Arief Rosyid: HMI Lahir dari Rakyat, Bukan Elit Kekuasaan
Jakarta, JatimUPdate.id – Mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 2013–2015, Arief Rosyid Hasan, memberikan tanggapan keras atas pernyataan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang menyebut HMI sebagai organisasi yang “tidak tumbuh dari bawah”.
Dalam acara pengukuhan PB IKA PMII, Cak Imin menyampaikan, “Kalau ada yang tak tumbuh dari bawah pasti bukan PMII, pasti itu HMI.” Ucapan ini dinilai Arief sebagai bentuk ketidakpahaman terhadap sejarah HMI yang telah berkontribusi besar dalam perjalanan bangsa.
Baca Juga: Runtuhnya Benteng Moral HMI : 79 Tahun Mengasah Diri dan Menjaga Arah
“Pernyataan seperti itu ahistoris dan menyesatkan. HMI lahir dari rahim rakyat, bukan dari elit kekuasaan,” kata Arief dalam pernyataan tertulisnya, Senin (14/7).
Ia menjelaskan, HMI berdiri pada 5 Februari 1947 di tengah perjuangan kemerdekaan Indonesia, dengan semangat keislaman dan kebangsaan yang mengakar di masyarakat, terutama kalangan mahasiswa dari keluarga biasa.
“HMI berdiri di kampus, bukan di istana. Kader HMI lahir dari pesantren, kampus daerah, dan keluarga sederhana,” tegas Arief.
Baca Juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik
Sebagai pejabat negara dan tokoh publik, Arief mengingatkan Cak Imin agar lebih berhati-hati dalam berucap. Ia menilai pernyataan tersebut bukan hanya mencederai HMI, tetapi juga tidak mencerminkan semangat persatuan dalam gerakan mahasiswa Islam.
“Kami menghargai PMII sebagai saudara seperjuangan. Tapi jangan jadikan sejarah sebagai alat untuk saling merendahkan,” ujarnya.
Baca Juga: Dies Natalis ke-79, HMI Bondowoso Tegaskan Komitmen Perkuat Nilai Perjuangan dan Perkaderan
Arief mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat sejarah organisasi kemahasiswaan secara proporsional. Menurutnya, semua organisasi mahasiswa—baik HMI, PMII, KAMMI, GMNI, maupun lainnya—memiliki kontribusi yang signifikan dalam membangun negeri.
“Persaingan antarorganisasi mahasiswa seharusnya memperkaya gagasan, bukan membenturkan identitas,” tutup Arief Rosyid (RED).
Editor : Redaksi