Mengutip Reuters, Johnson & Johnson sejak 2020 sempat menghadapi 38.000 tuntutan hukum dari para konsumen dan penyintas, yang mengklaim produk bedaknya menyebabkan kanker. Ya, diungkapkan bahwa bedak talc tersebut mengandung kontaminasi asbes dan karsinogen, yang disebut sebagai pemicu kanker.
Kendati demikian, Johnson and Johnson telah membantah tuduhan tersebut. Mereka menyampaikan pengujian ilmiah dan persetujuan otoritas kesehatan selama beberapa dekade terakhir yang menunjukkan bedaknya aman dan bebas abses, sehingga tidak bisa disebut pemicu kanker.
Keputusan untuk berhenti menjual bedak bayi Johnson & Johnson berbasis talc sebenarnya sudah diumumkan sejak 2020. Namun, baru Amerika Serikat dan Kanada saja yang melakukannya. Dengan pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis (11/3) kemarin, Johnson and Johnson secara resmi akan menghentikan penjualannya secara global.
Masih dalam pernyataan yang sama, Johnson & Johnson menyatakan pihaknya akan beralih membuat bedak tabur berbasis corn starch atau tepung jagung. Bahan dasar yang satu ini pun sudah digunakan Johnson & Johnson dan dijual di banyak negara.
Sekadar info, bedak tabur bayi umumnya menggunakan bahan dasar talc. Talc adalah mineral pada tanah liat yang diambil dari endapan bawah tanah. Talc termasuk mineral paling lembut, sehingga membuatnya digunakan untuk berbagai produk industri. (Yok)