Kangen Ingin Membaca Tulisan Kang Sobari Siang ini

jatimupdate.id
Sumber Foto inilah online

"Jangan membenci dirimu jika kenyataan tidak seperti yang kamu inginkan. Nikmati apa adanya dirimu. Banggalah pada dirimu sendiri!" ( Ahmad Sobari)

Siang ini saya sedang duduk di warkop. Di lantai ada seekor kucing yang sedang menyusui anak satu-satunya. Di meja warkop aku pilih makanan yang sekiranya itu kucing mau makan, kasihan tirus sekali tubuhnya.

Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan sego sadukan aku buka lauknya pindang. Aku taruh di samping kucing dan anak satu-satunya. Lalu keduanya makan dengan lahapnya.

Jiwaku yang beberapa menit yang lalu terasa kering. Kini, sudah basah kuyup dengan peristiwa yang terjadi dan aku saksikan di depanku itu!

Aku jadi ingat. Seorang budayawan yang begitu dekat dengan Gus Dur saat itu. Namanya Kang Ahmad Sobari. Ia seorang budayawan yang rajin memahat huruf-huruf yang mampu membasahi pikiran, hati, juga jiwa di tiap pilihan kata dan kalimat yang ditulisnya! Dan siang ini saat rehat dari pekerjaanku berburu orderan saat ngojek. Aku berganti berburu tulisan-tulisan esai dari Kang Sobari.

Ada judul 'kang sejo melihat tuhan' dan berupa ringkasan isi novel berjudul 'sang musafir'. Membacanya secara pelan-pelan layaknya Kang Sobari ada di warkop sambil berbincang guyon maton parikeno bersama menyoal sebuah fenomena terkini, dan seluruh panca indera terlibat aktif semua. Tugas tulisan esai memanglah harus bisa menumbuhkan kesadaran kritis terhadap apa saja termasuk ---dan mungkin dan terutama---diri kita sendiri!

Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Bisa jadi apa gunanya memperhatikan seekor kucing yang rada kesakitan itu. Tapi tetap menyayangi anak semata wayangnya yang tak pernah bosan menyusu ke induknya. Tak tahu kalau induknya belum makan! Tentu dengan kapasitas keilmuan serta pengalaman hidup yang dimiliki oleh salah satu esais hebat itu, bisa jadi salah satu mahkluk tuhan ini, akan bisa jadi tulisan yang mengoyak ruang sadar setiap pembacanya, saat ditulis oleh Kang Sobari!

Esai bisa jadi merupakan tulisan yang menyuarakan pandangan penulis tentang segala hal: mulai urusan pribadi sampai urusan publik, mulai urusan level nasional, sampai urusan tukang sampah bersihkan got rumah, bahkan urusan bagaimana pemain bola idolanya saat menendang bola ke gawang, jadi inspirasinya. Dan saat penulisnya digerakkan oleh emosinya saat ia menulis persoalan itu. Jadi berkelas tulisannya. Tulisan-tulisan esai kang Sobari, seperti itu.

Selayaknya seorang pemimpin juga harus bisa menyampaikan dan menuangkan ide, gagasan-gagasan, serta pikiran-pikirannya. Di ruang publik melalui sebuah tulisan-tulisan sederhana yang mampu dibaca oleh kaumnya, oleh rakyatnya, agar yang dipimpinnya memiliki spirit yang besar di dalam mengatasi problem dan peristiwa kehidupannya sehari-harinya. Dengan lebih banyak memberi asupan makanan yang bergizi untuk jiwanya!

Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Jangan sekadar ambisi berburu jabatan juga kursi semata. Siapa pengusung ku bukan soal bagiku yang penting dapat dukungan, bagaimana kehidupan rakyat dan bangsaku itu urusan nanti. Yang penting aku menang, dapat kursi dulu. Setelah dapat jabatannya yang sudah diimpikan pagi, siang, malam, sampai pagi lagi di dalam hidupnya, seketika lupa siapa yang memilihnya. Yang dia ingat hanya pakaian itu dahulu ia jahit ke mana? Itu saja!

Tapi tidak gampang nulis tulisan esai seperti itu! Harus banyak berguru kembali setidaknya mau berburu tulisan-tulisan dari Soekarno, Hatta, Syahrir, bagaimana blio semuanya itu dalam membaca negerinya, membaca rakyatnya, membaca suara-suara yang tak pernah mampu disampaikan oleh semua mahkluk semesta di bumi NKRI ini, bisa jadi. Untuk belajar lagi, bagaimana para bapak founding fathers itu menghipnotis, membuka ruang sadar, dengan menyuguhkan sebuah pikiran-pikiran besar kepada pembaca yang diambil dari contoh-contoh kecil peristiwa kehidupan sehari-hari, melalui tulisan esainya. Untuk di era sekarang bisa jadi Kang Sobari, Romo Sindhunata, Eyang Umar Kayam, dan Romo Mangun, bisa jadi jujugan penulis juga buat nyantri soal kehidupan saat raga ini terlalu kenyang dan jiwa serta rasa ini terlalu gersang akan fenomena kekinian yang terjadi siang ini!

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru