Oleh: Salihudin
Mantan Aktivis HMI Cabang Palu
Baca juga: Malam Itu Ada Pesan Civil Society dekat Venue Muktamar
Palu, JatimUPdate.id - Sebenarnya saya malas menanggapi pernyataan Muhaimin Iskandar yang mengatakan bahwa NU terpuruk dalam lima tahun terakhir karena dipimpin alumni HMI.
Bukan apa-apa. Masih banyak urusan yang menurut saya lebih penting untuk dipikirkan. Ekonomi sedang tidak mudah. Lapangan kerja masih menjadi soal. Ketimpangan belum selesai. Korupsi masih bikin sakit kepala. Dunia sedang berubah cepat. AI datang membawa revolusi baru. Belum lagi berbagai persoalan politik dan demokrasi kita.
Masa iya energi kita habiskan untuk memeriksa dahulu seseorang waktu mahasiswa pakai jaket warna apa?
Tetapi beberapa hari terakhir saya melihat banyak senior, terutama mantan aktivis HMI, ikut berkomentar. Ada yang marah. Ada yang jengkel. Ada juga yang menanggapinya sambil tertawa.
Begitulah alumni HMI. Kadang kalau marah pun masih sempat bikin lelucon.
Tetapi dari berbagai lelucon itu saya menangkap satu hal: mereka kecewa.
Akhirnya saya berpikir, baiklah. Kita tanggapi sedikit. Tidak usah terlalu tegang. Anggap saja diskusi warung kopi. Tetapi karena yang dipersoalkan organisasi besar seperti NU dan HMI, kopinya boleh santai, logikanya jangan ikut encer.
Jangan-jangan HMI Terlalu Hebat
Saya justru agak terkejut dengan pernyataan Muhaimin. Bukan karena tersinggung. Saya malah hampir bangga.
Bayangkan. NU adalah salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Usianya sudah satu abad. Punya ribuan pesantren, kiai, ulama, perguruan tinggi, badan otonom, lembaga, struktur organisasi sampai ke desa-desa dan jaringan sosial yang luar biasa luas.
Lalu seluruh organisasi sebesar itu dikatakan bisa terpuruk hanya gara-gara dipimpin seseorang yang pernah menjadi aktivis HMI.
Waduh.
Kalau benar begitu, berarti HMI hebat sekali.
Saking hebatnya, cukup seorang alumninya duduk sebagai ketua umum, organisasi sebesar NU bisa terguncang.
Saya sendiri sebagai mantan aktivis HMI malah tidak berani memberikan klaim sebesar itu kepada HMI.
Karena saya tahu organisasi sosial tidak bekerja sesederhana itu.
Dalam ilmu sosial, menjelaskan suatu keadaan dengan menunjuk satu faktor tanpa menguji faktor-faktor lain adalah penyederhanaan berlebihan. Dalam logika kausalitas, fakta bahwa A hadir bersamaan dengan B tidak otomatis membuktikan bahwa A menyebabkan B.
Bahasa warung kopinya lebih gampang: kebetulan ada alumni HMI di sana, bukan berarti semua masalah datang dari HMI.
Kalau Begitu, Mari Kita Pakai Logika yang Sama
Sekarang mari sedikit nakal.
Kalau seorang alumni HMI memimpin NU kemudian NU dianggap bermasalah, lalu HMI ikut dianggap sebagai penyebabnya, kita harus konsisten memakai logika tersebut.
Kalau seorang alumni PMII menjadi pejabat lalu kementeriannya bermasalah, apakah PMII harus diperiksa?
Kalau alumni GMNI menjadi kepala daerah lalu daerahnya bangkrut, apakah GMNI harus meminta maaf?
Kalau alumni HMI menjadi gubernur lalu daerahnya maju, apakah HMI boleh datang membawa spanduk:
“Keberhasilan ini adalah hasil perkaderan HMI”?
Tentu saja tidak. Orang waras akan tertawa.
Sebab organisasi mahasiswa adalah salah satu ruang pembentukan seseorang, bukan satu-satunya variabel yang menentukan seluruh perilakunya sampai tua.
Seseorang bisa pernah menjadi aktivis HMI, PMII, GMNI, IMM atau organisasi lainnya ketika berumur dua puluhan. Setelah itu ia menjalani perjalanan hidup puluhan tahun: menjadi profesional, pengusaha, akademisi, politisi, birokrat, kiai atau pejabat.
Lalu ketika umur enam puluh tahun ia membuat keputusan yang salah, organisasi mahasiswa yang diikutinya empat puluh tahun lalu dipanggil sebagai tersangka?
Ini bukan analisis sosial.Tapi nostalgia perkaderan yang salah alamat.
NU Tidak Bisa Dijelaskan dari Satu Riwayat Organisasi
Ada satu hal lagi yang agak lucu.
Anggaplah seorang pemimpin NU memang pernah berproses di HMI. Lalu kenapa?
Apakah setelah masuk HMI ke-NU-an seseorang otomatis gugur?
Seseorang bisa tumbuh dalam tradisi pesantren dan NU, sekaligus pada masa mahasiswa berproses di HMI. Dua pengalaman sosial itu tidak harus saling menghapus.
Lebih penting lagi, Ketua Umum PBNU tidak datang ke kantor PBNU membawa surat tugas dari HMI. Ia lahir dari mekanisme internal NU sendiri.
Artinya sederhana: yang memilih pemimpin NU adalah NU sendiri.
Bukan PB HMI.Bukan KAHMI.Bukan pula alumni HMI yang sedang reuni.
Karena itu kalau suatu kepemimpinan dianggap gagal, silakan evaluasi kepemimpinannya. Tetapi jangan kemudian sejarah organisasi mahasiswa seseorang dijadikan penjelasan utama.
Kalau cara berpikir seperti itu diteruskan, nanti setiap pemilihan Ketua Umum PBNU mungkin perlu ditambah satu meja administrasi:
“Silakan serahkan ijazah, CV, kartu NU dan kartu organisasi mahasiswa puluhan tahun lalu.” Kan repot.
HMI dan NU Tidak Pernah Sesederhana Dua Kotak
Masalah lain dari narasi semacam itu adalah kecenderungannya membuat HMI dan NU seolah dua kubu yang berdiri berhadap-hadapan.
Padahal kenyataan sosial umat Islam Indonesia jauh lebih cair.
HMI adalah organisasi mahasiswa Islam. Anggotanya berasal dari berbagai latar tradisi keagamaan. Ada keluarga Muhammadiyah. Ada keluarga NU. Ada anak pesantren. Ada pula yang tidak memiliki latar organisasi keagamaan tertentu.
Karena itu fenomena orang yang secara kultural NU tetapi ketika mahasiswa aktif di HMI bukan barang aneh. Bahkan ada istilah informal NU-HMI.
NU secara tradisi keagamaan, HMI secara pengalaman kemahasiswaan. Tidak ada yang aneh.
Indonesia memang begitu. Identitas sosial kita bertumpuk-tumpuk.
Seseorang bisa NU, alumni HMI, orang Jawa, dosen, pengusaha, sekaligus penggemar sepak bola. Tidak perlu salah satunya dicabut supaya identitas lainnya sah.
Cak Nur dan Gus Dur Tidak Sesempit Itu
Karena itulah saya teringat dua nama besar: Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid.
Cak Nur adalah salah satu intelektual terbesar yang lahir dari tradisi HMI. Gus Dur adalah salah satu tokoh terbesar yang lahir dari rahim NU.
Keduanya tidak selalu sepakat.
Baca juga: Surat cinta untuk Cak Imin Dari: Anas Urbaningrum
Mereka pernah berbeda pandangan dan berdebat. Tetapi mereka bertemu dalam percakapan intelektual yang jauh lebih besar: demokrasi, pluralisme, kebangsaan, Islam, modernitas dan masa depan Indonesia.
Aktivis HMI membaca Gus Dur. Aktivis PMII membaca Cak Nur.
Dan rasanya tidak pernah ada petugas yang berdiri di perpustakaan sambil mengatakan: “Maaf, buku ini hanya boleh dibaca sesuai organisasi mahasiswa.”
Itulah indahnya dunia intelektual.
Gagasan tidak punya kartu anggota.
Argumen tidak menjadi benar karena disampaikan alumni organisasi kita. Dan argumen tidak otomatis salah karena disampaikan alumni organisasi sebelah.
Kalau NU Sedang Bermasalah, Mari Bicara Masalahnya
Saya tidak tahu apakah istilah “terpuruk” merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan NU hari ini. Itu sendiri masih bisa diperdebatkan.
Tetapi anggaplah Muhaimin benar bahwa NU sedang mempunyai persoalan serius. Mari kita buka.
Kalau persoalannya tata kelola, bicara tata kelola.Kalau persoalannya konflik elite, bicara konflik elite.Kalau persoalannya uang, bicara uang.Kalau persoalannya hubungan dengan kekuasaan, bongkar hubungan dengan kekuasaan.Kalau persoalannya keputusan kepemimpinan, kritik keputusan itu.Kalau ada pelanggaran organisasi, buka aturan organisasinya.
Itu baru terang.
Yang agak aneh adalah ketika dokter sudah melihat pasien demam, belum memeriksa darah, belum mengukur tekanan, belum melihat hasil laboratorium, tiba-tiba membuat diagnosis:“Penyebabnya dulu waktu mahasiswa ikut HMI.”
Dokternya mungkin perlu diperiksa juga.
Sedikit Pertanyaan Nakal untuk Cak Imin
Saya justru ingin bertanya kepada Cak Imin.
Kalau NU benar-benar terpuruk hanya karena dipimpin seorang alumni HMI, bukankah itu justru menimbulkan pertanyaan yang lebih serius mengenai sistem internal NU?
NU punya PMII.Punya Ansor.Punya IPNU.Punya pesantren.Punya kampus.Punya ribuan kiai.Punya jutaan warga.Punya tradisi intelektual lebih dari satu abad.
Kalau seluruh ekosistem sebesar itu bisa dibuat terpuruk hanya oleh latar belakang organisasi mahasiswa seorang ketua umum, masalahnya sebenarnya ada pada HMI atau pada sistem organisasi NU sendiri?
Nah. Sampai di sini saya berhenti.
Sebab kalau pertanyaan itu diteruskan, nanti saya dituduh mengganggu rumah tangga orang.
Padahal saya cuma lewat.
Jangan Bawa PMII ke Sini
Saya sengaja tidak ingin membalas dengan menyerang PMII.Itu terlalu mudah.
Muhaimin adalah alumni PMII. Tetapi kalau Muhaimin membuat pernyataan yang menurut saya keliru, saya tidak akan mengatakan: “Beginilah kalau alumni PMII berbicara.”
Tidak. Itu tidak adil.
PMII terlalu besar untuk dipertanggungjawabkan atas setiap kalimat Muhaimin Iskandar.Sama seperti HMI terlalu besar untuk dipertanggungjawabkan atas setiap tindakan alumninya.
Di sinilah kita harus konsisten.Kritik orangnya. Uji argumennya. Periksa kebijakannya. Jangan hukum organisasi tempat ia dahulu belajar berdebat.
HMI Juga Tidak Perlu Baper
Baca juga: HUT Ke-5 PELITA 16, Wihaji Dorong Pembinaan Atlet Muda Lewat Turnamen Tenis Meja
Kepada senior-senior HMI yang jengkel, menurut saya santai saja. Tidak perlu terlalu baper.
HMI berdiri sejak 5 Februari 1947. Umurnya hampir sepanjang Republik. Sudah melewati Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, konflik internal, perpecahan, tekanan politik dan bermacam-macam tuduhan.
Satu pernyataan Muhaimin tentu tidak akan membuat papan nama HMI jatuh.
HMI juga bukan organisasi suci.
Ada alumni HMI yang hebat. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang berhasil. Ada yang gagal. Ada yang menjadi negarawan. Ada pula yang setelah menjadi pejabat mungkin lupa sebagian isi Nilai Dasar Perjuangan.
Itu kenyataan. Begitu juga organisasi lain.
Karena tujuan perkaderan bukan memproduksi manusia tanpa kesalahan. Organisasi menyediakan nilai dan ruang pembentukan. Setelah itu manusia tetap mempunyai kehendak, kepentingan dan tanggung jawab pribadinya.
Akhirnya, Terima Kasih Cak Imin
Jadi saya tidak marah kepada Muhaimin. Malah sedikit berterima kasih.
Karena gara-gara pernyataannya, senior-senior HMI yang sudah lama tidak bicara soal HMI mendadak ingat kembali organisasi masa mudanya.
Grup WhatsApp hidup. Diskusi jalan. Kenangan perkaderan muncul. Ada yang mulai cerita Basic Training lagi. Jangan-jangan sebentar lagi ada yang mencari NDP lama di lemari. Lumayan.
Tetapi setelah semua lelucon itu selesai, ada satu hal yang menurut saya serius.
Jangan biasakan menjelaskan problem organisasi dengan identitas kelompok seseorang.
Itu berbahaya secara intelektual.
Hari ini HMI. Besok bisa PMII. Lusa Muhammadiyah. Kemudian NU. Lalu suku, daerah, kampus atau kelompok lainnya.
Kita akan kehilangan kemampuan melihat persoalan berdasarkan fakta karena sibuk mencari identitas siapa yang bisa dipersalahkan.
Kalau kepemimpinan NU salah, kritik kepemimpinannya. Kalau PBNU bermasalah, kritik PBNU. Kalau HMI bermasalah, saya pun tidak keberatan HMI dihajar dengan kritik.
Tetapi kritiklah dengan data dan argumentasi.
Jangan dengan silsilah organisasi.
Sebab NU terlalu besar untuk menjadikan HMI kambing hitam.
Dan HMI juga tidak perlu merasa terlalu hebat seolah-olah satu alumninya mampu menentukan jatuh-bangunnya organisasi sebesar NU.
Saya kira Cak Imin tahu itu.
Mungkin kemarin beliau hanya sedang terlalu bersemangat.
Atau jangan-jangan beliau memang ingin alumni HMI kembali rajin berdiskusi.
Kalau yang terakhir itu tujuannya, saya harus mengaku:
berhasil, Cak.
Editor : Redaksi