"Pembelajaran tidak dicapai secara kebetulan, itu harus dicari dengan semangat dan diperhatikan dengan ketekunan!" (Abigail Adams)
Ada kata-kata yang lupa dikatakan. Ada cinta yang lupa ditunjukkan. Dan bisa jadi ada amal yang lupa ditawarkan.
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Dan kemarin. Di sebuah sore yang redup. Datanglah tamu, yang membawa perubahan dan nuansa menjadi berbeda. Pada saat waktu sore kemarin!
Setidaknya dua anak muda yaitu Zaky juga Rizal datang silaturahim ke rumah. Membawa puzzle kehidupan, bahkan cerita di dalam hidup menjadi menarik saat ditulis dan digores menjadi buah pena.
Sesudah acara temu itu diadakan.
Pertemuan tidak sekadar sebuah aksi gimik semata, sekadar melepas kangen juga rindu. Namun tidak terasa dan tidak aku duga, keduanya dengan kisah ceritanya yang orisinil mampu membuka *atap-atap pintu langit jadi terbuka* dan keduanya plus aku mendapat maknanya yang hakiki "bagaimana hidup ini layak diteruskan hingga sampai di pelabuhan yang hendak dituju".
Sebenarnya aksara itu akan dipahat semalam. Namun lelah yang menghampiriku tak sempat jemari itu menulis dan menggoresnya di atas gawai. Tersebab perbincangan itu ternyata berlanjut terus. Bukan setelah magrib, Isyak, berakhir, namun hampir jelang hari berganti yaitu dinihari obrolan itu usai.
Analog dengan sebuah mata kuliah yang sedianya kudu diajarkan dalam satu semester. Tapi semalam sebuah materi seputar ilmu dan keilmuan terkini, itu tersampaikan dalam kisaran beberapa jam saja! Menarik? Pastinya!
Berbagai frasa dan konsep tentang banyak hal. Mengalir mengemuka dalam obrolan model sersan tersebut. Serius namun santai. Sambil menikmati camilan di atas meja, dan berlanjut duduk manis di kursi di sebuah Warung Sambal Penyetan di Rungkut Surabaya.
Mengapa penting harus membuat sebuah tim, kenapa mesti harus menulis, dan apa yang seharusnya dilakukan saat terjadi sebuah aktivitas yang tetiba menjadi stuck di dalam sebuah organisasi. Harus apa? Dan kenapa itu semua bisa terjadi? Adalah pokok bahasan yang dibahas tadi malam.
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Dan semuanya diuraikan dengan jelas juga gamblang dari kedua tamu, anak-anak muda juga aktivis kampus itu. Keduanya menjadi *host* dan aku malahan yang jadi tamunya.
Dari mereka justeru aku yang banyak belajar dan mendapat ilmu bukan sebaliknya!
Zaky dan Rizal, terima kasih, ya. Atas kedatangannya untuk silaturahim. Dan tentunya adalah sharing atas ilmunya. Ciamik sekali tentang apa yang sudah kalian kerjakan berdua.
Secara, sekarang keduanya adalah seorang administrator dan manager project yang bukan kaleng-kaleng. Dan menjadi pesuluh pemberi terang dan tempat bertanya bagi adik-adiknya di dalam sebuah organisasi.
Tidak banyak di era digital sekarang menemukan sosok yang multi talent seperti keduanya. Tidak hanya piawai menyampaikan dan mempresentasikan kerja-kerja mereka di level formal, namun keduanya juga penggagasnya serta pelaksana konsep sekaligus dari gagasan yang mereka produksi. Sebuah talent di atas rata-rata. Yang jarang anak millenial sekarang mau melakukannya.
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Ternyata konsep practice make perfect tidak saja berlaku di dunia tulis menulis saja. Setidaknya di dunia project dan di dalam memproduksi sebuah gagasan lalu di eksekusi juga sebuah keterampilan yang terus menerus mesti dilatih secara tekun dan terus menerus!
Mundur, apalagi lari dari tanggung jawab. Alamat mati dan tutup lapak mereka!
Demikian. Kisah tiga anak manusia yang kemarin sore, sedang berproses memahat masa depan mereka masing-masing.
Dan akhirnya tidak diketahui mana yang yunior dan senior dalam obrolan gayeng semalam. Karena senior-yunior itu hanya sepenggal status saja! Namun saat ingin belajar dan menggali ilmu tentang sesuatu, status itu lupakan sebentar!
AAS, 30 Desember 2022
Taman Bungkul Surabaya
Editor : Redaksi