Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.
Baca juga: Alkimia Karakter: Menjahit Niat dan Aksi di Tanah Nusantara
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Surabaya, JatimUPdate.id - Petang ini, sebuah video yang beredar di grup WhatsApp tiba-tiba memantik *krenteg* untuk menulis.
Terlihat Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi atau KDM, ikut bermain panjat pinang bersama masyarakat dalam suasana perayaan kemerdekaan bulan Agustus.
Pemandangan sederhana, tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul sebuah pertanyaan: apa yang membuat seorang pemimpin terlihat dekat dengan rakyat?
Tagline yang mungkin segera muncul adalah, “Luar biasa, KDM gubernur yang merakyat!”
Boleh jadi benar. Tetapi ada sesuatu yang terasa lebih dalam daripada sekadar merakyat: otentik.
Pemimpin otentik bukan pemimpin yang sibuk terlihat merakyat. Ia memang menjadi dirinya sendiri ketika berada di tengah rakyat. Tidak ada jarak antara apa yang diyakini, apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan.
Karena itu, keotentikan tidak mudah ditiru.
Seorang pemimpin bisa saja melihat pemimpin lain turun ke lapangan, makan bersama rakyat, bercanda, bermain dalam sebuah perlombaan, kemudian mencoba melakukan hal yang sama.
Namun ketika tindakan itu bukan bagian dari karakter dirinya, yang muncul justru bisa terasa “wagu”.
Tidak salah, tetapi tidak nyaman dilihat. Sebab yang ditiru adalah perilakunya, bukan nilai yang melahirkan perilaku tersebut.
Di sinilah letak pentingnya authentic leadership.
Dalam kajian kepemimpinan, keotentikan berkaitan dengan kesadaran pemimpin terhadap dirinya, kemampuan mengelola dirinya, serta keselarasan antara nilai dan tindakan.
Avolio dan Gardner bahkan menempatkan self-awareness dan self-regulation sebagai bagian penting dalam pengembangan pemimpin otentik.
Menariknya, jika menengok sejarah bangsa, bumi Nusantara sebenarnya memiliki banyak contoh kepemimpinan yang memperlihatkan karakter personal yang kuat.
Bung Karno, misalnya, bukan hanya dikenal karena kemampuan orasinya yang membakar semangat. Ada cerita tentang dirinya yang datang ke tukang cukur langganan tanpa harus selalu dibungkus protokol kenegaraan.
*Bung Hatta* memiliki kisah berbeda. Kesederhanaannya bahkan sering dikenang melalui cerita tentang impian membeli sepatu Bally yang akhirnya tidak pernah terwujud. Bukan karena tidak mengenal kemewahan, tetapi karena ada nilai yang lebih besar yang membuat keinginan pribadi berada di belakang kepentingan bangsa.
Sementara Bung Sjahrir memperlihatkan wajah lain dari kepemimpinan. Dalam keterasingan dan penjara, ia tetap mampu melahirkan tulisan-tulisan yang jernih.
Kekuasaan mungkin dapat membatasi tubuh, tetapi tidak selalu mampu membelenggu pikiran.
Tiga tokoh itu tentu memiliki karakter yang berbeda. Tidak perlu ditiru gaya hidup, gaya bicara, ataupun gaya kepemimpinannya. Justru di situlah pelajarannya: pemimpin besar tidak lahir karena menjadi copy paste dari pemimpin lain.
Baca juga: Menjinakkan Jalanan Surabaya : Saat Kota Pahlawan Merajut Masa Depan Anak
Mereka memiliki karakter.
Karakter itulah yang membuat kepemimpinan memiliki suara.
Hari ini tantangannya semakin menarik. Di tengah era disrupsi, media sosial, pencitraan digital, bahkan mesin kecerdasan, manusia semakin mudah memproduksi citra dirinya. Bahasa dapat dibuat lebih meyakinkan.
Foto dapat dikurasi. Video dapat diedit. Bahkan gaya komunikasi seorang pemimpin dapat dipelajari dan direplikasi oleh mesin.
Tetapi ada sesuatu yang tetap sulit dipalsukan: *keaslian karakter.*
Rakyat pada akhirnya bukan hanya melihat apa yang dilakukan seorang pemimpin di depan kamera. Rakyat juga membaca konsistensi: apakah yang diucapkan sama dengan yang dikerjakan, apakah nilai yang dibicarakan juga hadir dalam keputusan, dan apakah wajah di depan publik sama dengan wajah ketika tidak sedang ditonton.
Pemimpin otentik tidak berarti pemimpin tanpa kekurangan. Ia juga manusia yang bisa salah, bisa belajar, bahkan bisa berubah. Namun perubahan itu tetap memiliki akar nilai yang jelas.
Maka, pemimpin yang sesungguhnya bukanlah mereka yang paling pandai memainkan peran sebagai pemimpin. Bukan pula mereka yang paling sibuk terlihat dekat dengan rakyat.
Pemimpin yang kuat adalah mereka yang *tidak perlu memainkan peran*.
Ia hadir sebagai manusia, memimpin sebagai dirinya sendiri, tetapi mengabdikan kekuasaannya untuk kepentingan yang lebih besar daripada dirinya.
Bukan kelompoknya.
Baca juga: PT PAL Bakal Memulai Produksi Kapal Selam Siluman Scorpène Evolved
Bukan partainya.
Bukan kepentingan lingkarannya.
Melainkan rakyat dan bangsanya.
Mungkin inilah salah satu warisan kepemimpinan yang perlu terus dirawat dari bumi Nusantara: *menjadi diri sendiri, tetapi hidupnya diabdikan untuk kepentingan orang banyak.*
Sebab pada akhirnya, keotentikan tidak membutuhkan banyak kata.
Ia cukup terlihat dari keselarasan antara pikiran, perkataan, tindakan, dan batin.
Dan ketika keempatnya bertemu, seorang pemimpin tidak sekadar terlihat merakyat.
Ia menjadi manusia yang dipercaya rakyat.
Editor : Redaksi