In Memorial Kirana Kejora aka Antiek Widijati
Mbak Key, Sugeng Kondur: Pena dan Jiwa yang Tak Pernah Padam
Oleh : Andi Agus Subroto
Rungkut, Surabaya, JatimUPdate.id : Pagi ini bukan sekadar pagi biasa. Rasanya sesak. Seperti kehilangan bintang yang diam-diam jadi penunjuk arah bagi banyak insan yang berkarya lewat kata.
Baca Juga: Epistemologi Pulang dan Akar yang Menghidupi
Mbak Key—begitu kami memanggilmu dengan penuh kehangatan—telah berpulang. Sosok perempuan tangguh, pemilik pemikiran yang dalam dan universal. Seorang penulis yang telah selesai dengan dirinya sendiri, yang menjadikan hidup bukan tentang aku, tapi tentang memberi. Kepada orang-orang di sekitarnya. Kepada komunitas.
Kepada Fakultas Perikanan yang ia banggakan. Kepada almamater UB yang ia rawat penuh cinta. Kepada IKA UB, khususnya di Kompartemen Budaya yang menjadi ladang pengabdiannya.
Nama lengkapmu: Kirana Kejora. Tapi bagi kami, engkau adalah Mbak Key, cahaya yang menyala lembut di antara kerasnya zaman. Di komunitas Brawijaya Writers Club (BWC), engkau bukan hanya seorang penggagas, tapi juga penyulam harmoni.
Di grup WhatsApp, engkau bisa menjadi siapa saja—ibu, kakak, sahabat, bahkan pesuruh yang paling siap turun tangan demi memastikan semuanya berjalan baik. Semua orang, dari senior sampai yunior, tak ragu angkat topi atas integritas dan dedikasimu.
Dan mari kita bicara soal karya—di sini jejakmu sungguh abadi. Novel Kenang Langit bukan hanya cerita sahabat dari Pantai Anyer. Di situ ada nilai-nilai karakter yang kini mulai langka: kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan ketekunan.
Baca Juga: Syahda Guruh Langkah Samudera, Inspirasi Alumni UB Menjaga Marwah Bangsa
Buku Air Mata Terakhir Bunda adalah cermin perjuangan seorang ibu di tengah tragedi kemanusiaan. Kidung Cinta Sejati dan Rindu Terpisah di Raja Ampat bukan sekadar fiksi, tapi napas panjang dari seorang perempuan yang menjadikan setiap kata sebagai doa untuk Nusantara.
Engkau bukan hanya menulis. Engkau menghidupkan. Engkau menyulut api dalam jiwa-jiwa yang letih. Dari forum budaya nasional hingga panggung pembacaan puisi di Kuala Lumpur, engkau membawa Indonesia dengan elegan dan kesantunan khasmu. Tak heran jika namamu harum bahkan di antara para pemahat aksara kelas kakap negeri ini.
Mbak Key adalah manusia edisi langka. Limited edition, kalau boleh dibilang begitu. Lahirnya dirayakan semesta, dan kepergiannya hari ini membuat banyak penulis, sahabat, kolega, hingga para pengagum kata-kata kehilangan.
Tapi, kehilangan ini bukan kehampaan. Ini adalah bukti bahwa hidupmu telah menyentuh dan menggerakkan.
Baca Juga: RSUB Resmikan Pusat Penyakit Infeksi Melalui Program Global Gateway
Mengantarkanmu pulang dari Bumi Pahlawan di Surabaya adalah sebuah penghormatan. Kau sudah menyelesaikan lakon hidupmu dengan manis. Pena mungkin telah berhenti menulis, tetapi cahaya dari tulisanmu tak akan pernah padam.
“Selama masih ada kata, hidup takkan pernah benar-benar selesai.”
Sugeng kondur Mbak Key.???????????????? AAS, 7 Mei 2025
Ruang Inspirasi Rumah Rungkut Surabaya
Editor : Yuris. T. Hidayat