Kohati PB HMI di Depan DPR RI: Suara Perempuan Menggema untuk Demokrasi dan Keadilan Rakyat
Jakarta, JatimUPdate.id -
Korps HMI-Wati Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (Kohati PB HMI) hadir di depan Gedung DPR RI dalam rangka aksi nasional “Koreksi Indonesia” bersama PB HMI. Kehadiran Kohati bukan sekadar simbol, tetapi wujud nyata keterlibatan perempuan dalam menjaga demokrasi dan menyuarakan aspirasi rakyat di jantung kekuasaan negara.
Baca Juga: DPR dan Pemerintah Sepakati Langkah Penonaktifan BPJS Kesehatan PBI
Ketua Umum Kohati PB HMI, Sri Meisista, menegaskan bahwa DPR RI sebagai lembaga perwakilan rakyat tidak boleh kehilangan arah dan kepercayaan publik.
“Kami berdiri di DPR RI untuk ingatkan wakil rakyat bahwa kursi yang mereka duduki adalah amanah rakyat, bukan alat kepentingan elite. Kohati hadir sebagai suara moral, pastikan kritik mahasiswa tetap elegan, terarah, dan membawa solusi,” ungkap Meisista.
Dalam aksi ini, Kohati bersama PB HMI menegaskan Tujuh Suara Rakyat sebagai panggilan koreksi bagi DPR RI dan pemerintah:
1. Melakukan reformasi partai politik agar lebih transparan dan akuntabel.
2. Membenahi institusi publik secara serius dan menyeluruh.
3. Memecat wakil rakyat yang toxic dan tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
4. Mengurangi pemborosan anggaran pejabat, mengutamakan layanan publik.
5. Segera mengesahkan RUU Pro-Rakyat.
6. Merevisi UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
7. Mewujudkan reformasi perpajakan yang lebih adil.
Baca Juga: Bamsoet Dorong Penguatan Regulasi Dana Desa agar Tepat Sasaran dan Berkelanjutan
Meisista menambahkan bahwa perempuan tidak boleh dipinggirkan dalam barisan perjuangan mahasiswa.
“Kohati hadir di depan DPR bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai energi moral yang menyeimbangkan dinamika gerakan. Kami ingin menunjukkan bahwa suara perempuan mampu menghadirkan wajah teduh perjuangan, sekaligus menjaga kondusifitas aksi agar tetap bermartabat,” tegasnya.
Kohati PB HMI melihat bahwa demokrasi yang sehat harus dibangun di atas keadilan sosial, keberpihakan pada rakyat kecil, dan kesetaraan gender.
Oleh karena itu, aksi di depan DPR RI ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk mengingatkan kembali wakil rakyat akan tanggung jawab sejarahnya.
“Perjuangan ini tidak akan berhenti di jalan, tetapi akan kami kawal sampai ke meja kebijakan. Kohati akan terus memastikan ruang bagi suara perempuan terbuka lebar, agar demokrasi Indonesia tidak kehilangan nuraninya,” tutup Meisista. (rilis/sof/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat