"Kita mungkin tidak hidup di masa lalu, tetapi masa lalu hidup di dalam diri kita!"
Aku percaya aku bisa terbang! Terbang ke mana? Ke hatimu. "Eling karo putune, pakne," ujar Mbok Jum, karo bojone.
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Karena Mbok Jum bisa jadi seorang istri yang taat suami, juga taat angger-angger urip. Meski saja maksud suaminya bercanda menghibur dirinya sendiri. Mbok Jum menghardiknya. Saat ada wanita yang berjidat kinclong sedang lewat depan warung. Dan si suami mulai berulah dan belagu. Dan kugoda lagi," Teruske pakne, pancen kinclong iku bocahe." Dan kedua lelaki yang sudah tidak bisa disebut anak muda itu, tertawa terbahak bersama di warung tua yang sudah mulai rame dikunjungi pelanggan setianya itu, pada sore tadi.
"Kamu ketahuan pakne," godaku kepada suaminya Mbok Jum!
"Ojo rame-rame mas Agus," ujarnya sambil ngekek terbahak!
Kota Surabaya bersama jalan utama dan jalan tikus yang ada sudah semua aku susuri dan lewati. Dan tak terkecuali berbagai macam warung yang ada di kota ini!
Mulai nyangkruk di tempat ngopi yang harga kopi per cangkirnya 25 ribu, 12 ribu, dan ada juga yang cukup bayar satu lembar uang kertas senilai 2 ribu perak juga sudah pernah aku alami. Terus lebih enak di mana nyangkruk dan ngopinya? Soal enak tergantung siapa yang ditemui, dalam konten dan konteks apa. Bedanya di situ saja, kalau soal enaknya sebelas dua belas sama saja. Malah lebih enak di warung di bawah pohon yang rindang menjulang ke angkasa. Pasti gurat cerita kehidupan penghuninya sangat dalam dan penuh cerita ngeri-ngeri sedap biasanya.
Nah, saat sedang makaryo bekerja rutin tadi, keliling kota pahlawan. Aku sempatkan mengunjungi warungnya Mbok Jum di daerah Bratang. Warung rindang di bawah pohon talok ini, sering mengundangku untuk datang. Dan datang kembali.
Entah apa sebabnya aku juga tidak tahu. Bisa jadi karena perangai dan perilaku Mbok Jum dan suaminya yang bersahaja barangkali yang jadi penyebabnya.
Sepasang suami istri yang sudah beranjak senja. Mbok Jum dan si suaminya. Bekerja selalu bersama-sama dengan buka warung klasiknya mulai dari pagi hingga malam tiba.
Warung yang juga sebagai rumah singgah ini. Bisa menjadi tempat ku memuaskan kangen tentang nuansa dan suasana akan kampung halamanku.
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Tidak itu saja, sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi ini. Pandai sekali menikmati hidupnya. Di keduanya aku temukan sebuah kesederhanaan dan kemampuan untuk bisa menertawakan hidup. Dan tentunya semangat menikmati hidup dengan tetap setia menjaga dan melayani pelanggan di warungnya.
"Urip mung pisan ora perlu susah le, digawe sing seneng ae atine, wis iku ndang diombe kopine," ujar Mbok Jum suatu ketika!
Saya kira suami Mbok Jum ini sudah sangat jauh mainnya dan begitu kental kopi yang ia teguk di masa lalunya. Sehingga perangainya membuat vibrasi yang menenangkan yang mampu menarik ku untuk selalu mendekat kepada nya. Dekat dengannya sambil menikmati kopi dan camilan di warungnya. Sambil sesekali menikmati alunan suara burung perkutut yang di taruh di samping warungnya.
Saat kumpul dan bercengkerama di warungnya Mbok Jum. Seketika aku menjadi mahkluk dan manusia spiritual saja. Berusaha untuk selalu menikmati nafas kehidupanku, dan auto mengalami mindfullnes yaitu sadar dan benar-benar hidup di saat ini saja. Masa lalu dan masa depan tidak ada.
Tidak ada aba-aba juga instruksi dari siapapun.
Aku menjadi tenang, serasa tidak ada apa-apa saja di dunia ini. Adanya hanya aku dan suaminya Mbok Jum yang sedang bercengkerama. Ia duduk di kursi tuanya dan aku duduk di kursi lain yang saling bisa berhadapan antar kami berdua.
Suaminya Mbok Jum, beranjak dari sebuah singgasananya lalu berjalan ke belakang, untuk mematikan kompornya karena airnya sudah masak, untuk membuat segelas kopi pesananku.
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Dan ia mempersilakan aku makan makanan seadanya yang sudah tersaji di atas meja: ada tahu, bakwan, serta tempe yang masih hangat. Dan sayup-sayup suara klenengan terdengar dari radio butut miliknya Mbok Jum! Dan Mbok Jum sambil sesekali membetulkan tempat duduknya, yaitu sebuah kursi tua yang mulai lapuk dimakan rengat.
Aku berpikir ini di Solo kah? Tidak. Ini di Surabaya.
Setiap manusia pada galib nya akan selalu mencari suasana, ruang, dan kejadian yang pernah terjadi di masa lalunya. Yang bisa jadi pada masa lalu ia sering ditemukan, dibesarkan, dan ditemani dengan ruang yang begitu bersejarah, melekat kuat di dalam benak dan otak bawah sadarnya. Dan sore ini aku seakan mengalami dejavu saja. Aku sepertinya sedang bukan berada di kota Surabaya. Namun sedang berada di pedesaan di Klaten, Solo, atau malahan Jogja saja, pada saat itu.
Dan aku bisa ajib-ajib sepenuhnya di sini. Bersenang-senang dengan memori yang pernah terjadi di masa laluku. Aku bisa terbang secara auto ke kampung halaman!
Matur nuwun Mbok Jum...
AAS, 25 Desember 2022
Bratang Surabaya
Editor : Redaksi