Jabatan Sekda Jadi Rebutan, DPRD Surabaya Ingatkan Seleksi Harus Transparan
Surabaya, JatimUPdate.id – Perebutan kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya semakin panas. Sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) disebut-sebut sebagai kandidat kuat dalam seleksi terbuka yang digelar Wali Kota Eri Cahyadi.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menegaskan proses seleksi tidak boleh hanya menjadi formalitas untuk mengamankan posisi bagi orang-orang tertentu.
Baca Juga: KBS Resmi Jadi Perumda, Manajemen Kebun Binatang Surabaya Siap Benahi Legalitas
Menurutnya, jabatan strategis seperti Sekda harus diperebutkan secara terbuka dan berbasis kompetensi.
“Jangan sampai ada kesan kalau posisi ini sudah ‘diatur’ untuk pihak tertentu. Semua yang memenuhi syarat harus diberi kesempatan yang sama untuk bersaing,” ujar Yona, Rabu (12/3).
Yona juga menekankan setiap kandidat harus memiliki visi dan grand design yang jelas untuk membawa perubahan nyata bagi Kota Surabaya.
“Jangan habya retorika. Kalau tidak punya konsep konkret untuk lima tahun ke depan, ya tidak usah dipilih,” tegasnya.
Selain itu, Yona mengingatkan agar seleksi tidak hanya berkutat di lingkaran kecil birokrasi yang sudah ada.
Dari sudut pandangnga, banyak pejabat di lingkungan Pemkot Surabaya yang potensial tetapi belum mendapat kesempatan.
“Kalau seleksinya hanya muter di situ-situ saja, kapan regenerasi bisa berjalan? Harus ada kesempatan bagi mereka yang benar-benar punya kompetensi,” tambahnya.
Dia juga mengingatkan jabatan Sekda memiliki tanggung jawab besar, terutama dalam menghadapi tantangan keuangan daerah.
“Surabaya saat ini punya PR besar, terutama dalam menutup defisit Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sekda harus bisa menjadi otak di balik kebijakan yang solutif,” ujarnya.
Baca Juga: Apresiasi Purabaya-Kenpark Lewat Tol, Eri Irawan Dukung Kembali Pakai Bus
Dari informasi yang beredar, dua kepala OPD disebut sebagai kandidat kuat dalam seleksi ini, yaitu Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, dan Kepala Satpol PP Surabaya, M Fikser.
Menanggapi dinamika ini, Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdusallam, menilai seleksi kali ini lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.
“Biasanya seleksi Sekda dilakukan secara tertutup dan melibatkan pemerintah pusat. Tapi kali ini, Wali Kota Eri Cahyadi membuka ruang agar publik bisa ikut menilai,” ujar Surokim.
Ia menilai langkah ini sebagai bentuk transparansi dalam birokrasi, sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat siapa yang paling layak menduduki jabatan Sekda.
“Ini bukan sekadar urusan birokrasi, tetapi juga ada aspek politik. Dengan keterbukaan ini, masyarakat bisa ikut menilai,” jelasnya.
Baca Juga: BPJS Nonaktif Tanpa Pemberitahuan, Warga Miskin Terancam Gagal Operasi
Surokim juga menyoroti harapan agar seleksi ini turut melibatkan kandidat dari kalangan perempuan.
“Sudah saatnya ada warna baru di birokrasi Surabaya. Jika ada kandidat perempuan yang kompeten, tentu ini akan menjadi hal positif,” tambahnya.
Dalam proses seleksi tahun ini, tercatat ada 500 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mendaftarkan diri untuk mengikuti lelang jabatan di Pemkot Surabaya. Dari jumlah tersebut, 100 peserta lolos ke tahap awal, dengan 70 di antaranya merupakan pejabat petahana dan 30 lainnya adalah penantang baru.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengakui bahwa posisi Sekda menjadi salah satu jabatan yang paling diminati.
“Yang daftar Sekda ini ya pinter-pinter semua. Maksudnya, memang kompetisi di sini cukup berat,” demikian Eri Cahyadi (*Roy)
Editor : Miftahul Rachman