Nglaras Rogo

jatimupdate.id


"Makanan adalah segalanya bagi kita. Ini merupakan perpanjangan dari perasaan nasionalis, perasaan etnis, sejarah pribadimu, provinsimu, daerahmu, sukumu, nenekmu. Itu tidak dapat dipisahkan sejak awal!" (Anthony Bourdain)


Mangan lawuh penyetan lele sambal mentah, tak lupa campurannya ikan asin, tahu, juga tempe. Aduh itu lidah tak bisa lagi berhenti mengunyah. Terima kasih kepada nasi , lele, lombok rawit dan teman-temannya. Perut tidak sekadar kenyang, namun mampu melambungkan indera perasa terbang ke swargaloka citarasa kuliner!

Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Ini benar-benar perihal soal private: tentang kebiasaan, tentang selera, tentang sebuah relasi, beyond dari semuanya itu adalah perihal memori dengan orang-orang terkasih di masa silam!

Semua makanan itu aku dapatkan di warungnya si Darno. Rungkut Alang-Alang. Sehabis makan, si Darno pun sudah paham, minuman apa yang harus di siapkan. Teh ginastel. Sayangnya hanya satu saja. Gulanya bukan gula batu, dan tehnya bukan teh tubruk! Tapi tidak masalah. Tidak ada kesempurnaan di dunia ini!

Menikmati kuliner tradisi ini sambil ditemani hawa dingin karena habis turun hujan di Surabaya.

Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Tidak banyak ini itu, sepiring nasi itu pun ludes sudah. Bisa jadi karena lapar, tapi pemicu utamanya karena sambal mentah dan jeruk limo nya itu. Melihat si Darno nguleg sambalnya saja, air liur sudah kemecer segera ingin di cocol sama nasinya.

Makanan berkelas sudah biasa di nikmati. Karena dahulu pernah jadi manager marketing di sebuah perusahaan, kudu banyak meng-entertain clien. Segala macam jenis makanan berkelas ala resto berbintang, sudah biasa mengunyahnya. Tapi mergo ilat ndeso, kembali ke selera asal sambal mentah adalah favoritnya.

Dan sambal buatan si Darno lah. Salah satu yang mampu membuatku kembali ke warungnya terus menerus. Bosan? Sesekali saja karena ingin berganti ke selera menu lainnya.

Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Meski saja kalau mau makan besar, dan berburu makanan kelangenan lainnya. Aku harus menyengajakan diri berburu ke kota-kota lainnya atau pulang ke kampung halaman. Dasar ilat mogel.

Kembul bujono malam ini, benar-benar layak disyukuri. Karena masih bisa menikmati hidangan kesukaan ditengah hawa dingin yang menyergap tubuh. Persis seperti mangan ning pawon saat di rumah kampung halaman saja! Makannya sekali saja, namun yang didapat tiga: rasa, view nya, serta suasananya. Setelah semuanya bisa dinikmati, berlanjut nglaras gamelan gending cengkok pelog asmorodono dan maskumambang ning ngemper ngomah Rungkut. Dunia benar-benar serasa di alam swargaloka. Matur nuwun Gusti.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru