Bincang Desa

Menelisik Jejak RM Margono, Kakek Presiden RI Ke-8, Membersamai Koperasi 1930-1940 di Tapal Kuda Jatim

Reporter : -
Menelisik Jejak RM Margono, Kakek Presiden RI Ke-8, Membersamai Koperasi 1930-1940 di Tapal Kuda Jatim
Tim Penelusur Sejarah RM Margono di bekas Stasiun Sukosari di Desa Sukorejo, Kec. Sukowono, Kab. Jember (Foto Kanan). Flayer kegiatan Ngobrol Desa dan screenshot suasana Zoommeting acara Ngobrol Desa. (Foto diolah Hendri Yulianto TPP Kab. Malang for Jatim

Jember, JatimUPdate.id - TVDesa melalui program Ngobrol Desa kembali menghadirkan acara yang berhasil menyedot perhatian ratusan peserta. Tema yang diangkat pun bukan sembarangan: “Menelisik Jejak RM Margono, Kakek Sang Presiden di Tapal Kuda.”

Dua narasumber yang memahami betul sejarah dan konteksnya tampil mengupas sosok Margono dengan hangat namun tajam—Yuristiarso Hidayat dari Sygma Research and Consulting yang juga Ketua Komite Tetap Kerjasama Koperasi Kadin Jatim dan Dodik Merdiawan, Ketua Tim Penelusur Jejak RM Margono Tapal Kuda.

Baca Juga: Pemerintah Atur Ritel Modern, Fokus pada Penguatan Koperasi Desa

Acara ini dipandu dengan penuh energi oleh Ahmad Faorzan Arif Hadi Prabowo atau Pak Itong (TAPM Jember) dan dibuka oleh Pemred TV-Desa Suryo Sukoco atau lebih dikenal dengan panggilan Padhe Koco.

Dalam pengantarnya, Padhe Koco menyebut penelusuran sejarah ini sebagai temuan berharga.

Bukan hanya penting bagi dunia riset sejarah, tetapi juga menjadi penyemangat baru bagi gerakan koperasi yang belakangan semakin ramai dibicarakan.

Yuristiarso Hidayat kemudian membawa peserta menyusuri jejak panjang RM Margono. Ia mengisahkan asal-usul Margono yang terhubung dengan Pangeran Benyakwide—Senopati Perang sekaligus sahabat dekat Pangeran Diponegoro. Margono juga tumbuh dalam tradisi keagamaan dan pesantren yang lekat.

Dari sini, jelas bahwa Margono bukan sekadar tokoh koperasi dan pendiri BNI, tapi juga bagian dari generasi pejuang yang ikut membentuk fondasi Republik.

Yuristiarso menekankan bahwa spirit dan optimisme Margono inilah yang perlu terus dirawat, terutama saat bangsa sedang berupaya bangkit secara ekonomi.

Sesi berikutnya tak kalah menarik. Dodik Merdiawan, koordinator pendamping desa di Kabupaten Jember yang memimpin langsung penelusuran jejak Margono di Tapal Kuda, memaparkan hasil temuan timnya.

Dengan melibatkan para Kepala Desa, mereka menyisir titik-titik penting yang tercatat dalam buku “10 Tahun (1930-1940) Koperasi Indonesia” karya Margono, terbitan Balai Pustaka 1941 itu.

Meski beberapa lokasi sudah berubah fungsi menjadi area permukiman, sekitar 60% jejak sejarahnya masih dapat ditelusuri.

Salah satu kisah yang mencuri perhatian adalah cerita Bu Hajah Aminah—sosok berusia 90 tahun yang masih menyimpan ingatan hidup tentang bagaimana ayahnya dulu mengekspor kubis ke Singapura pada masa Margono aktif membangun ekonomi rakyat.

Tak heran bila acara ini menarik begitu banyak peserta. Mulai dari Pendamping desa, kabupaten, provinsi, hingga perwakilan dari PMO dan Dinas Koperasi turut hadir menyimak. Selain diikuti oleh TPP di Jawa Timur, tampak juga beberapa peserta yang dari luar Jatim, baik Jawa Tengah juga Maluku Utara tampak berpartisipasi.

Baca Juga: Mendes Dorong Pertumbuhan Kopdes, Minimarket Diminta Stop Ekspansi

Kehadiran mereka menandai semangat baru dalam membicarakan kembali koperasi desa—sebuah romantisme sekaligus harapan yang kini kembali tumbuh, mengingatkan kita pada masa keemasan koperasi pada era kolonial.

Acara ditutup oleh Magfuri Ridwan, Koordinator Pendamping Desa Provinsi Jawa Timur. Ia mengajak semua pihak untuk bekerja sesuai peran masing-masing demi menghidupkan kembali semangat koperasi ala RM Margono, sejalan dengan visi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Kehebatan RM Margono Djoyohadikusumo

Nama RM Margono Djoyohadi Kusumo, lahir 16 Mei1895, di Purworedjo dan dimakamkan di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas dimana Koperasi Pertama di Indonesia berdiri.

Margono adalah salah satu sosok pilar penting dalam sejarah perkoperasian di Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh yang meletakkan dasar Koperasi Simpan Pinjam dan berperan besar dalam kelahiran Bank Negara Indonesia (BNI).

Buku 10 Tahun Koperasi terbitan Balai Pustaka yang disalin HB Yasin 1941 menjadi bukti sahih bagaimana RM Margono begitu memahami denyut pergerakan dan persemaaian koperasi di tlatah bumi nusantara di era Hindia Belanda.

Baca Juga: Safari Ramadan MW KAHMI Jatim Dimulai dari Jember, Konsolidasi Sekar Kijang Sambut Regenerasi 2026

Diakhir buku 10 Tahun Koperasi Karya RM Margono itu juga terdokumentasi jumlah Pusat Koperasi (Koperasi Sekunder) yang ada 13 unit dengan 319 unit koperasi primer per 31 Desember 1940.

"Sebuah data luar biasa bagi penyemangat 80.081 Koperasi Desa dan Koperasi Kelurahan Merah Putih di era Indonesia Modern ini," kata Yuristiarso.

Dalam perjalanan menuju kemerdekaan, ia ikut berjuang sebagai anggota BPUPKI mewakili Puri Mangkunegaran Surakarta dimana hubungan RM Magono dengan Puri Mangkunegaran karena dirinya didapuk sebagai tenaga penyedia ketahanan pangan dan logistik Puri Mangkunegaran kala itu.

Margono sangat lekat dengan memperjuangkan konsep ekonomi kerakyatan sebagai bagian dari fondasi negara.

Margono bukan sekadar teknokrat atau pejuang, ia adalah pendidik bagi banyak generasi—melahirkan gagasan yang terus relevan hingga kini. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap koperasi, warisannya terasa semakin hidup, menjadi inspirasi bagi banyak kalangan untuk kembali membangun ekonomi rakyat dari bawah.

Pewarta/notulensi : David TA PM Jember. (mmt/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat