Pecah Telur

oleh : -
Pecah Telur

"Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat!"

SEBUAH kisah megah berdaya ledak besar menghasilkan ruang inspirasi bagi pembaca, pendengar, dan pemerhati kisahnya. Berusaha selalu kita cari, sebagai sebuah referensi bahwa _impossible_ menjadi _possible_ ternyata mampu diraih oleh manusia. Dan itu banyak tidak sedikit!

Tak jarang kita itu hanya besar jadi seorang _followers_ semata. Dan dengan gagahnya ceritakan keberhasilan orang lain, kelompok lain, bahkan agama lain! "Terus Anda, tepatnya kita sendiri bagaimana?" Tanya ku pada seorang kawan lama, saat berjumpa dengannya di kota Malang, semalam. Ada kalanya di saat usia sudah mendekati waktu asyhar. Jangan bangga dan merasa gagah kalau hanya jadi pengekor orang, kelompok orang lain saja! Ya, jadi _pioneer_ lah. Jadikan sesuatu yang sudah di ubun-ubun ingin dilakukan itu patut dicoba! Siapa tahu gagal, syukur berhasil, bukan!

Tugas seorang intelektual: adalah pemasti soal pikiran yang begelayut di angannya mampu ia eksekusi menjadi sebuah tindakan  nyata! Meski ia hanya ingin belajar _tingwe_ melinting rokok tembakau sendiri dari lembaran kertas bekas yang berserak di rumah tempat tinggalnya. Orang tidak _mangan bangku_ sekolahan saja bisa kasih teladan tindakan-tindakan kecil yang menginspirasi. Lha, kita yang katanya sudah begitu lama duduk di bangku formal guna belajar dan mengejar gelar, abai membuat karya-karya yang _masterpiece_! Mungkin dikelas perkuliahan hanya bertemu dengan seorang pengajar semata, bukan seorang pendidik. Jadi kurang mendapat asupan _inner knowledge_ yang merasuk di jiwa, dari situ sebuah ilmu itu _manjing_ merasuk ke dalam benak juga sumsum tulangnya, lahirlah sebuah ide-ide, pikiran-pikiran besar, dan jadilah itu barang yang _migunani_!

Jangan senang dan sebatas bangga saja. Punya jejaring dan koneksi yang terbentang luas, membujur dari barat ke timur, dan dari utara ke selatan di seluruh penjuru mata angin! Kalau sekadar penikmat dan jadi tim hore semata! Kuasai satu ilmu secara mendalam, dan kita dikenal orang banyak karena pakar di bidang itu, lalu *kolaborasi* menjadi ideologi kita dalam bekerja di masa depan! Di situlah _take & give_ terjadi. Aku terima dilain waktu aku juga memberi! Kalau hanya bangga dipanggil magister, doktor, profesor, untuk apa? Kalau nirkarya, sama juga panggilan haji, abah, yang langsung buat besar itu kepala kita! _"Kok, sue ora ketemu, tambah pinter saiki awakmu. Ngombe obat opo bro," kataku kepada seorang kawan!"_ Semalam, saat bertemu dengan nya di Hotel berbintang empat di Bumi Arema.

Bagaimana? Sudah pecah telur kah target Anda sekarang? Entah jadi seorang murid, pemilik lapak, bahkan pemburu gelar yang berderet panjang menghiasi kartu nama Anda?

Ya, kalau hanya berhenti di keinginan semata! Ya, Anda tidak bisa menjadi teladan, setidaknya kisah yang bisa jadi inspirasi, bagi generasi mendatang. Saat Anda masih hidup, bahkan saat nama kita sudah ditulis di atas batu nisan! Kenapa saya harus berziarah ke makam orang ini, saya tidak kenal, lebih dari itu, tidak bisa saya dengar, baca, juga lihat karya-karya besar yang ia mampu lakukan selama ia hidup di dunia!

Pelajari satu ilmu dan jalani sebuah profesi hingga _expert_ . Adalah sebuah keniscayaan! Berawal dari pecah telur untuk karya pertama, kita akhirnya akan mampu hasilkan karya lainnya, nama lainnya yang kita sebut dan sepakati dalam obrolan semalam adalah buat itu semua jadi *barang-barang* yang bermanfaat bagi banyak orang!

Pesan kuat dan cukup penting dari diskusi semalam adalah, jadi manusia kok coba-coba, rugi tahu! Rugi waktu, rugi tenaga, dan rugi biaya! Sekali-kali buat Sang Pencipta itu tersenyumlah, kapan lagi, kalau tidak sekarang, sebelum *mendadak* dipanggil pulang!