Battle Sound Horeg: Ancaman Tak Terlihat di Bawah Permukaan Laut
Oleh : Citra Satrya Utama Dewi
Dosen Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya
Baca Juga: Semangat Hari Pers Nasional 2026, Bontangku Perkuat Komitmen Literasi Digital melalui Legalitas Baru
Malang, JatimUPdate.id : Redaksi JatimUPdate.id secara khusus mendapatkan kiriman artikel yang membicarakan konservasi dan keamanan ekologi terkait ulah manusia yang mencari lokasi untuk memuaskan hobi dimana kesenangan itu oleh akademisi dinilai bisa membahayakan lingkungan dan ekosistem laut.
Selamat menikmati :
Laut yang Tidak Lagi Sunyi
Selama ini, laut kerap dibayangkan sebagai ruang sunyi tempat paus bernyanyi, ikan berkomunikasi, dan gelombang menyapu pantai dalam kedamaian. Namun, kenyataan di lapangan kini berbanding terbalik. Di balik biru yang tampak tenang, tersembunyi ancaman tak terlihat—polusi suara.
Apa Itu "Battle Sound Horeg"?
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat pesisir dan nelayan di Jawa Timur mulai resah dengan fenomena yang disebut battle sound horeg. Ini adalah praktik memutar musik berdentum keras dari atas kapal wisata atau pesta laut, yang umumnya dilakukan untuk hiburan.
Namun, suara keras ini tidak hanya mengganggu sesama manusia, tapi juga merambat ke bawah laut dan memengaruhi kehidupan akuatik.
Suara di Laut: Bukan Sekadar Gangguan
Air adalah penghantar suara yang sangat baik. Suara dari kapal, mesin, dan bahkan musik keras bisa menjalar jauh di bawah permukaan air.
Aktivitas manusia seperti perahu bermotor, kapal feri, kapal penangkap ikan, hingga platform minyak, semuanya menghasilkan kebisingan. Bahkan kapal kecil seperti jetski bisa menghasilkan suara 130–160 dB (Erbe et al., 2019).
Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Penghargaan Qori Terbaik MTQ Nasional
Lebih jauh, suara dari baling-baling kapal atau getaran dari lambung juga menambah kompleksitas kebisingan bawah laut (Urick, 1983). Suara ini bisa datang dari berbagai arah dan frekuensi, menciptakan lanskap suara yang rumit.
Siapa yang Terdampak?
Mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba menggunakan suara untuk navigasi dan komunikasi. Kapal besar biasanya memancarkan suara frekuensi rendah yang sangat sensitif bagi paus (Parks et al., 2007; Cranford & Krysl, 2015).
Namun, kapal juga menghasilkan suara frekuensi tinggi yang bisa mengganggu lumba-lumba dan pesut (Veirs et al., 2016; Marley et al., 2017). Ikan pun tidak luput. Mereka menghasilkan suara untuk kawin dan orientasi, dengan frekuensi mulai 50 Hz hingga 5 kHz (Vella et al., 2001). Suara musik keras dari kapal dapat menutupi sinyal-sinyal ini, bahkan memicu stres atau perubahan perilaku.
Bukan Hanya Suara, Tapi Getaran
Suara keras bukan satu-satunya masalah. Getaran akibat musik berdentum atau langkah kaki juga bisa merambat ke dalam air. Penelitian menunjukkan bahwa frekuensi rendah dari langkah kaki manusia bisa mencapai 30–470 Hz dan menghasilkan tekanan suara yang signifikan (Li et al., 1991; Ekimov & Sabatier, 2006).
Battle sound dari kapal wisata memadukan keduanya—suara dan getaran. Keduanya merambat melalui air dan mengganggu ritme alami bawah laut. Karena suara tidak bisa dibendung seperti cahaya, maka seluruh makhluk laut—baik besar maupun kecil—tidak punya pilihan selain mendengarnya.
Pentingnya Penelitian Lanjutan
Baca Juga: Disorot Prabowo, Pemkot Malang Siap Tertibkan Baliho Demi Estetika Kota
Sayangnya, belum banyak studi yang fokus mengukur intensitas dan frekuensi kebisingan dari fenomena battle sound. Penelitian mendalam diperlukan untuk mengetahui rentang frekuensi yang dihasilkan, bagaimana spektrum suaranya, dan dampaknya jika dibandingkan dengan kebisingan dari kapal biasa.
Pengetahuan ini penting agar pemerintah, masyarakat, dan pelaku wisata bisa bersama-sama mengatur batas aman suara di laut demi melindungi ekosistem.
Saatnya Bertindak
Kegiatan manusia seperti menyetel musik keras di laut, mungkin tampak sepele. Tapi dampaknya bisa besar bagi kehidupan yang tidak terlihat mata. Jika kegiatan manusia bisa membunuh dalam diam, maka diam kita juga bisa menjadi bentuk pembiaran.
Sudah waktunya kita bersuara untuk melindungi suara laut. Karena laut adalah rumah bagi jutaan makhluk hidup yang tak bisa memilih untuk menutup telinga.
Referensi
Butler, J., et al. (2016). Underwater soundscapes... Journal of Experimental Marine Biology and Ecology, 479.
Cranford, T. W., & Krysl, P. (2015). Fin whale sound reception... PLoS One, 10.
Ekimov, A., & Sabatier, J. M. (2006). Vibration and sound signatures... JASA, 120(2).
Erbe, C., et al. (2019). The effects of ship noise... Frontiers in Marine Science, 6.
Li, X., et al. (1991). Walking sounds... JASA, 90(6).
Marley, S. A., et al. (2017). Vessel traffic and dolphins... Scientific Reports, 7.
Parks, S. E., et al. (2007). Right whale calling behavior... JASA, 122.
Urick, R. J. (1983). Principles of Underwater Sound.
Veirs, S., et al. (2016). Ship noise and echolocation... PeerJ, 4.
Vella, G., et al. (2001). Noise from offshore wind farms... JNCC Report.(dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat