Menjadi Sesuatu Itu Tidak Mudah Ferguso

jatimupdate.id
Mas AAS

"Cara termudah untuk mendapat kebahagiaan adalah dengan mencintai diri sendiri!"


Memang mudah menjadi pemimpin? Sekadar modal tim sukses, dan uang segepok, lalu terpilih dalam sebuah pilihan. Sekali-kali tidak kang Ferguso.

Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Memang mudah menjadi pendidik? Menjadi guru. Menjadi dosen. Datang di kelas mengajar, kasih tugas, dan lalu pulang. Sekali-kali tidak Papa Einstein.

Memang mudah menjadi mahasiswa? Belajar tak mau, sering absen kuliah, lalu minta nilai A. Sekali-kali tidak adik Yongki!

Memang mudah menjadi karyawan? Datang telat ke Pabrik, kerja seenaknya, minta gaji naik terus setiap tahunnya. Sekali-kali tidak Cak To'.

Memang mudah menjadi seorang aktivis? Menyuarakan suara-suara yang terbungkam, penuh resiko, kadang nasibnya tidak lulus kuliah. Sekali-kali tidak, Dinda!

Memang mudah menjadi manusia? Lahir, hidup, kemudian mati, tanpa meninggalkan sebuah legacy yang berarti. Sekali-kali tidak, kawan.

Jadi pemimpin harus bisa membuat inspirasi bagi umatnya, bagi orang-orang yang dipimpinnya! Anak buah harus bisa menjadi pemimpin baru yang lebih baik darinya kelak. Kalau tidak bisa, lebih baik Anda mundur saja jadi pemimpin!

Jadi pendidik, kalau sekadar bisa memberi rasa takut berlindung di balik status guru dan dosen yang di sandang nya. Negeri ini tak butuh guru dan dosen seperti itu. Masih banyak anak-anak manusia yang sedang sekolah dan kuliah yang kudu diinspirasi, dibina, dan dibesarkan hati dan jiwanya untuk dapat melakukan hal-hal yang besar di dalam hidupnya.

Jadi mahasiswa juga demikian! Kalau hanya ingin menikmati sesuatu yang mudah diraih, akhirnya menjadi manusia yang lembek kayak bebek, tidak punya bargaining di dalam hidup. Dan rugi sekali orang tua membiayai sekolah dan kuliah kita.

Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Jadi manusia, hanya sekadar hidup saja, tanpa sebuah visi hidup yang mau diraih juga kasihan. Setidaknya waktu dan umur mengajarkan sebuah hal yang besar di dalam hidup kita. Jadilah manusia yang autentik, menjadi versi terbaik dari diri sendiri, sebelum kontrak hidup kita diakhiri.


Terus enaknya jadi apa dan kudu melakukan apa?

Jadi penulis! Dan menulis lah!

Penulis mah bebas, bisa berkata-kata dan berbicara sepuas-puasnya tanpa perlu mulutnya berbicara. Hanya kedua jempol nya saja yang menari di atas keypard gawai, atau kesepuluh jemarinya mengetik di papan keyboard laptop.

Dan penulis bisa menyuarakan pikiran dan gagasannya tentang apapun saja yang berada di atas bumi dan di kolong langit ini kepada jutaan orang, tanpa perlu ia berharap disetujui pemikirannya, idenya. Biarlah isi tulisan itu sendiri yang bertanggung jawab menjalankan tugasnya yaitu menyampaikan pesan kepada khalayak pembacanya.

Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Kemudian pembaca dengan hikmah yang dimilikinya akan berkata setuju, atau tidak tentang pesan yang dikirim oleh si penulis lewat tulisannya. Tugas penulis menulis saja, titik!

Dan tulislah sesuatu yang baik-baik saja. Karena manusia pasti akan memiliki harapan yang besar di dalam hidupnya. Bahwa segala kebajikan dan keberkahan akan dialami di hidupnya kelak di kemudian hari.

Dan seyogyanya hanya kebaikan saja yang kita tabur di semesta, lalu semesta akan berlipat mengembalikan hal yang serupa kepada si pembuat tulisan, yaitu penulisnya.


AAS, 26 Desember 2022
Taman Bungkul Surabaya

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru