Akibat Penutupan Jalur Gumitir, Jember Alami Krisis BBM

Reporter : -
Akibat Penutupan Jalur Gumitir, Jember Alami Krisis BBM
Antrian Warga tengah menunggu giliran pengisian BBM di salah satu SPBU di wilayah Kabupaten Jember. Kondisi ini merata hampir di semua SPBU di Jember mengalami antrian luar biasa.

 

Jember, JatimUPdate.id - Pada hari Minggu (27/7/2025) beberapa kawasan di Kabupaten Jember biasanya lengang dan tenang. Namun kali ini, suasana berubah menjadi penuh kepenatan akibat kemacetan yang melanda beberapa wilayah.

Baca Juga: Safari Ramadan MW KAHMI Jatim Dimulai dari Jember, Konsolidasi Sekar Kijang Sambut Regenerasi 2026

Penyebabnya adalah antrean panjang dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Umar, salah seorang yang sedang mengantre BBM di sebuah SPBU A. Yani, mengatakan bahwa kelangkaan BBM di Kabupaten Jember menyebabkan antrean panjang di sejumlah titik di pusat kota Jember. Biasanya, Minggu pagi (28/072025) adalah waktu yang relatif sepi, tapi kini kemacetan tak terhindarkan.

Hal senada juga disampaikan oleh Ahmadi, yang juga sedang menunggu giliran antrian ditengah panasnya terik matahari.

Ia mengaitkan kemacetan ini dengan gangguan distribusi BBM akibat penutupan jalur di Pelabuhan Ketapang, yang berimbas pada keterlambatan pasokan BBM di hampir seluruh SPBU di wilayah Jember.

Menanggapi kelangkaan ini, Bupati Jember, Muhammad Fawait, segera mengambil langkah cepat.

Ia berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk mengalihkan jalur distribusi BBM yang selama ini bergantung pada jalur utama yang saat ini ditutup, yaitu jalur Gumitir.

“Kami telah berkoordinasi dengan Pertamina dan meminta agar distribusi BBM dialihkan dari jalur Malang dan Surabaya," kata Bupati Fawait kepada pers.

Ia optimistis dalam dua hari ke depan pasokan bisa kembali normal.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Jember mengaktifkan tim pemantau lapangan dari Dinas Perhubungan dan Satpol PP untuk memastikan pengiriman BBM berjalan aman dan mencegah praktik penimbunan.

Kelangkaan BBM terutama terasa di wilayah Silo, Mayang, Ambulu, dan Puger. SPBU di daerah-daerah ini mengalami keterlambatan pengiriman terutama untuk jenis Pertalite dan Solar. Imbasnya, stok Pertalite di seluruh SPBU Jember habis pada Sabtu (26/7/2025), memaksa pengendara membeli BBM eceran dengan harga melonjak dari Rp 12 ribu menjadi Rp 18 ribu per botol.

Baca Juga: Abdul Mu’ti: Pendidikan Tak Boleh Hanya Cetak Orang Pintar, Tapi Khalifah yang Memakmurkan Bumi

Pedagang eceran di beberapa kecamatan, seperti Desa Balung dan Desa Garahan, memanfaatkan situasi ini. Muslih, pedagang di Desa Balung, mengaku stoknya hampir habis karena banyak pembeli yang membeli dua botol sekaligus. Sedangkan Sudiyono, seorang pedagang eceran di Desa Garahan, melayani puluhan pengendara motor setiap hari, meningkat drastis dari biasanya.

Ketua DPC Hiswana Migas Besuki, Ikbal Wilda Fardana, mengonfirmasi bahwa stok Pertalite di beberapa SPBU sudah habis, termasuk jenis Biosolar. Meski demikian, stok Pertamax dan Pertamax Turbo masih tersedia dan menjadi alternatif utama bagi pengendara.

Selain BBM, stok tabung elpiji 3 kilogram juga mulai menipis. Pembelian elpiji tidak bisa dilakukan dari luar wilayah Jember, berbeda dengan BBM yang masih dapat dialihkan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Jember, tetapi juga meluas ke wilayah Karisidenan Besuki, kecuali Lumajang.

Sebagai solusi, pengambilan stok BBM dialihkan ke jalur yang lebih aman, seperti dari Surabaya dan Malang. Proses pengambilan elpiji juga dilakukan di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) di kedua kota tersebut.

Penutupan jalur nasional di kawasan Gumitir sejak 24 Juli hingga 24 September 2025 menjadi faktor utama. Proyek perbaikan jalan dan jembatan di KM 233+500 membuat mobil tangki BBM harus mengambil jalur alternatif yang lebih panjang dan sulit dilalui.

Menurut Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, jalur mobil tangki berubah dari sebelumnya Banyuwangi–Gumitir–Jember menjadi Banyuwangi–Situbondo–Arak-Arak–Bondowoso–Jember. Jalur alternatif ini hanya bisa dilalui mobil tangki berkapasitas 16 KL dan 24 KL.

Baca Juga: Haedar Nashir: Bumi Harus Dimakmurkan Tanpa Dirusak, Ekoteologi Jadi Gerakan Muhammadiyah.

Untuk mengantisipasi kemacetan dan gangguan, Pertamina berkoordinasi dengan Satlantas dan Polres di wilayah terkait untuk pengawalan kendaraan pengangkut BBM dan LPG.

Polres Jember, melalui Kasat Lantas AKP Bernardus Bagas Simarmata, menegaskan kesiapan mereka dalam mengantisipasi gangguan keamanan dan kemacetan akibat antrean panjang BBM. Personel kepolisian ditempatkan di SPBU yang mengalami antrean terpadat untuk mengatur lalu lintas dan menjaga ketertiban.

Koordinasi intensif dengan Pertamina terus dilakukan untuk memantau jadwal dan volume distribusi BBM dari jalur alternatif. Selain itu, tim pengawalan khusus juga disiapkan untuk memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan aman hingga ke tujuan.

“Masyarakat kami imbau untuk tetap tertib dan bersabar selama antrean,” ujar AKP Bagas.

Krisis BBM yang melanda Kabupaten Jember akibat penutupan jalur Gumitir memperlihatkan betapa rentannya rantai distribusi energi terhadap gangguan infrastruktur. Namun, dengan respons cepat dari pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat keamanan, diharapkan pasokan BBM dapat kembali normal dalam waktu dekat.

Situasi ini juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan distribusi energi, agar pelayanan publik tetap berjalan tanpa hambatan. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat