Pesan Kiai Zuhri Zaini di Wisuda UNUJA: Jadilah Sarjana yang Menyinari, Bukan Mengotori

Reporter : -
Pesan Kiai Zuhri Zaini di Wisuda UNUJA: Jadilah Sarjana yang Menyinari, Bukan Mengotori
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH. Moh. Zuhri Zaini.

 

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id — Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH. Moh. Zuhri Zaini, menyampaikan pesan penuh makna kepada para wisudawan Universitas Nurul Jadid (UNUJA) agar menjadi sarjana yang membawa pencerahan bagi masyarakat.

Baca Juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual

Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan pada acara Wisuda UNUJA yang diikuti oleh 1.800 mahasiswa, Ahad (02/11/2025).

Dalam arahannya, Kiai Zuhri menegaskan bahwa wisuda bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal pengabdian untuk memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

“Selama ini mahasiswa hanya berkutat di atas meja. Setelah ini, mereka harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Kyai Zuhri.

Beliau mengingatkan pentingnya semangat belajar sepanjang hayat.

Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup

“Menuntut ilmu itu mulai dari buaian ibu hingga liang kubur. Belajar di sekolah hanyalah salah satu cara cepat mendapatkan ilmu, tetapi tempat ilmu itu ada di mana-mana,” tutur Kiai Zuhri.

Selain itu, Kiai Zuhri berpesan agar setiap musibah dijadikan pelajaran berharga, bukan sekadar ditangisi. Dengan semangat belajar yang terus menyala, seseorang akan mampu menggabungkan pengetahuan teoritis dan aplikatif sebagaimana para sahabat Nabi Muhammad SAW yang belajar langsung melalui teori dan praktik.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zuhri juga mendoakan agar para wisudawan menjadi “sarjana sirujana”, yaitu sarjana yang menyinari masyarakat dengan ilmunya.

Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid

“Jangan menjadi ‘sirjuna’ yang mengotori masyarakat, apalagi ‘syarrun jana’, orang yang justru mengancam lingkungannya,” pesannya.

Ia mencontohkan kondisi dunia modern, di mana banyak negara maju yang unggul dalam teknologi justru menjadi ancaman bagi negara-negara lemah.

Karena itu, beliau menegaskan pentingnya menjadikan ilmu sebagai sarana menebar kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat