, mahasiswa akan melampaui batas-batas dirinya. Ketika dosen memiliki jejaring akademik yang luas, mahasiswa ikut merasakan dampaknya. Ketika budaya riset tumbuh, mahasiswa belajar berpikir sistematis dan kritis. Investasi pada dosen sejatinya adalah investasi pada masa depan generasi.
Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, fakultas-fakultas di daerah tidak boleh merasa cukup. Justru di situlah tantangannya: membangun mutu tanpa gaduh, bertumbuh tanpa banyak sorotan, tetapi konsisten. Antrian untuk kuliah S3 harus menjadi tradisi, bukan pengecualian. Ia harus menjadi kultur, bukan sekadar momentum sesaat.
Kesadaran kolektif inilah yang terasa di emper kampus sore tadi. Ada kebahagiaan yang sederhana, tetapi bermakna. Bahwa di tengah kesibukan mengajar, menyusun administrasi, dan menjalani rutinitas, masih ada hasrat untuk belajar lebih dalam. Masih ada keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Masih ada keyakinan bahwa ilmu harus terus ditinggikan.
Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan akan besar bukan karena gedungnya menjulang, melainkan karena dosen-dosennya terus meninggikan ilmunya. Gelar doktor bukanlah garis akhir. Ia adalah obor. Dan obor itu hanya bermakna jika cahayanya dibagikan.
Pada akhirnya, kampus yang hidup adalah kampus yang para pendidiknya tidak pernah merasa selesai belajar.
Sebab dalam dunia akademik, berhenti bertumbuh adalah awal dari kemunduran.
Dan mungkin, dari emper kampus yang sederhana itulah, masa depan itu sedang dirintis—pelan, sunyi, tetapi pasti.
Editor : Yuris. T. Hidayat