Mahasiswa Juga Manusia, Mereka ingin Belajar Secara Bebas Tanpa Sekat

jatimupdate.id
Mas AAS mengajar mahasiswa

Pendidikan sebagai tempat menyemai benih kebudayaan di masyarakat. Demikian yang di katakan tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Mendidiklah secara filosofis, untuk memberi kesempatan kepada anak didik untuk berpikir tidak hitam putih saja, begitu juga yang dikatakan Charlotte Mason. Didiklah seseorang dengan cinta.

Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan spirit dari keduanya, baik Ki Hajar Dewantoro dan juga Charlotte Mason. Tak jarang membuatku berpikir tentang: mengapa, apa, dan bagaimana aku berbincang, mengajak berpikir, dan memotivasi bertindak tepatnya ACTION buat mahasiswa yang kerap bertemu denganku di luar pun juga di dalam kelas kuliah!

Sore jelang senja datang di kampus ITB Yadika Pasuruan. Tugas seorang pengajar juga pendidik aku lakukan. Percikan demi percikan terlintas di kepala, sesaat melihat dinamika yang ada di kelas.

Ini anak-anak punya potensi yang hebat-hebat. Mau diapakan? Sayang kan kalau hanya dijejali dengan teori dan banyak definisi juga istilah-istilah saja, begitu gumamku.

Bagaimana caranya membuat sebuah tindakan atau teladan, yang bisa membuat mahasiswa itu mau berpikir dan bergerak seturut kemauan yang autentik mereka sendiri. Rambu-rambu diskusi di kelas lalu dibuat: instruksi singkat, padat, jelas. Dan luarannya mereka kudu mendesain sendiri kelas itu bisa hidup, dan stok pengetahuan yang ada di kepala mereka tentang pembahasan sebuah pokok bahasan materi kuliah bisa dieksplorasi sedemikan rupa.

Mereka bisa berbicara, bisa bertanya, bahkan bisa membantah, pendapat teman-temannya di dalam kelas secara elegan. Dan mereka juga sadar, dengan cara belajar yang seperti itu membuat mereka bisa memanfaatkan ilmunya di luar kelas, di dalam masyarakat dan di dalam pekerjaan mereka sehari-hari di kantor dan di perusahaan di mana mereka bekerja. Asal tahu saja hampir 80 prosen mahasiswa di ITB Yadika Pasuruan adalah kuliah sambil bekerja atau sebaliknya juga boleh: bekerja sambil kuliah ups!

Mereka punya ide sendiri: enaknya saat presentasi harusnya tidak di depan audiens saja. Kalau bisa di tengah-tengah audiens. Jadi presenter di latih membaur dengan audiens dengan tidak mengurangi kecakapan dalam memaparkan materi. Itu satu ide mereka. Saya sebagai fasilitator kelas hanya menguatkan saja, siapa takut, kenapa tidak dicoba?

Tidak berhenti di situ saja. Cara bertanya dan menjawab seorang presenter itu harusnya tunjek poin dan tidak mbulet juga ruwet, itu idealnya. Sehingga audiens bisa tahu presenter atau penyaji belajar materi yang dipresentasikan tidak! Itu yang akan dicoba oleh mereka? Siapa? Mahasiswa saya tadi di kampus Yadika.

Istimewa. Berani juga mereka mengutarakan pendapatnya, dan itu baru mahasiswa nya mister AAS kalau begitu. Ayo kita mulai, pintaku!

Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Meski semua itu adalah sebuah kesepakatan yang sudah kita buat bersama-sama saat pertemuan kuliah pertama. Buat kontrak belajar, buat MOU antara fasilitator kelas dan mahasiswa. Entah, aku lebih suka disebut fasilitator kelas daripada dosen. Suka saja. Dan mahasiswa ku juga suka. Setidak mereka merasakan tak ada jarak denganku.

Dan kontrak belajar itu ternyata mereka genapi: ontime masuk kelas, dan tampak profesional saat mempresentasikan materi di kelas, dan setting tempat kuliah juga mereka desain sendiri. Model U, juga ada tadi model bebas, kayak kuliah di luar negeri macam dosen yang ngajar para bule.

Mereka para mahasiswa ku tadi. Mampu tampil jadi dirinya sendiri. Dan aku sebagai fasilitator jadi ikut bangga juga, ada artinya. Indikator kelas kuliah tadi begitu hidup dan dinamis: penyaji profesional sampaikan materi, audiens kritis dan aktif bertanya.

Setelah kuliah mau selesai ada sesi testimoni. Tentang pendapat mereka pada kuliah di pertemuan ke dua ini.

Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Singkat kata sambil mengangguk: mereka bisa praktikkan ilmu yang di dapat di dalam kelas kuliah tadi, juga
di praktikkan di luar kuliah: di masyarakat dan di perusahaan misalnya. Ternyata berpikir yang runtut itu penting, ternyata berbeda pendapat itu biasa dan mereka buktikan itu, yang penting apakah kita bisa melakukan sesuatu bersama-sama, itu spirit mata kuliah kepemimpinan di hari yang kedua tadi! Dan juga bagaimana sifat kepemimpinan yang utama salah satunya adalah percaya diri kalau ditilik dari sifat kepemimpinan.

Demikian, sekilas cerita sederhana dalam kuliah yang saya ampu tadi. Semoga narasi kecil ini menjadi teman Anda semua, sebelum berangkat tidur dan mimpi indah malam ini.

Terimakasih dan selamat malam semuanya.


AAS, 20 Februari 2023
Emper Rumah Rungkut Surabaya

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru