Dapat Inspirasi Menulis, Justru Dari Penumpang Grab ku!

jatimupdate.id
Mas AAS

Sebuah fakta yang tidak bisa aku tolak sekarang berkenaan dengan diriku adalah: pertama, aku sebagai tukang ojek online, kedua, aku sebagai tukang bikin nasi goreng, ketiga, aku sebagai warga dari negeri ini yang sekarang tinggal dan hidup di kota pahlawan. Itu saja!

Terus, sebagai fakta pula aku sekarang diperjalankan oleh Tuhan. Bahwa hari-hari ini aku diberi peran menjadi teman para mahasiswa, untuk menemani mereka belajar di dalam sebuah kelas. Sering berbicara dengan mereka seputar kewirausahaan di dalam kuliah. Dan juga tengah serius mendengar, memahami meski masih terbatas, tentang konsep dan makna dari sebuah filsafat ilmu di terangkan. Di dalamnya ada aspek ontologis, epistemologis, dan juga aksiologis. Satu pemahaman yang aku dapatkan dari para guru-guru saat di dalam kelas kuliah. Siapa saja yang pingin berbicara, apalagi menulis tentang sebuah konsep apalagi teori, bahkan hanya menyebut sebuah frasa saja. Ia harus bertanggung jawab untuk paham serta mengerti apa kaitan teori, konsep, bahkan frasa itu dengan tiga aspek filsafat ilmu di atas! Ia harus berusaha memahaminya. Itu yang aku dengar, diajarkan, bahkan dilatihkan secara terus menerus di dalam sebuah kelas saat aku kuliah di strata yang sekarang. Di mana aku sekarang sedang diperankan menjadi seorang murid. Di sebuah kampus di Malang.

Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan fakta terbaru, entah darimana datangnya serta sebabnya apa? Mengapa, untuk beberapa tahun ini, aku jadi mulai menyukai dunia tulis-menulis. Meski umumnya hanya sebuah tulisan deskripsi saja. Aku tidak menduga sebelumnya.

Bisa aku sebut ini adalah anugerah semesta, dan aku berpikir positif saja, akan ada peran selanjutnya yang kudu aku jalankan nanti di kehidupan ku di masa depan!

Meski sebatas tulisan genre deskripsi saja, tulisan yang aku pahat dan buat setiap harinya, misalnya tentang apa yang aku rasakan berkenaan soal kejadian kehidupan sehari-hari saja. Tidak lebih. Sekali lagi tidak lebih dari itu! Tapi aku sadar, aku merasa tidak boleh berhenti di situ, untuk membangun kebiasaan menulis ini. Aku harus berusaha kembangkan terus. Baik genre tentu juga kualitasnya. Aku harus upgrade lagi, setidaknya aku harus mulai menengok apa profesiku yang utama sekarang, yang tengah diamanahkan kepadaku oleh Tuhan. Dan apa urgensi kenapa aku harus benar-benar butuh menulis, di pekerjaanku yang sekarang.

Nah, saya lanjutkan ceritanya ya. Semua latar belakang kenapa aku membuat pembukaan tulisan seperti di atas.

Apabila Anda melanjutkan membaca tulisan ini, aku dapat insight untuk semakin menekuni dunia menulis itu. Malahan aku peroleh dari seseorang yang aku tidak duga sebelumnya.

Siapa dia? Yuk, diteruskan saja bacanya ya!

Kapan hari di suatu tempat di Surabaya. Aku sedang bertemu klien yang menggunakan jasaku sebagai tukang ojek online untuk antarkan ke kampusnya.

Seperti di atas, fakta keseharian ku, adalah sebagai tukang ojek. Biasanya aku kerja dari mulai pagi kadang sampai sore tidak mesti sih, tergantung keadaan!

Nah, kebetulan saja saat aku bekerja itu, aku dapat penumpang yang baik hati, juga orang berpendidikan! Ia seorang mahasiswa program doktoral ternyata di sebuah kampus negeri di Surabaya. Aku diajak ngopi di warkop, dan aku dapat cerita serta ilmu gratis darinya tentang banyak hal seputar kehidupan mahasiswa dan tugas seorang mahasiswa program doktoral itu nantinya. Apa suka dukanya, dan ilmu apa saja yang sebaiknya harus dipelajari!

"Mas Agus, dahulu pendidikan SI nya dimana dan ambil jurusan apa?"

"Saya di Malang mas, ambil teknik industri pertanian!"

Untung saja, dia tidak teruskan bertanya. Kuliah S2 dan S3 dimana. Sehingga buat aku kikuk menjawab.
Dan secara psikis, aku tahu tak mungkin itu penumpangku sampai bertanya sejauh itu. Apalagi posisi dan rupaku tak mendukung untuk di tanya pendidikan selanjutnya. Masih kumus-kumus keadaannya, dan wajah penuh memelas, pas Surabaya sedang panas-panasnya saat siang hari saat itu.

Sambil masih pakai jaket kebesaran grab ku di dalam warkop, yang bewarna hijau hitam itu. Aku benar-benar menjadi pendengar yang baik.

Mungkin saja, si mahasiswa doktoral itu lagi banyak tugas dan pekerjaannya sebagai mahasiswa. Jadi ia pingin santai ajak aku ngopi segala. Kenapa harus aku tolak? Dan ternyata banyak ilmu yang dia ceritakan di dalam warkop itu. Utamanya bagaimana seorang mahasiswa program doktoral saat harus menulis bab 1 hingga bab 5 sebuah laporan Disertasinya.

Aku di dalam hati, ini yang namanya dapat durian runtuh. Dapat bayaran berlebih antar dia ke tujuan, dapat kopi gratis, dan dapat ilmu menulis tulisan ilmiah dari pelakunya langsung!

Dia kan tidak tahu posisiku terkini. Dan aku tidak perlu ceritakan itu. Toh, kalau aku cerita kan malahan dianggap berkhayal saja. Bahwa posisiku sama dengannya!

Sebagai seseorang yang biasa berbicara, atau melakukan aksi dalam dunia lapak kewirausahaan. Setidaknya secara basic aku secara tidak langsung sudah punya mindset seputar wirausaha, atau biasa disebut punya orientasi kewirausahaan. Baik di dalam cara berpikir juga bersikap ku.

Ini ada peluang, ada klien mahasiswa doktoral. Mau aku apakan momentum ini? Masa didiamkan saja. Tanya batinku spontan!

Kenapa tidak aku tanya-tanya saja perihal sebuah penelitian itu. Bagaimana sebuah variabel utama penelitian atau variabel masalah penelitian yang diteliti yang biasa diberi notasi dengan huruf Y. Itu dibuat, bahkan bagaimana cara dia membangun konsepnya. Itu sangat penting untuk aku ketahui dan korek darinya.

"Mas, bagaimana cara merumuskan variabel Y itu di dalam sebuah penelitian sih," tanyaku?

"Wah, mas Agus, masih ingat saja soal variabel terikat atau variabel dependen dalam sebuah penelitian ya?" Tampak smart penumpangku itu dalam menjawab pertanyaanku. Aku semakin bersemangat buat investigasi kepadanya seputar variabel penelitian itu di oprek oleh seorang peneliti. Mumpung dapat fasilitas gratisan!

Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

"Ya, hanya itu saja mas, yang saya ingat. Lainnya tidak tahu," itu jawabanku.

Geeeerrr. Dan kita berdua pun tertawa!

Tidak berhenti di variabel masalah penelitian atau variabel utama saja. Obrolan hampir satu jam antara diriku dengan penumpang ku itu. Kita pun berbincang bagaimana variabel utama ini kemudian jadi petunjuk awal untuk menurunkan variabel independen atau biasa diberi notasi X juga variabel intervening yang biasa diberi notasi Z dan juga variabel moderasi yang biasa diberi notasi M sangat jenaka juga cerdas dijelaskan dengan ciamik oleh penumpangku tersebut. Akhirnya aku yang banyak bertanya. Dan penumpangku yang banyak menjawab.

Semua pertanyaan ku tidak saja dijawab. Tapi juga dibahas secara lengkap dikasih juga contohnya. Diberikan gratis cuma-cuma saja, malahan aku dapat uang bayaran berlebih karena mengantarkan dia ke tujuan plus menemani ngopi, alhamdulilah!

Namanya saja rejeki. Kalau sudah jatah tak kan lari!

Dari penjelasan penumpangku itu. Aku seperti diingatkan untuk segera melakukan sesuatu. Harus paham dan benar-benar mengerti perihal soal-soal yang akan aku tulis. Apalagi sebuah tulisan ilmiah. Salah kata, kalimat, apalagi typo bisa dibuly habis-habisan. Menakutkan. Tapi layak dicoba! Syukur jadi habit.

Jadi bagaimanapun aku harus berterima kasih diperankan menjadi ojek online oleh semesta. Dari profesi sampingan ini aku mulai muncul kesadaran serta lebih bertanggung jawab untuk berubah menjadi lebih baik, saat menjalani profesi utama ku di masa depan. Dan ternyata masih banyak skill dan ilmu yang harus aku pelajari. Benar-benar harus menjadi manusia pembelajar seumur hidup sepertinya!

Dari penumpangku itulah aku menjadi memiliki rasa sadar untuk membaca informasi terbaru melalui artikel. Melakukannya bukan karena beban sebab ada tugas semata, sehingga aku perlu cari. Tapi aku memang harus merasa butuh layaknya makan saat rasa lapar datang, untuk update informasi terbaru, terutama di bidang kajianku. Selain itu juga akan berguna dan bermanfaat banyak dalam meningkatkan caraku menulis.

Jadi sedikit mengerti, mau menulis soal konsep kewirausahaan saja. Harus aku pahami dahulu beberapa teori, konsep, bahkan frasa-frasa penting sebelumnya seputar topik yang ditulis. Tidak sekadar tahu sebuah definisi saja. Kalau hanya itu, ngapain sekolah sampai program doktor, ujar sang penumpang itu. "Jiangkrik, ngece tenan Iki penumpang ku!"

Dan aku hanya tambah manggut-manggut saja untuk lebih serius menyimak, mengiyakan, semua omongannya!

Di Rest Area 725 Gresik ini malam ini, sedang duduk sendirian di sini istirahat. Aku ingat kejadian itu. Dan dengan tergesa-gesa aku tuangkan saja dengan menuliskannya. Meski cara menulis ku masih pakai gaya lamaku, ada hasrat langsung pahat saja. Tapi biarlah, untuk sekadar membuat otakku tidak berpikir banyak hal malam ini, karena aku paksa buat memilih huruf-huruf yang akan ditulis oleh kedua jempolku di atas gawai!

Meski hanya deskripsi saja, kebiasaan saat aku membuat sebuah tulisan. Namun, pada level selanjutnya, aku harus mau belajar untuk bisa kaitkan semua yang aku tulis itu dengan sebuah konsep kewirausahaan! Baik dengan terpaksa ataupun sukarela. Kenapa mesti begitu? Lha, katanya topik disertasinya perihal kewirausahaan. Itu dengan tegas saat si penumpang itu kasih sebuah contoh. Ia mencontohkan juga bagaimana ia sekarang bertekun menulis topik-topik yang berkaitan dengan variabel utama yang ditelitinya.

Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Kapan lagi kalau tidak mencoba tulisan genre lainnya. Yaitu tulisan yang dibutuhkan buat profesiku yang utama sekarang. Kalau membuat tulisan yang biasanya, boleh saja dilanjutkan karena itu hobi. Tapi bagaimana hobi ini bisa inline dengan kegiatan menulis yang sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab profesi, itulah tantangannya! Sekali lagi itu ilmu yang dibagikan si penumpang itu kepadaku!

Sayangnya kebiasaanku menulis sebatas deskriptif itu jadi keterusan! Apa salah? Oh, tidak ada yang salah di dalam proses yang namanya belajar itu. Kesalahan Ini kalau boleh disebut demikian. Hal ini akan menjadi bekal, dalam aku membuat tulisan-tulisan ilmiah seputar apa yang sedang aku kerjakan dengan penelitian disertasi ku sekarang, meski masih terbata dan tertatih, aku lakukan saja! Kayak slogannya sepatu Nike just do it.

Dari bertemu dengan penumpangku itu, beberapa hari yang lalu. Aku menjadi bersyukur, malam ini.

Malam ini aku dibuat nya harus bertanggung jawab perihal tentang apa pun saja yang aku tulis jadinya. Apalagi bekerja dalam menulis disertasi contohnya. Tidak sekadar gugur kewajiban saja, lalu dapat gelar, tapi harus dilanjutkan menjadi jalan hidup hobi menulis ini. Itu saran penumpangku itu.

Topik kewirausahaan, setidaknya bicara soal variabel utama penelitian ku sekarang. Aku hari ini sedang meneliti perihal minat berwirausaha. Tak cukup di situ saja aku juga membahas soal variabel independen ku yaitu pendidikan kewirausahaan. Tak lupa di dalamnya ada konsep orientasi kewirausahaan sebagai variabel intervening dan teman sekelas serta CSR sebagai variabel moderasi.

Dan aku karena sedang bertugas jadi tukang ojek saat itu. Aku menjadi punya waktu serta tidak kikuk untuk mengorek penjelasan banyak hal seputar bagaimana mendesain sebuah variabel penelitian pendukung baik variabel eksogen dan endogen, intervening juga moderasi. Si penumpang itu dengan baik menjelaskan caranya.

Disampaikan secara guyon maton parikeno oleh penumpang grab ku itu! Subhanallah! Ilmu itu bukan aku dapatkan di dalam kelas kuliah yang formal. Malahan di jalanan!

Di dalam kelas gak paham-paham. Gak tahu masalahnya di mana?

Nikmat mana lagi yang akan aku dustakan!

Semoga aku bisa bertekun mempelajari serta memahami, utamanya mencintai semua variabel yang telah aku teliti sekarang! Sekali lagi itu sari utama ilmu yang disampaikan oleh malaikat yang menyaru jadi penumpangku itu. Matur nuwun Gusti...


AAS, 10 Januari 2023
Rest Area 725

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru