"Di Balik Kontroversi Xinjiang", buku pertama berbahasa Indonesia kupas isu Muslim Uighur

Reporter : -
"Di Balik Kontroversi Xinjiang", buku pertama berbahasa Indonesia kupas isu Muslim Uighur
M. Irfan Ilmie dengan bukunya.

 


Jakarta, JatimUPdate.id - Isu seputar etnis minoritas Muslim Uighur yang mendiami Daerah Otonomi Xinjiang, wilayah setingkat provinsi di baratlaut daratan China, menjadi salah satu topik pembicaraan berskala internasional.

Baca Juga: Bahas Nasib Mall THR, Pimpinan DPRD Bertemu Delegasi Pedagang Asal Tiongkok

Bukan karena letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan Afghanistan yang dilanda perang selama bertahun-tahun itu. Bukan pula karena ambisi China yang membangun blok perdagangan Sabuk Jalan (Belt and Road) dari negara-negara "Stan", seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan yang berjajar memagari Xinjiang di sisi barat.

Isu seputar Uighur kerap kali diekspose dalam tinta dan lensa pemberitaan media secara spektakuler, menggemparkan, dan kontroversial.

Di satu sisi, narasi-narasi diskriminatif, eksploitatif, dan genosida digambarkan sebagai pelanggaran atas hak asasi manusia yang dilakukan otoritas China terhadap etnis minoritas muslim itu.

Namun di sisi lain, wilayah Xinjiang justru dimodernisasi dan terus dibangun oleh otoritas China agar perekonomiannya bisa setara dengan provinsi-provinsi lainnya di negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Di sinilah Xinjiang menjadi topik perdebatan antara fakta dan propaganda, khususnya dalam konteks rivalitas pengaruh geopolitik Amerika Serikat dan China.

Buku tentang Uighur dan Xinjiang ini merupakan yang pertama kalinya ditulis dan disusun dalam Bahasa Indonesia. Situasi di dalam kamp-kamp vokasi yang sempat menyita perhatian masyarakat internasional atas dugaan pelanggaran HAM di Xinjiang juga tidak luput diturunkan dalam catatan reportase yang kemudian dikompilasi dalam buku ini.

Tentu saja buku ini menjadi penting, mengingat masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim juga sangat perhatian terhadap nasib saudara sesame muslimnya di Xinjiang sana.

Perbedaan cara pandang antara masyarakat awam dan pemerintah Indonesia dalam menyikapi isu Uighur ini juga menjadi hal yang menarik untuk disajikan dalam buku ini.

Dalam kurun waktu 2016-2023, M. Irfan Ilmie selaku Kepala LKBN ANTARA Biro Beijing beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung geliat pembangunan dan dinamika kehidupan sosial masyarakat etnis minoritas muslim Uighur yang membentuk populasi mayoritas Wilayah Otonomi Xinjiang itu.

Sebagai salah satu dari sebagian kecil wartawan asing yang beragama Islam yang mendapatkan akreditasi permanen selama peliputan di China selama kurun tersebut, M. Irfan Ilmie menuliskan tentang apa saja yang dilihat dan didengar tentang isu Uighur secara gamblang, objektif, tidak provokatif, dan tanpa bias sehingga bisa memperkaya khazanah pemikiran tentang rezim Komunis di China dalam memperlakukan umat Islam, terutama etnis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat