Tugas Dosen Semakin Berat Saja!

jatimupdate.id
potongan berita yang dibaca mas aas

Potongan berita dengan judul: "Mahasiswa Culik Aniaya Dosen, Polisi Belum Sebut Motif".

Semakin barbar saja wajah pendidikan di negeri ini! Tentu analisis yang berkembang akan semakin banyak.

Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dosen yang tak mampu mendidik atau memang anak didiknya yang tidak punya adab dalam sanubarinya.

Kalau begini pelajaran soal: Budi pekerti semakin penting saja diberikan kepada anak didik!

Tentu tidak akan ada akibat bila tidak ada sebab. Hukumnya begitu, saat berpikir secara kritis untuk bertanya kenapa peristiwa di atas terjadi, demikian.

"Kenapa sampai bisa dosen dianiaya, dan mahasiswanya berani melakukan tindakan biadab. Dengan keroyokan lagi, bawa teman-temannya sejumlah 7 orang. Dan hajar itu dosen di dalam sebuah mobil habis-habisan, tanpa kasih ampun lagi!"

Kejadian itu menimpa dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Pontianak, Kalimantan Barat. Ia dihajar oleh mahasiswa inisial TH bersama tujuh orang temannya. Dan menjadikan sang dosen sebagai sangsak hidup yang tak kuasa melawan, karena diberondong bogem mentah tak berkesudahan dari hasrat yang kadung sampai di ubun-ubun dari para pelaku yang kadung kalap! Adanya si dosen hanya bisa bilang minta ampun.

Kurang ajar. Sontoloyo!

Jadi pendidik di negeri ini semakin berat saja. Tugas bejibun yang menanti sang dosen untuk segera diselesaikan dalam bentuk laporan, submit ini dan itu. Dalam waktu yang terbatas kalau tidak kinerjanya akan jatuh itu dosen nggelundung ke jurang. Acap kali sang pendidik itu lupa, bahwa ia mengajar manusia bukan mengajari mesin. Mahasiswa itu perlu dididik bukan diajar.

Roso pangroso' sang pendidik harus dimainkan bukan sekadar logika ansich Anda salah! Lalu punishment diberikan kepada si anak didik alias para mahasiswa nya!

Di satu sisi, tugas mahasiswa di Politeknik itu biasanya juga sebelas dua belas berderet dan banyak untuk segera dikerjakan sesuai jadwal juga target.

Mahasiswa itu kadang lupa akan teori manajemen: bahwa tugas dan homework itu kudu dicicil mengerjakannya. Tak mungkin dikerjakan semalam lalu kelar kayak Bandung Bondowoso!

Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

"Kenapa terasa jadi tulisan curhat, mas AAS? Bukan curhat, tepatnya merasakan ikut berempati akan apa yang dirasakan: dosen dan mahasiswanya...ups! Dalam kasus di atas.

Jangan lupa dosen dan mahasiswa kan juga manusia. Mereka punya banyak persoalan yang sudah bersifat laten yang saban hari muncul. Seperti urusan dapur, urusan pendidikan, urusan pengajaran, penelitian, urusan pengabdian dan submit tulisan. Semua urusan itu harus clear dan kelar. "Lha kok membaca di tulisan koran di atas, ada anasir urusan asmara meski keterangan lebih lanjut motifnya masih dipelajari oleh polisi! Dalam laporan berita Jawa Pos di atas." Ya, ini tambah bikin runyam saja. Bukan urusan laten lagi sudah merembet ke urusan libido, yang susah untuk dikendalikan ujung permainannya!

Dosen nya yang naksir pacar dari salah satu pelaku nya atau malah sebaliknya. Ah, sudah lah bukan disitu maksud tulisan ini dibuat!

Lelaki memang DNA nya kalau sudah diuji dan dihajar urusan wanita. Ia tak kuasa bertahan. Imannya sih kuat tapi mas Imron nya memberontak meledak kemana-mana, uang ada, tongkat komando punya! Aku bisa puaskan semua keinginanku itu apologize nya.

Makanya kadang saya itu berpikir. Setiap pejabat dan tokoh itu kudu punya tim kecil yang bisa jadi tempat ia guyon maton parikeno mensyukuri nikmat dan indahnya hidup. Tim kecil itu sebagai media ikhtibar bahwa ia sebelum sampai pada posisi yang sekarang dulunya ia itu bukan siapa-siapa.

Tidak punya tim kecil itu apalagi ia hanya andalkan kemegahan status dunia dan melekat sedemikian lekatnya! Siap-siap saja bakalan dihajar oleh kondisi di atas yang sewaktu-waktu datang kepada dirinya. Di berita di atas si dosen juga sudah berkeluarga, kata informasi pada koran Jawa Pos itu.

Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Dadi pengarep iku: adalah jalan sunyi juga sepi. Ia sebagai pemimpin ataukah dosen pendidik dan pemimpin para mahasiswa nya kudu sering mundur sejenak dari kahanan riuh di sekitarnya untuk memantapkan langkah kedua kakinya ke depan!

Dihajar urusan jabatan dan uang bisa jadi lelaki itu masih selamat. Kalau sudah kena peluru wanita, biasanya banyak oleng nya. Ini sih bukan teori, namun hasil pengalaman empiris karena biasa diskusi dengan kolega yang rata-rata mereka punya pangkat juga kursi singgasana yang gagah juga mewah. Di sebuah institusi.

Dadi kelingan lagu dangdut koplo saja pagi ini. "Pilih tuku sate daripada tuku wedhus!"

Ampun Pakdhe.


AAS, 9 Maret 2023
Taman Bungkul Surabaya

Editor : Wahyu Lazuardi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru