CAK SHOLEH PULANG

Reporter : Redaksi
Ucapan Belasungkawa Cak Sholeh

Oleh: Syafrudin Budiman, SIP

Surabaya,  JatimUPdate.id, - H. Mohammad Sholeh, SH, MH (almarhum) adalah senior saya di kampus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), sekaligus guru saya dalam politik kepartaian. Dialah yang mengajak saya berdemo, berbicara tentang politik, masuk partai, hingga menjadi seorang propagandis sejati.

Baca juga: Selamat Jalan Sholeh Nan Tak Pernah Padam

Ilmunya tingkat dewa. Sayang, ia tidak pernah benar-benar masuk ke dalam sistem.

"Susah masuk sistem kalau nggak tunduk," kata Cak Sholeh kepada saya waktu itu.

Saya justru mengatakan kepadanya bahwa saya ingin membuktikan sebaliknya. Menurut saya, seseorang tetap bisa masuk ke dalam sistem tanpa harus tunduk kepada sistem. Pola berpikir radikal dan cara berpikir kritis tetap bisa dibawa masuk ke dalam sistem, selama kita berdiri di atas kebenaran serta fakta dan data yang ada.

Kenangan tentang Cak Sholeh sudah terukir sejak kami masih sangat muda.

Saat saya berusia 19 tahun dan Cak Sholeh sekitar 23 tahun, ia pernah datang ke rumah saya dan menginap semalam di Sumenep, Madura. Saat itu kami sedang melakukan sosialisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1999.

Saya ketika itu didaulat menjadi Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik (KPK-PRD) Kabupaten Sumenep, sedangkan Cak Sholeh menjabat Ketua Komite Pimpinan Wilayah (KPW) PRD Jawa Timur.

Baru beberapa bulan mengikuti Kursus Politik (Kurpol), saya sudah didaulat menjadi ketua tingkat kabupaten. Masih bocil, tetapi sudah diberi tantangan besar. Begitulah dinamika masa muda kami dalam berpolitik.

Usai Pemilu 1999, kami sama-sama kembali ke kampus.

Cak Sholeh kemudian pindah ke Fakultas Hukum (FH) UWKS dari Program Studi Ilmu Politik. Sementara saya pindah ke Program Studi Ilmu Politik FISIP UWKS dari FKIP Bahasa Inggris.

Kami sama-sama orang Madura. Cak Sholeh berasal dari Sampang dan besar di Sidoarjo, sementara saya berasal dari Sumenep, Madura, yang kemudian tumbuh dan menjalani masa kuliah di Surabaya.

Banyak orang bahkan mengira kami bersaudara, seperti kakak dan adik. Sama-sama berkulit putih, bermata sipit, sama-sama Madura, sama-sama kuliah di FISIP UWKS, sama-sama pernah berproses di PRD, dan sama-sama memiliki kecenderungan pemikiran kiri.

Bedanya, saya berasal dari keluarga Muhammadiyah-NU (Munu), sedangkan Cak Sholeh berasal dari keluarga NU.

Perjalanan politik kami pun kembali bersinggungan pada Pemilu 2014.

Cak Sholeh maju sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Gerindra untuk Dapil Jawa Timur I dengan nomor urut 4. Sementara saya maju dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk Dapil Jawa Timur I dengan nomor urut 7.

Murid dan guru sama-sama belum berhasil menjadi anggota DPR RI. Tetapi justru dari kegagalan itu tersimpan sebuah kenangan yang tidak ternilai.

Baca juga: Inagatha Setyarahma Pangastuti: Berangkat Tanpa Peta, Pulang Bawa Gelar Advokat

Kami pernah tampil bersama dalam sebuah talk show di media televisi SBO dengan tema "Caleg Muda DPR RI."

Cak Sholeh menjadi moderator, saya menjadi salah satu narasumber, bersama Cak Suhawi, caleg DPR RI dari Partai Golkar untuk Dapil Jawa Timur VIII, serta seorang pengamat politik.

Kalau sekarang, mungkin formatnya disebut podcast di YouTube.

Kenangan itu masih tersimpan hingga hari ini.

Cak Sholeh pulang.

Pulang menghadap Sang Pencipta, meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan hidup dan politik saya. Ia bukan sekadar senior di kampus. Ia adalah guru politik, kawan seperjuangan, sekaligus salah satu orang yang turut membentuk cara saya melihat politik, kekuasaan, demokrasi, dan perlawanan.

Ada orang yang masuk ke dalam sistem dan kemudian menjadi bagian dari sistem.

Ada pula orang yang memilih tetap berada di luar sistem karena tidak ingin kehilangan prinsip.

Cak Sholeh adalah salah satu orang yang mengajarkan kepada saya bahwa politik tidak semata-mata tentang jabatan dan kekuasaan. Politik juga tentang keberanian untuk berpikir, bersuara, melawan ketidakadilan, dan mempertahankan keyakinan.

Baca juga: Tunda Aksi 3 September, Cak Sholeh: Isu Kami Bukan Nasional, Tapi Tiga Persoalan Lokal di Jawa Timur

Selamat jalan, Guru Politik.

Guru yang memilih tidak pernah benar-benar tunduk kepada sistem politik.

Semoga segala perjuangan, ilmu, gagasan, dan kebaikan yang pernah ditanamkan menjadi amal jariyah.

Satu Perlawanan, Satu Perubahan.

Rebut Demokrasi.

 

Syafrudin Budiman, SIP

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru