Duduk rehat sejenak di Rest Area 754 Sidoarjo, parkir itu gerobak. Sambil endapkan semuanya.
Setelah seharian berkemudi menuju ke padepokan UB. Berkegiatan, berkumpul, serta menakar soal masa depan! Selesaikan tugas privat dahulu sebagai mahasiswa.
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Pengetahuan membuat manusia menjadi berpikir banyak hal: pagi, siang, sore, malam, menjadi perhatian dirinya.
Sudah sampai mana, sudah melakukan apa, apakah sudah sesuai dengan milestone yang digaris! Apakah hanya as usually semata kegiatannya! Rutinitas. Janganlah.
Toh, pikiran ada, gagasan bisa dibuat, otoritas punya, eksekusi, pikirannya banyak! Terus apa guna tongkat komando itu, apa guna masa muda itu, apa guna fasilitas itu?
Masak masih butuh karpet merah, masak masih butuh tepuk tangan orang lain. Bukankah manusia dengan dirinya sendiri itu adalah sumber tepuk tangan, sumber eksistensi, lalu menjadi inspirasi, lalu memang itu yang dinanti! Oleh audiens, oleh khalayak yang dipimpin, oleh rakyat. Oleh Bumi Pertiwi. Begitu ibaratnya.
Please jangan duduk sibuk menandatangani urusan administrasi. Bukankah dalam ilmu manajemen ada istilah bagi-bagi resiko. Apa gunanya anak buah kalau begitu, delegasi adalah hakekat manajemen dan leadership, begitu sebuah teori disampaikan di sebuah kelas Doktoral oleh sang Profesor, saat itu, lama sekali! Sekira dua tiga tahun yang lalu.
Seharian ini di UB Malang lalu berlanjut di Pasuruan, dan sekarang perjalanan pulang ke Istana tercinta. Rungkut Surabaya. Banyak berbincang dengan para orang pintar, banyak bertemu dengan kaum proletar, dan banyak belajar dengan mengajar kumpul bersama mahasiswa. Menjadi kering saat semua kegiatan hari ini tadi hanya dimaknai sebuah tugas apalagi rutinitas saja. Bukan sebuah usaha yang selalu dihidupi oleh api spirit untuk sebuah landscape yang jelas-jelas sadar saat momentun dan kesempatan itu ada! Ingin diraih diwujudkan.
Itulah intelektual organik, begitu kata Pakdhe Gramsci saat ngendikan pada penulis pada suatu ketika!
Bukankah orang pintar itu juga bertanya, juga manusia di pinggir jalan menjaga lapak baksonya juga bertanya, juga mahasiswa di dalam kelas itu pun bertanya! Tentang dirinya sendiri. Aku harus melakukan apa lagi?
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Bukankah manusia dikatakan pintar apabila mampu membuat pertanyaan yang pintar pula? Aku punya tongkat komando tentu banyak yang bisa aku kerjakan, aku buka lapak tentu banyak yang bisa aku perbuat, aku mahasiswa tentu pula banyak yang aku ingin tanyakan. Kepada siapa pertanyaan itu ditujukan. Kepada dirinya sendiri. Kepada siapa jawaban itu diberikan? Kepada konstituennya! Siapa? Negerinya, wilayahnya, kampusnya, pelanggannya, bahkan dosennya!
Saya tidak tahu apa tulisan di atas adalah yang disebut dengan menari yang bertenaga. Apa resource yang dimiliki oleh setiap insan manusia apapun profesi dan levelnya. Ia wajib memberikan apinya, waktunya, bahkan hidupnya yang akan antarkan orang lain, bahkan apabila ia seorang pembaca, adalah penulis yang begitu jelas nafas keberpihakannya akan apapun yang ia pahat aksaranya. Tidak lain tidak bukan untuk ia berikan semuanya kepada para pembacanya.
Itu kalau penulis, sedangkan tongkat komando Anda buat apa? Buatlah kegagalan yang banyak itu lebih memiliki dampak daripada tak ada jejak, meski jejak itu sekadar hujatan, Bullyan, sumpah serapah. Absurd bukan? Memang! Daripada Anda terkungkung terpuruk dan dipeluk dalam kemegahan fasilitas semata. Kan sama-sama gagal bukan!
Karena sibuk urus administrasi dan tanda tangan. Silakan segera di cek list apa yang akan Anda lakukan: 1,2,3,4,5 sudah lima saja tidak usah banyak-banyak takutnya hanya manis didengar telinga. Lima itu saja Anda wujudkan selama Anda pegang tongkat komando dan duduk di kursi singgasana, dan punya kuasa. Sebelum ada regenerasi lagi!
Sepertinya kedua mata ini sudah mulai mengantuk, serta kedua jempol ini sudah tidak fokus memilih huruf-huruf di gawai.
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Kiranya Anda paham dan tahu apa yang saya maksud dengan tulisan ini. Kalau tidak tahu ya kebacut. Berarti lagi memang penulisnya yang jelek dalam membuat tulisan sehingga tulisannya susah dibaca dan dimengerti oleh pembaca!
Dan itu contoh nyata berani aksi mesti salah dan boleh dicap gagal menulis pada edisi malam ini. Tapi yang jelas berani berbuat, berani menulis itu hebat! Kok, malah promosi soal menulis.
Intinya menari lah yang bertenaga. Kalau tidak, mending pulang ke kampung halaman Anda saja, ngapain? Ngarit!
Selamat malam
AAS, 7 Maret 2023
Rest Area 754 Sidoarjo
Editor : Redaksi