Apa yang dibaca dan apa yang di tulis? Mungkin saja saya perlu membaca terus apa yang ditulis oleh Prof. Djoko Suryo, seorang yang fasih berbicara tentang Nusantara, tentang para leluhur, tentang kepiawaian para leluhur itu merakit sebuah ujaran dan ajaran macam "ilmu padi" semakin berisi semakin merunduk.
Dan tentu juga membaca guru dari Prof Djoko Suryo, yaitu Prof. Sartono Kartodirdjo. Seorang Guru Besar tentang sejarah Indonesia. Keduanya dari UGM.
Baca juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Dari keduanya penulis membaca: kesederhanaan, kesahajaan, dan sebuah aktualisasi bagaimana pengetahuan itu diaplikasikan dalam kehidupan nya sehari-hari, hidup yang memaknai semua kejadian dengan sepenuh hati juga jiwanya!
Lalu kejadian berupa kasunyatan Urip itu ditulis menjadi suluh bagi anak-anak dan cucu-cucunya.
Indah sekali.
Terus apa yang hendak ditulis terus. Bagi penulis terus menangkap miracle hidup dan kehidupan dalam peristiwa sehari-hari adalah sebuah keniscayaan!
Sekelebatan pikiran, imajinasi, kadang memantik, menyulut jemari menulis. Merayakan indahnya hidup dengan diceritakan lewat sebuah tulisan. Sederhana saja. Tidak tinggi-tinggi. Dan tidak muluk-muluk.
Berisi cerita si Mali yang rutin narik becak buat sekadar cari uang hidupi istri dan dua anaknya. Lalu kisah anak kucing yang begitu mengiba sang tuan rumah untuk mengadopsinya, karena telah luntang-lantung begitu lama di luar. Dan acap kali perilaku seorang istri yang selalu menerima apapun hasil kerja suaminya.
Bagi penulis semua itu cerita besar yang patut dipahat, dalam kehidupan sehari-hari yang kadang selalu up n down iramanya.
Dan berusaha dirangkai huruf, kata, kalimatnya, dengan sederhana saja, tidak perlu berlebihan dan menjejer teori kayak mau mengadakan parade peringatan hari kemerdekaan saja. Sekali lagi bukan tulisan macam itu yang dibuat oleh mister AAS!
Karena saat dibaca penulis pun ingin mengerti apa yang nanti ditulis saat berposisi sebagai pembaca.
Segala momen dalam kejadian sehari-hari tak pernah habis untuk dipahat untuk ditulis.
Tulisan itu dikumpulkan menjadi satu lalu kemudian menjadi sebuah buku. Itulah warisan yang kerap sangat membuat penulis menjadi berarti, merasa ada arti hidupnya.
Hidup dan manusia datang dan pergi silih berganti. Begitu saja. Tidak lebih.
Dan namanya akan semakin abadi di benak dan hati saudara, sahabat, juga, koleganya. Perlu berjuang membuat sebuah legacy, sebuah warisan.
Warisan harta akan membuat istri, anak, dan cucu nya, saling sengkarut memperebutkan materi. Warisan berupa buku, pengalaman, pengetahuan, dan dibukukan menjadi sebuah buku. Membuat keturunannya menjadi lembut dan jiwanya semakin hidup dalam lakon hidupnya di kemudian hari!
Baca juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Itu bukan kata penulis, itu kata Prof. Djoko Suryo, dan gurunya yaitu Prof. Sartono Kartodirdjo!
Mau menyangkal pesan bijaksana itu. Dalam kehidupan sehari-hari yang penulis alami sekarang. Sesuatu yang dikhawatirkan itu benar-benar kejadian.
Beneran akhirnya! Ngelmu iku kalakone kanti laku! dan selanjutnya ngelmu iku angele nek wis ketemu.
Artinya apa semuanya? Adalah buku Urip Iku Urup part dua. Harus segera dibuat kembali. Sebagai keseriusan penulis untuk membuat sebuah legacy di dalam hidupnya buat dunia, dan generasi selanjutnya!
Agar orang tercinta disekelilingnya penulis. Mengerti dan memahami pesan dari buku-buku Urip Iku Urup tersebut.
Gajah mati tinggalkan gading. Macam mati tinggalkan belang. Manusia saat pulang ke alam kelanggengan harusnya tinggalkan sebuah warisan berupa nama yang harum dan tentunya sebuah buku agar namanya abadi!
Semua itu tidak cukup diceritakan. Selanjutnya harus di eksekusi.
Hidup memang selalu merupakan sebuah meja pertaruhan. Dan medan yang selalu harus diperjuangkan bila ingin dimenangkan.
Baca juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Tunggu buku Urip Iku Urup part 2 nya...semoga tidak lama lagi, akan terbit.
Karena membaca dan menulis harus hidup dan dijalani oleh penulis. Dan isi buku harus terus berhenti dan bermuara pada memori dan benaknya pembaca.
Agar pikiran pembaca semakin paham dan mengerti apa arti dari Urip Iku Urup itu.
Dan syukur bisa menginspirasi pembaca agar melakukan hal yang sama, atau setidaknya memahami apa yang disampaikan penulis lewat karya buku tersebut!
Semoga Mestakung terjadi dan amin!
Demikian saja dan terima kasih.
AAS, 23 Maret 2023
Ruang Belajar Rungkut Surabaya
Editor : Nasirudin