Islam dan Seni

Reporter : Ponirin Mika
Ponirin Mika, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo (Jurnalis JatimUPdate.id)

Oleh : Ponirin Mika*

Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo (Jurnalis JatimUPdate.id)

Baca juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual


Nurul Jadid, Probolinggo, JatimUPdate.id : Islam dan seni tidak perlu dipertentangkan. Bahkan Islam memberikan ruang bagi umat manusia untuk menciptakan kesenian yang seindah-indahnya.

Kita tahu bahwa ajaran islam disebarkan di tengah-tengah masyarakat tidak luput dari seni. Di mana ayat-ayat Allah yang sangat indah-enak di dengar-enak di baca dan enak di rasa, sebagai bukti bahwa keindahan (seni) itu tidak dipersoalkan dalam agama Islam.
Menurut KBBI seni merupakan kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi atau orang yang berkesanggupan luar biasa. Seni diartikan sebagai hasil karya manusia yang mengandung keindahan dan dapat diekspresika melalui gerak ataupun ekspresi lainnya.


Seni merupakan fitrah manusia untuk terus dilestarikan, ia bersifat naluriah. Karena tidak ada satu pun dari manusia yang tidak menyukai adanya keindahan. Begitu agungnya seni dihadapan Tuhan yang maha kuasa-karena tuhan pun menyukai berkait keindahan itu sendiri.
Rasulullah SAW bersabda,


Allah itu indah dan sangat mencintai keindahan.

Dari hadits ini, Allah tuhan kita adalah zat yang mencintai keindahan-keindahan. Terus apakah seni termasuk keindahan itu sendiri?

Perlu diketahui Islam tidak pernah menentang kreatifitas-kreatifitas manusia. Namun perlu digarisbawahi bahwa islam sejatinya lebih memprioritaskan tentang prinsip moralitas daripada hanya keindahan belaka.

Islam tidak pernah melarang dan menolak segala bentuk karya seni yang darinya lahir kedamaian pikiran, melatih sensitivitas perasaan, dan mengasah kelembutan.

Sebab Allah menciptakan seluruh alam raya ini berdasarkan keindahan dengan segala bentuk keserasian dan keteraturannya, seperti yang terungkap dalam Surat Al-Hijr ayat 16:

 

Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya.”

Kemudian ditunjukkan lagi dalam Surat As-Saffat ayat 6:

 

Artinya: “Sesungguhnya, Kami telah menghiasi langit dunia dengan hiasan berupa bintang-bintang.”

Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup

Seorang pemikir islam Sayyaid Hossen Nasr mengatakan, Seni sebagai bahasa universal diharapkan mampu dijadikan sarana untuk mengajak berbuat baik (ma’ruf), dan mencegah perbuatan tercela (munkar) serta membangun kehidupan yang berkeadaban dan bermoral.

Di samping itu diharapkan dapat mengembangkan dan menumbuhkan perasaan halus, keindahan dan kebenaran menuju keseimbangan ‘material-spiritual’.

Dengan demikian seni mampu berperan dalam memenuhi kebutuhan manusia baik jasmani maupun rohani, serta dapat memberi kepuasan secara fisik dan psikis.

Seni sebagai alat perjuangan
Kalau kita berbicara seni maka tidak lepas dari sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak orang yang anti terhadap seni, padahal seni itu adalah alat perjuangan.

Tulisan ini menyajikan sisi lain perjuangan para seniman yang memiliki andil besar dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

Peran para seniman tersebut mengisyaratkan bahwa berjuang tidak selamanya harus dengan mengangkat senjata.

Salah satu bentuk dukungan dan kontribusi seniman terhadap perjuangan adalah munculnya berbagai produk seni sebagai bentuk ungkapan mereka dalam mengekspresikan dirinya, salah satunya adalah dalam bentuk lukisan.

Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid

Bentuk ungkapan dari luapan jiwa yang tulus dan murni para seniman mampu menghasilkan karya dalam bentuk lukisan poster-poster perjuangan yang menghipnotis dan membakar semangat para pejuang untuk habis-habisan membela tanah air.

Melalui karya-karya yang dihasilkannya, mereka mampu mengobarkan semangat bagi para pejuang.

Lukisan Memanah karya Henk Ngantung misalnya, dapat memberikan inspirasi kepada Bung Karno dalam usaha-usaha memberikan semangat kepada para pemuda untuk merebut kemerdekaan. Lukisan ini menjadi sangat istimewa bagi pribadi Sukarno karena lukisan ini turut menjadi saksi sejarah bagi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Secara formal Sukarno mengonsep lukisan ini sebagai latar belakang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, dan 28 hari setelah Indonesia Merdeka, tepatnya pada 14 September 1945 lukisan ini kembali digunakan sebagai latar belakang pada acara konferensi pers perdana bagi bangsa Indonesia yang baru saja merdeka.

Bahkan di saat pemerintah indonesia di pandang kurang baik dalam melaksanakan tugasnya, maka para seniman pun mengkritik melalui puisi, poster dan seni gerak.

Disamping itu, dengan adanya lagu-lagu yang mengajak untuk melakukan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Sebut saja Rhoma Irama (nada dan dakwah) iwan fals, dan lain-lainnya.

Namun sekarang pertanyaannya apakah seni itu bebas nilai? Di sini HMI harus tegas dalam bersikap. Tentu dalam islam, apapun bentuknya termasuk seni tidaklah bebas nilai. Seni bukan hanya memikirkan kreatifis insani melainkan jua tidak lepas dari nila-nilai ilahi. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru