Oleh: Hairul Ulum - Tim Penulis Buku "Menata Masa Depan NU Jember"

Hari Santri Nasional: Antara Doa, Bambu Runcing, dan Jihad Digital Zaman Now

Reporter : Redaksi
Keterangan Gambar: Hairul Ulum - Tim Penulis Buku "Menata Masa Depan NU Jember"

Jember, JatumUpdate.id — Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan seremonial dengan peci dan sarung. Bukan pula karnaval santri keliling desa. Peringatan ini menjadi pengingat paling jujur dalam sejarah bangsa bahwa Indonesia merdeka bukan hanya karena bambu runcing para pejuang, tetapi juga karena doa yang tak pernah putus, darah yang tumpah di medan jihad, dan Resolusi Jihad para kiai dan santri.

Jika kita melupakan fakta sejarah ini, kita akan menjadi bangsa yang amnesia sejarah.

Baca juga: PCNU Surabaya Siapkan 18 Agenda Hari Santri, Fun Walk Targetkan 5.000 Peserta

Kenapa 22 Oktober? Menelusuri Jejak Resolusi Jihad

Tanggal 22 Oktober dipilih bukan karena kebetulan kalender, melainkan karena takdir sejarah yang mengikat erat perjalanan bangsa ini.

Mari kita tarik mundur ke September-Oktober 1945. Indonesia baru berusia dua bulan merdeka. Belanda yang tidak menerima kemerdekaan Indonesia membonceng tentara Sekutu (Inggris) dan mendarat kembali di Surabaya dengan senjata lengkap. Mereka datang dengan ambisi mengembalikan kekuasaan Hindia Belanda.

Di saat pemerintah pusat di Jakarta masih gamang, para ulama di Surabaya bergerak cepat.

Pada 21-22 Oktober 1945, di kantor NU Bubutan Surabaya, atas inisiatif KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Chasbullah, para kiai se-Jawa dan Madura bermusyawarah. Hasilnya adalah fatwa bersejarah yang kita kenal sebagai Resolusi Jihad.

Naskah aslinya sangat tegas dan tidak berbasa-basi:

  1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus wajib dipertahankan.
  2. Belanda yang kembali ingin menjajah adalah musuh yang wajib diperangi.
  3. Hukumnya adalah Fardhu 'Ain (wajib bagi setiap orang) bagi umat Islam yang berada dalam radius 94 kilometer dari Surabaya untuk berperang. Yang berada di luar radius wajib membantu saudaranya yang di dalam radius.
  4. Barang siapa yang mati dalam peperangan ini adalah mati syahid.

Fatwa ini kemudian disebarkan oleh Bung Tomo melalui radio, oleh para kiai melalui mimbar masjid dan langgar. Hasilnya meledak: ribuan santri dari Pesantren Tebuireng, Tambakberas, Lirboyo, dan Sidogiri turun ke Surabaya hanya dengan sarung, sorban, dan bambu runcing.

Dari sinilah lahir pertempuran 10 November 1945—pertempuran terdahsyat dalam sejarah revolusi. Tanpa Resolusi Jihad 22 Oktober, tidak akan pernah ada Hari Pahlawan 10 November.

Sayangnya, sejarah ini sempat hilang dari buku pelajaran selama puluhan tahun. Baru pada 15 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan Keppres No. 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional. Ini adalah rekonsiliasi negara terhadap sejarah yang pernah dilupakan.

Bagi kami yang hidup di tengah kultur pesantren, tanggal ini sangat relevan karena kultur santri adalah akar kami.

Empat Esensi Utama Hari Santri

Jika diringkas, ada empat esensi besar yang sering kita lupakan di balik perayaan:

1. Esensi Religius: Jihad Hubbul Wathon Minal Iman

Jihad versi santri bukan jihad yang menakut-nakuti. Bukan jihad membakar, memenggal, atau mengkafirkan. Jihad mereka adalah Hubbul Wathon Minal Iman—Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Sebuah hadits yang dihafal sejak di Madrasah Ibtidaiyah. Santri diajarkan bahwa menjaga sawah, menjaga warung, menjaga kafe agar tetap halal dan thoyyib, itu adalah bagian dari ibadah mempertahankan Indonesia. Nasionalisme mereka bukan nasionalisme sekuler, tapi nasionalisme yang berakar pada tauhid.

2. Esensi Kebangsaan: Benteng Terakhir NKRI

Sejak dulu pondok pesantren tidak pernah membangun negara di dalam negara. Sejarah mencatat: ketika DI/TII ingin mendirikan Negara Islam Indonesia dengan kekerasan, siapa yang melawannya? Ulama pesantren. Ketika PKI memberontak, siapa yang menjadi korban dan yang melawan? Santri.

Baca juga: PCNU Surabaya Jadikan Hari Santri 2026 Momentum Aktualisasi Resolusi Jihad

Prinsip pesantren jelas: NKRI adalah bentuk final negara yang disepakati ulama. Fikihnya disebut Darul Mitsaq—negara kesepakatan. Saat banyak kelompok transnasional ingin mengganti Pancasila dengan khilafah, santri berdiri di garda paling depan dengan kalimat: NKRI Harga Mati.

3. Esensi Kultural: Penjaga Adab di Tengah Zaman Toxic

Inilah esensi yang paling terasa di era sekarang. Di tengah modernisasi yang serba toxic, serba flexing, serba viral tanpa adab, santri menjaga tiga hal yang hampir punah:

  • Tawadhu: Rendah hati. Meski ilmunya tinggi, tetap menunduk.
  • Ta'dzim: Hormat pada guru, pada kiai, pada orang tua. Bukan budaya cancel yang mudah menghujat.
  • Gotong Royong dan Kesederhanaan (Zuhud): Hidup tidak berlebihan, saling membantu. Nilai yang membuat bangsa ini tidak tercerabut dari akarnya meski diterpa badai globalisasi.

4. Esensi Intelektual: Islam Rahmatan Lil Alamin

Pesantren mengajarkan Islam yang tidak kaku. Di pagi hari santri membaca kitab kuning Fathul Qarib yang berumur 800 tahun, di siang hari belajar matematika, bahasa Inggris, dan cara membuat kopi di kafe.

Inilah yang disebut KH. Hasyim Asy'ari sebagai Islam yang wasathiyah—moderat, toleran, damai, dan masuk akal. Bukan Islam yang marah-marah di media sosial. Inilah yang kemudian disebut sebagai Islam Nusantara.

Jihad Santri Zaman Now: Dari Bambu Runcing ke Jihad Digital

Dulu santri berjuang dengan bambu runcing. Sekarang bambu runcing itu sudah tumpul. Medan jihadnya sudah berganti total. Jika santri hanya bernostalgia masa lalu, kita akan kalah.

Pertama, Jihad Melawan Kebodohan dan Kemiskinan.

Santri hari ini wajib melek teknologi, melek ekonomi, dan melek literasi. Apa yang kita lakukan di ruang kegiatan masing-masing dalam menumbuhkan ijtihad hari ini adalah contoh jihad paling nyata di zaman ini—Jihad Ekonomi. Membuka lapangan kerja dari desa, membuat anak-anak muda tidak perlu merantau jauh ke kota, membuktikan bahwa dari desa, dari kultur santri, kita bisa menciptakan peradaban. Pesantren harus punya koperasi, punya kafe, punya digital marketing.

Baca juga: Dzurriyah Mbah Shiddiq Halaqah di Jember, Gus Saif: NU Harus Kembali ke Khittah dan Tak Dikantongi Partai Politik

Kedua, Jihad Melawan Hoaks dan Radikalisme Digital.

Dulu penjajah datang dengan kapal perang. Sekarang penjajah datang lewat HP: lewat hoaks, adu domba, ujaran kebencian yang dibungkus ayat. Di era media sosial ini, santri harus menjadi penjernih. Menjadi tabayyun center. Meluruskan ajaran yang menyimpang dengan cara santun, dengan ngaji, dengan ngopi, bukan dengan hujatan dan cacian.

Ketiga, Jihad Menjaga Moral dan Masa Depan Bangsa.

Ketika banyak anak muda kehilangan arah, terjebak judi online, narkoba, dan krisis identitas, santri hadir sebagai alternatif jalan. Menjadi contoh bahwa bisa tetap gaul, bisa punya kafe keren, bisa main TikTok, tapi tetap sholat tepat waktu, tetap ngaji, tetap memakai sarung dengan bangga.

Itulah kenapa tema Hari Santri tiap tahun selalu menggetarkan: "Jihad Santri Jayakan Negeri" dan "Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan". Artinya jelas: santri tidak boleh hanya jadi penonton pembangunan, apalagi hanya jadi objek politik tiap lima tahun sekali. Santri harus jadi pemain utama.

Penutup: Dari Pena untuk Negeri

Singkatnya: kalau Hari Kemerdekaan 17 Agustus adalah hari lahirnya Indonesia, maka Hari Santri 22 Oktober adalah hari pengingat siapa yang rela mati-matian agar Indonesia tetap hidup dan tetap ada sampai hari ini.

Hidup Santri! Hidup NKRI!. 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru