KPU Bondowoso Bedah Buku Demokrasi Elektoral, Demokrasi Dilatih lewat Ruang Publik

Reporter : M Aris Effendi
Ketua KPU Kabupaten Bondowoso Sudaedi bersama narasumber dan jajaran KPU usai kegiatan Bedah Buku Seri 1, Rabu (19/8/2026).

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bondowoso menjadikan bedah buku sebagai ruang untuk mendiskusikan persoalan demokrasi sekaligus melatih praktik dialog publik. Hal itu dilakukan melalui Bedah Buku Seri 1 yang membahas buku Demokrasi Elektoral: Esensi, Problem, dan Gagasan Pembaruan karya Dr. H. Ahmad Hudri, S.T., M.AP., Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang digelar secara hybrid tersebut diikuti sekitar 145 peserta. Selain jajaran internal KPU Kabupaten Bondowoso dan perwakilan Bawaslu Bondowoso yang hadir secara luring, peserta daring berasal dari sejumlah KPU kabupaten/kota, masyarakat umum, hingga beberapa peserta dari luar Jawa.

Baca juga: Bukan Dinastinya, Melainkan Monopolinya

Ketua KPU Kabupaten Bondowoso, Sudaedi, mengatakan bedah buku tidak berhenti pada pembahasan isi buku. Menurut dia, forum semacam itu juga dapat menjadi ruang publik untuk membiasakan masyarakat bertukar gagasan secara terbuka.

Sudaedi merujuk pemikiran Jürgen Habermas mengenai ruang publik sebagai salah satu prasyarat demokrasi deliberatif. Dalam ruang tersebut, warga dapat bertukar pikiran secara setara, bebas dari dominasi kekuasaan, dan berorientasi pada kepentingan bersama.

“Bedah buku adalah salah satu bentuk ruang publik yang paling konkret, setara, rasional dan terbuka. Di sinilah demokrasi dilatih secara mikrokosmik,” kata Sudaedi.

Menurut Sudaedi, demokrasi tidak hanya berkaitan dengan proses pemungutan suara atau penyelenggaraan pemilu. Demokrasi juga tercermin dalam cara seseorang menyampaikan pendapat dan menyikapi pandangan yang berbeda.

“Kita belajar mendengar, menunggu giliran, menghargai perbedaan pendapat, dan menerima bahwa kebenaran tidak tunggal,” ujarnya.

Baca juga: Menuju Negara Maju: Demokrasi atau “Otoritarian”

Dalam forum tersebut, Ahmad Abu Sufyan, S.I.P., M.Si. hadir sebagai narasumber. Abu Sofyan menjadi pemantik diskusi, sedangkan Moh. Ilyas PA bertindak sebagai moderator.

Diskusi berlangsung dengan melibatkan berbagai perspektif, mulai dari akademisi, penyelenggara pemilu, jajaran KPU dan Bawaslu, hingga masyarakat umum. Persoalan demokrasi elektoral, tantangan penyelenggaraan pemilu, serta gagasan pembaruan demokrasi menjadi sejumlah isu yang dibahas.

Kehadiran peserta dari berbagai daerah, termasuk beberapa peserta dari luar Jawa, memperluas ruang pertukaran gagasan dalam kegiatan tersebut. Forum yang awalnya membahas sebuah buku kemudian berkembang menjadi ruang untuk melihat persoalan demokrasi dari beragam sudut pandang.

Bagi KPU Kabupaten Bondowoso, kegiatan semacam ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan kepemiluan sekaligus membangun kebiasaan berdiskusi secara terbuka.

Baca juga: PWI dan AFPI Perkuat Literasi Pindar, Pers Didorong Jadi Garda Terdepan Edukasi Publik Lawan Pinjol Ilegal

Sebab, demokrasi tidak hanya berlangsung di ruang-ruang formal penyelenggaraan pemilu. Demokrasi juga tumbuh dalam ruang publik ketika orang bersedia mendengar, berbeda pendapat, dan tetap membuka ruang untuk berdialog.

Melalui Bedah Buku Seri 1, KPU Kabupaten Bondowoso merawat ruang tersebut melalui literasi dan pertukaran gagasan.

Kegiatan Bedah Buku KPU Kabupaten Bondowoso akan berlanjut ke Seri 2 pada Rabu (26/8/2026), dengan membahas buku Partisipasi dalam Perancangan Dapil dan Alokasi Kursi DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota pada Pemilu 2024 karya Mada Sukmajati, Erik Kurniawan, dan Denny Saputra Siallagan. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru