Hidup harus terus melaju. Selagi nafas itu masih ada. Sama seperti nama Bus Laju yang membawaku pulang ke Surabaya, sehabis bekerja di Kampus ITB Yadika Pasuruan!
Mengajar.
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Malam ini, saya diingatkan kembali oleh apa yang dikatakan oleh salah satu tokoh founding father RI yaitu Syahrir: "Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan".
Apa yang sedang saya alami pada setengah hari berjalan tadi, adalah sepenggal kemenangan kecil. Atas semua yang sudah saya alami dan saya kerjakan selama ini dalam ruang-ruang sunyi juga senyap. Yaitu memahat huruf tuangkan ide juga gagasan merajut huruf menenun kata merangkai kalimat, jadi sebuah tulisan.
Membuat karya membangun peradaban. Dan tidak boleh berpuas diri! Ini baru awal baru permulaan. Bahagia sebentar saja, bersyukur tentu yang kudu diperbanyak. Agar langkah kedua kaki ini selaras dan seturut maunya Beliau Sang Pemilik Jagat. Bukan mau dari ego dalam diri pribadi, amin.
Tadi sore saat langkah kedua kaki ini, mau masuk ke Pintu Gerbang Kampus ITB. Terlihat sebuah photo sebuah spanduk apa flyer namanya. Dimana isi flyer itu berupa ucapan selamat dari pihak Kampus ITB Yadika Pasuruan, atas lahirnya buku perdana Urip Iku Urup.
Seperti gambar poto yang saya jadikan capture tulisan ini!
Saat melihat wajah bayi perdana berupa buku dan ungkapan apresiasi dari sebuah institusi dimana saya sedang di perjalan kan untuk mengabdi di situ. Seketika jiwa saya luruh, syahdu, dan memanggil ulang bagaimana perjalanan yang begitu panjang dalam kegiatan memahat huruf itu saya lakukan!
Pagi, siang, sore, bahkan malam. Tak kenal tempat, bisa di dalam bus seperti saat menulis tulisan ini sekarang! Di terminal, di pangkalan, dan dimanapun saja. Ide dan gagasan itu ada, lahirlah sebuah narasi kecil dan sederhana kemudian!
Saya telah mempertaruhkan semuanya: kerja keras, kurang tidur, sendirian, rasa takut, rasa lelah, bahkan sekadar metime untuk tidak melakukan kegiatan menulis lagi coba saya lakukan. Sekadar jeda satu dua hari. Tapi karena terlalu kuatnya hasrat diri untuk berbuat sesuatu untuk memberi kebermanfaatan orang banyak. Saya mendidik sangat keras diri sendiri.
Rasa malas, rasa takut, rasa tidak berdaya, dan semua rasa negatif yang ujungnya akan membuat diri ini hancur dan menggerutu dan tidak mensyukuri akan hidup. Saya lawan! Sekeras saya melawan ketidakadilan yang saya alami atau yang dialami orang lain!
Sejujurnya harus saya akui. Lahirnya buku perdana ini saya dedikasikan teruntuk yang pertama adalah Kampus ITB Yadika Pasuruan, tempat saya mengabdi sekarang. Hanya dengan cara melahirkan buku ini saja sementara yang bisa saya bisa kerjakan untuk membuat kampus ini menjadi terkenal, lalu banyak anak muda di Pasuruan berbondong-bondong pingin kuliah di kampus ini karena dosen nya banyak yang berkualitas. Dan yang jelas gaul juga kekinian!
Kedua, buku perdana ini saya dedikasikan teruntuk kampus perjuangan UB. Di kampus inilah, sebuah value, spirit, dan ideologi dalam membangun diri, dan berkontribusi bagi negeri tercinta, Indonesia. Saya dapatkan. Dididik oleh senior-senior yang luar biasa didalam sebuah organisasi: baik di intra dan ekstra kampus!
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Sehingga kedua kampus di atas begitu sangat saya cintai! Bahkan nyawa dan hidup saya akan saya persembahkan bagi kemajuan kedua kampus tercinta. ITB Yadika Pasuruan dan UB Malang.
Di ITB Yadika Pasuruan tempat saya mengabdi menjalankan titah suci. Di UB Malang, tempat saya olah kapribaden dan olah ngelmu!
Dan beyond dari semuanya itu adalah: niat ingsun untuk Memayu Hayuning Bawono. Yaitu membuat wajah Bumi Pertiwi ini semakin indah saja di masa depan. Dimanapun saja singgah, berada, harus membuat dampak, sekecil apapun. Itulah bagi saya yang disebut Hidup Yang Dipertaruhkan.
Di dalam bus ini. Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Selintas gambar film kehidupan masa lalu satu demi satu terputar kembali dalam ingatan kepala dan pikiran ini.
Dan di kota pahlawan lah. Skenario dan gagasan itu harus saya eksekusi satu demi satu. Agar nikmat hidup yang penulis alami pada malam ini, akan berlanjut dapat membuat jejak juga dampak bagi orang banyak di kemudian hari!
Sekali lagi penulis haturkan terimakasih tak terkira kepada: kampus ITB Yadika Pasuruan dan kampus UB Malang.
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Saya kira motivasi hidup saya ke depan tidak bisa lepas dari keberadaan kedua kampus ini. Demikian!
Sebagai mahasiswa dan alumni saya memiliki keinginan besar kampus UB bisa semakin jaya dan alumni-alumni nya bisa berbicara banyak di kancah nasional. Dan menjadi Pioneer!
Dan sebagai pendidik di kampus ITB Yadika Pasuruan, saya begitu menginginkan kampus ini menjadi leader di Pasuruan khususnya dan di Jawa Timur pada umumnya! Nama ITB Yadika Pasuruan akan familiar terdengar di telinga para lulusan SMA dan SMK di Jawa Timur kelak dikemudian hari, amin!
Apakah bisa dan mungkin mas AAS, meraih itu semuanya? Kata saya cuman satu saja pasti dan mungkin! Tinggal diri itu mau tidak melakukan dan mempertaruhkan semuanya!
Begitu dan selamat malam teruntuk Anda semuanya!
AAS, 13 Maret 2023
Dalam Bus Laju Otw Pasuruan-Surabaya
Editor : Nasirudin