Muhlis Ali dan Graha Yakusa: Rumah Belajar Aktivis Masa Depan
Malang, JatimUPdate.id - Di sebuah sudut desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, berdiri Graha Yakusa—bangunan sederhana yang menyimpan makna dalam sebagai “kawah candradimuka” bagi para mahasiswa dan aktivis muda.
Baca Juga: Runtuhnya Benteng Moral HMI : 79 Tahun Mengasah Diri dan Menjaga Arah
Tempat ini menjadi ruang penempaan karakter dan ide, sekaligus melestarikan tradisi ngopi sebagai ritual intelektual sebelum memulai perjuangan.
Muhlis Ali, sosok di balik berdirinya Graha Yakusa, menceritakan bagaimana ide tersebut lahir dari tradisi ngopi bersama para aktivis yang mulai redup akibat pandemi Covid-19.
“Revolusi Prancis pun berawal dari warung kopi,” ujarnya, mengingatkan pentingnya ruang diskusi dan pertemuan bagi para pejuang perubahan.
Perjalanan Muhlis dalam dunia aktivisme bermula pada era 1990-an di Jakarta. Tahun 1994 menjadi titik awal keterlibatannya aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tepat empat tahun sebelum rezim Soeharto runtuh.
Masa itu, menurutnya, adalah sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya, penuh tantangan karena tekanan intelektual dan moral dari rezim Orde Baru.
“Selain HMI, saya juga aktif di Humanika bersama Bang Bursah [Bursah Zarnubi], yang kini menjadi Bupati Lahat,” ujar Muhlis mengenang masa-masa penuh perjuangan yang membentuk fondasi hidupnya.
Setelah menjabat di berbagai posisi di HMI, Muhlis melanjutkan pengabdian di organisasi kepemudaan lain, termasuk KNPI, serta aktif mengadvokasi isu sosial masyarakat Madura di Jakarta melalui Higemura, FKMM, dan IKAMA.
Namun, momentum terpenting baginya datang ketika ia pulang ke Malang pada 2020, di tengah gelombang pandemi Covid-19.
Baca Juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik
Melihat kesulitan adik-adik mahasiswa melaksanakan Latihan Kader 1 (LK1), ia membuka dua lantai di halaman rumahnya sebagai ruang gratis untuk kaderisasi.
“Silakan pakai tempat saya. Jangan sampai karena biaya, LK1 batal,” tegasnya sambil menyediakan dapur agar panitia bisa memasak sendiri.
Sejak 5 April 2020, Graha Yakusa telah menjadi titik pijak bagi hampir seluruh komisariat HMI di Malang Raya, Surabaya, hingga Bangkalan dalam memulai perjalanan perjuangan mereka.
Kini, Muhlis tengah menggarap pembangunan gedung baru berkapasitas 150–200 orang. Fasilitas ini akan dilengkapi gedung pertemuan, kamar, dan perpustakaan yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk training, diskusi, rapat, maupun mengerjakan skripsi.
“Pembangunan sudah mencapai 60 persen, kami targetkan selesai pertengahan atau akhir 2026,” katanya optimistis.
Baca Juga: Dies Natalis ke-79, HMI Bondowoso Tegaskan Komitmen Perkuat Nilai Perjuangan dan Perkaderan
Graha Yakusa juga sering dikunjungi tokoh nasional, akademisi, dan pejabat teras yang kerap berdiskusi langsung dengan para kader muda.
Masyarakat sekitar memberikan dukungan penuh terhadap keberadaan Graha Yakusa. Selain menjadi wadah kaderisasi, tempat ini juga memberi dampak positif bagi pelaku UMKM lokal dan kehidupan sosial desa.
“Harapan saya, banyak senior meniru. Sediakan ruang untuk adik-adik,” pungkas Muhlis mengakhiri wawancara.
Bagi Muhlis, Graha Yakusa bukan sekadar bangunan, melainkan rumah belajar yang menjadi kawah candradimuka bagi generasi pemimpin dan pejuang masa depan.
Graha Yakusa adalah contoh nyata bagaimana ruang sederhana namun bermakna mampu membentuk karakter dan semangat generasi muda. Dengan fondasi pengalaman dan dedikasi Muhlis Ali, tempat ini menghidupkan tradisi intelektual dan perjuangan yang relevan di era modern. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat