Menjaga Tradisi Pesantren

Ponpes Nurul Jadid Gelar Bahtsul Masail se-Jawa Timur

Reporter : -
Ponpes Nurul Jadid Gelar Bahtsul Masail se-Jawa Timur
Suasana acara Bahtsul Masa’il (BM) pada Kamis, 23 Januari 2025, di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

 

Probolinggo, JatimUPdate.id : Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) menggelar acara Bahtsul Masa’il (BM) pada Kamis, 23 Januari 2025, di Aula 1 PPNJ.

Baca Juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual

Kegiatan ini bertujuan untuk membahas masalah keummatan dan kebangsaan, sekaligus menjadi wadah diskusi bagi para santri dari berbagai pesantren untuk bertukar pemikiran dalam mengkaji masalah fiqh dengan mengedepankan teks turats sebagai rujukan utama.

Acara Bahtsul Masa’il kali ini istimewa, karena bertepatan dengan dua perayaan penting, yaitu Harlah Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-102 dan Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid yang ke-76.

Sebanyak 22 delegasi pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Pamekasan, Pasuruan, hingga Banyuwangi, turut hadir dalam acara ini. Dalam rangkaian acara tersebut, panitia memilih Kyai Muhibbul Aman Aly sebagai mushohih, sementara Gus Roy Fadli dan Gus Ibrahim bertugas sebagai perumus materi BM.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kyai Moh. Zuhri Zaini, membuka acara dengan memberikan sambutan.

Dalam pidatonya, Kyai Zuhri menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini yang bertepatan dengan perayaan Harlah NU dan Harlah Ponpes Nurul Jadid.

Ia mengungkapkan harapan agar kegiatan ini menjadi sarana untuk mendapatkan tambahan nikmat dari Allah SWT. “Semoga acara ini menjadi sarana untuk menambah nikmat dari Allah SWT,” ujar Kyai Zuhri.

Kyai Zuhri kemudian menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) adalah wadah yang melanjutkan perjuangan para ulama terdahulu dalam skala nasional, dan pesantren merupakan inti dari NU.

Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup

Oleh karena itu, menurutnya, sangat penting bagi NU untuk tetap dipimpin oleh mereka yang memiliki latar belakang pesantren.

“Jika NU dipimpin oleh pihak yang bukan berasal dari pesantren, maka perubahan mendasar bisa terjadi. Benarlah yang disampaikan oleh Kyai Miftah, bahwa NU adalah pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil,” jelas Kyai Zuhri.

Lebih lanjut, Kyai Zuhri menekankan bahwa Bahtsul Masa’il merupakan sarana untuk mendorong semangat para santri dalam menjaga dan melestarikan kajian kitab turats sebagai tradisi ilmiah para ulama.

Ia menegaskan bahwa meskipun pesantren harus mengikuti perkembangan zaman, esensi dan jati diri pesantren sebagai pusat ilmu agama harus tetap terjaga.

Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid

“Sebagai warga NU, kita boleh mengembangkan pesantren sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi pesantren harus tetap menjaga akar dan jati dirinya,” tegas Kyai Zuhri.

Ketua Panitia Bahtsul Masa’il, Ainul Yakin, menambahkan bahwa acara ini merupakan bagian dari syiar agama dan pengembangan ruh pesantren, yaitu kajian kitab turats yang menjadi warisan ulama.

“Bahtsul Masa’il ini adalah pengembangan dari ruh pesantren yang terus menjaga dan mengembangkan tradisi ilmiah,” ujar Ainul.

Dengan terselenggaranya Bahtsul Masa’il, diharapkan pesantren-pesantren di Jawa Timur, serta umat Islam pada umumnya, dapat terus menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan yang telah lama menjadi ciri khas pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang autentik. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat