Sukadiono Resmi Jadi Guru Besar Fisiologi Olahraga
Surabaya, JatimUPdate.id — Pada Hari Sabtu (23/9/2023) lalu menjadi hari bersejarah bagi Dr. dr. Sukadiono, M.M., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, yang resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Fisiologi Olahraga di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya),
Baca Juga: Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Dua Fungsi Pendidikan, Wariskan Nilai dan Siapkan Khalifah Masa Depan
Acara pengukuhan berlangsung khidmat di Auditorium Gedung At-Tauhid Tower lantai 13.
Rektor UM Surabaya, Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., membuka sidang Senat Terbuka dengan ajakan membaca basmalah dan mengetukkan palu tiga kali sebagai tanda dimulainya acara.
“Sidang terbuka Senat Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan acara pengukuhan Guru Besar Profesor Doktor dokter Sukadiono Magister Manajemen dalam bidang ilmu Fisiologi Olahraga tahun 2025, dibuka dengan bacaan basmalah,” ucap Mundakir dengan tegas di hadapan para hadirin.
Wakil Rektor I UM Surabaya, Dr. dr. Muhammad Anas, Sp.OG., membacakan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 3461/M/KPT.KP/2025 tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen.
Keputusan ini menetapkan bahwa terhitung mulai 1 Juli 2025, Sukadiono resmi diangkat sebagai profesor atau guru besar di cabang ilmu Fisiologi Olahraga.
Surat keputusan tersebut ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Brian Yuliarto, pada 9 Juli 2025 di Jakarta.
Sebelumnya, Sukadiono menjabat sebagai lektor kepala sejak 1 Desember 2022, dengan unit kerja di UM Surabaya di bawah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII.
Acara pengukuhan dihadiri oleh pimpinan Muhammadiyah, civitas akademika UM Surabaya, keluarga, serta tamu undangan yang memberikan penghormatan atas pencapaian akademik tersebut. Suasana penuh kebanggaan dan khidmat mewarnai momen penting ini.
Dengan bertambahnya guru besar baru, UM Surabaya semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang fisiologi olahraga yang memiliki peranan penting dalam kesehatan dan olahraga.
Bagi Sukadiono, gelar guru besar bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi juga persembahan bagi Muhammadiyah, Jawa Timur, dan bangsa Indonesia.
Pengukuhan Dr. dr. Sukadiono sebagai guru besar menandai tonggak penting dalam karier akademiknya sekaligus memperkokoh posisi UM Surabaya sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkontribusi signifikan pada pengembangan ilmu olahraga.
Sukadiono dari Desa ke Puncak Akademik dan Kepemimpinan
Hidup sering membawa kita ke persimpangan yang tak pernah terduga. Itulah yang dialami Dr. dr. Sukadiono, M.M., yang sejak remaja bermimpi menjadi insinyur di Institut Teknologi Bandung, namun akhirnya mengukir jejak gemilang sebagai Guru Besar Fisiologi Olahraga dan pemimpin Muhammadiyah Jawa Timur sekaligus pejabat di pemerintahan pusat.
Lahir di Njuwet Kedunglosari, Tembelang, Jombang, pada 18 Desember 1968, Sukadiono—atau akrab disapa Suko—berkembang di tengah tiga “lapangan” yang membentuk karakter dan pilihannya: lapangan bola dari sang ayah mantan pemain bola, lapangan dakwah yang ia pelajari dari guru dan tokoh kampung, serta lapangan ilmu yang ia tekuni dengan semangat.
Baca Juga: Emil: Ancaman Lingkungan dan Disrupsi AI Nyata, Muhammadiyah Diminta Cetak Generasi Tangguh
Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Jombang, cita-citanya yang awalnya ingin menjadi insinyur berubah arah atas arahan ayahnya.
Ia memilih Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), sebuah keputusan yang kelak menjadi pintu gerbang pengabdian dan prestasi.
Di Unair, Suko tidak hanya belajar ilmu kedokteran, tetapi juga aktif memimpin dan menghidupkan komunitas remaja masjid.
Sejak 1996, ia dipercaya sebagai Ketua Takmir Masjid Jenderal Sudirman Darmawangsa, Surabaya—peran yang mengasah kemampuan sosial dan spiritualnya.
Perjalanan akademiknya berlanjut dengan Magister Manajemen di Universitas Narotama, kemudian meraih gelar Doktor Ilmu Keolahragaan dengan predikat cumlaude dari Universitas Negeri Surabaya pada 2012.
Karier profesionalnya dimulai di Poliklinik Universitas Putra Bangsa dan Klinik Cita Husada Kedung Asem, Surabaya.
Pada 2001, ia diangkat Direktur Akademi Keperawatan dan Akademi Analis Kesehatan UM Surabaya, lalu memimpin Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya pada 2002.
Suko terus naik hingga menjadi Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (2005–2012), dan akhirnya Rektor UM Surabaya selama tiga periode berturut-turut hingga 2024.
Baca Juga: Berkah Melimpah di Unmuh Jember, PWM Jatim Bagikan 11 Paket Umrah pada Kajian Ramadan 1447 H
Di bawah kepemimpinannya, UM Surabaya dikenal sebagai “Kampus Sejuta Inovasi” dengan terobosan bermitra bersama Persebaya, klub sepak bola besar Indonesia
Sepak Bola dan Ekosistem Atletik: Membentuk Rumah Kedua
Bagi Suko, sepak bola lebih dari sekadar olahraga. Ia melihatnya sebagai bahasa universal yang menyatukan dan membentuk karakter. Ia tidak hanya membuat kebijakan, tapi juga hadir langsung mendampingi atlet di lapangan, memberikan motivasi, dan merayakan keberhasilan mereka—menciptakan “rumah kedua” yang mendukung aspek fisik dan mental atlet.
Tidak terpisahkan dari kiprahnya di Muhammadiyah, Suko mulai dari merawat kegiatan masjid dan komunitas remaja hingga dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (2022–2027). Ia menekankan pentingnya manhaj, kaderisasi, filantropi, dan pengembangan amal usaha yang relevan.
Awal 2025 menandai babak baru saat ia dilantik sebagai Deputi II Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI. Dari kampus ke pusat kebijakan, ia membawa disiplin data dan semangat kolaborasi lintas sektor.
Pengukuhan sebagai Guru Besar Fisiologi Olahraga di UM Surabaya menjadi puncak akademik, namun bagi Suko, itu bukan akhir. “Guru Besar bukan akhir, melainkan awal babak pengabdian yang lebih luas—untuk ilmu, umat, dan Indonesia,” ujarnya.
Dari desa kecil di Jombang hingga panggung nasional, perjalanan Sukadiono mengajarkan bahwa cita-cita boleh berubah bentuk, tapi arah pengabdian harus tetap sama: menjadi manfaat bagi banyak orang. Ia menjalani setiap pilihan dengan keyakinan dan tawakal kepada Allah, menjadikan setiap langkah sebagai ladang pengabdian dan harapan.
Kisah Suko menginspirasi kita untuk menyambut perubahan dengan hati terbuka, terus belajar, dan berkontribusi nyata demi masa depan bangsa. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat