Catatan Mas AAS

Membayangkan Wajahmu Adalah Siksa

oleh : -
Membayangkan Wajahmu Adalah Siksa

 

TAK elok aku memilih judul tulisan di atas. Setidaknya aku tak ingin memahami sebuah kejadian adalah siksa pada pagi ini. Aku sudah membayangkan orderan ku melimpah, saat bekerja *ngojek* sekarang.

Entah kejadian di masa lalu, kini, atau malah sesuatu yang belum terjadi di masa depan! Sudah jadi lagu klasik beredar melintasi pikiran kita setiap waktu. Dihentikan tentu tidak bisa. Hanya diamati, diterima, apa adanya bisa jadi membuat ruang *sadar* kita sebagai manusia selalu hidup! Dimana ruang sadar itu, geser, apalagi menghilang, bukankah sama posisi diri kita laksana *mayat* yang berjalan?

Kekalahan hanya sebuah definisi. Saat berkompetisi kalah suara, kalah dukungan, kalah pengaruh, dan kalah setoran. Ah, ah, ah, bukan-bukan seperti itu yang ingin aku sampaikan! Bukan kah sejatinya dirimu diriku adalah seorang pemenang sejak dilahirkan dan nanti saat pulang? Kenapa mesti ragu!

Aku menyukai puisi karya Chairil Anwar, yang lugas begitu sangat ekspresif sebuah puisi di tulis. Sekadar cuplikan diksi yang dipilihnya dalam puisi berjudul "Aku": Jika sampai waktuku, aku tak mau sedu sedan itu, dan aku mau hidup seribu tahun lagi!

Lain Chairil Anwar, lain pula Sang "Burung Merak" W.S Rendra! Bisa jadi kata-kata yang dipilih untuk puisi yang beliau pahat, adalah polos, denotatif namun maknanya sungguh padat, juga tepat, mampu bangunkan ruang sadar ku pagi ini. Seperti puisi berjudul "Kangen": Kau tak akan mengerti, bagaimana kesepian ku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!

Penyair yang melegenda saja, tidak sama, berbeda-beda. Gayanya, tongkrongannya, dan pilihan sikap hidupnya. "Kenapa engkau, pilih jadi orang lain? Bukan jadi dirimu sendiri, kawan!"

Kejadian di dalam penggalan-penggalan kehidupan. Baik yang manis, pahit, bahkan yang dramatis. Membuat manusia mengambil jeda, mundur sejenak, untuk kemudian maju berlari lagi! Untuk menampar *pongah* nya kehidupan dengan kedua tangannya!

Tak usah sedu dan sedan itu, kamu _amplifier_ tak berguna sedikit pun! Mending kamu bangkit, lalu terbang laksana burung gereja, begitu bergembira berburu makanan, dari pagi lalu petang pulang ke sangkar, perutnya kenyang! Dan itu kehidupan yang Tuhan pun ingin kamu alami, saat hidup di dunia ini! Masak lupa?

Hidup ini sudah indah sejak dahulu, kini, dan selamanya kawan.