Bandara Kyai As’ad: Nama Besar, Amanah Besar

Reporter : -
Bandara Kyai As’ad: Nama Besar, Amanah Besar
Ghozi Zainudin Ketua DPD PAN Situbondo dan Ketua Jasminu Situbondo

Oleh : Ghozi Zainudin

Ketua DPD PAN Situbondo dan Ketua Jasminu Situbondo

Baca Juga: Gedung KDMP Wringin Anom, Kec. Asembagus, Kab. Situbondo Mulai Dibangun

Situbondo, JatimUPdate.id - Nama Kyai As’ad kini resmi menempel di sebuah bandara. Bandara Banongan, Situbondo. Sekilas tampak membanggakan. Nama ulama besar, terpampang di bangunan modern.

Tapi justru di titik inilah pertanyaan penting harus diajukan: apakah ini sekadar nama, atau benar-benar nilai?

Kyai As’ad bukan tokoh biasa. Beliau bukan hanya kiai yang mengajarkan kitab di pesantren. Beliau adalah simbol keberpihakan. Simbol keadilan. Simbol kesalehan yang tidak berhenti di sajadah, tapi turun langsung ke realitas sosial.

Karena itu, menempelkan nama Kyai As’ad di bandara sejatinya bukan urusan administratif. Ini urusan moral. Urusan amanah.

Jangan sampai nama besar beliau hanya dijadikan “ornamen religius” untuk melegitimasi proyek pembangunan.

Lebih berbahaya lagi, jangan sampai nama Kyai As’ad dipakai untuk menutupi praktik pembangunan yang justru bertentangan dengan nilai yang beliau perjuangkan.

Para santri tahu betul, Kyai As’ad selalu mengajarkan satu hal penting: kesalehan spiritual harus jalan bareng dengan kesalehan sosial. Dzikir iya, tapi keadilan juga iya. Doa iya, tapi keberpihakan pada yang lemah juga wajib.

Baca Juga: Ponirin Mika Humas Pesantren Nurul Jadid Suarakan Tiket Kapal Gratis bagi Santri Kepulauan

Maka wajar kalau muncul pertanyaan: bandara ini untuk siapa?
Apakah benar-benar membawa maslahat bagi masyarakat Situbondo?
Atau hanya menguntungkan segelintir orang?

Bagaimana nasib warga sekitar bandara?
Apakah mereka mendapatkan akses ekonomi? Atau justru hanya menerima dampak sosial tanpa menikmati hasilnya?

Pembangunan infrastruktur memang penting. Bandara bisa membuka banyak peluang. Tapi pembangunan yang adil jauh lebih penting. Kalau bandara ini hanya menjadi pintu masuk keuntungan bagi investor besar, sementara warga lokal jadi penonton, maka ada yang salah sejak awal.

Di sinilah letak ujian pemerintah daerah. Menamai bandara dengan nama Kyai As’ad berarti menerima amanah besar. Amanah untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang lahir dari bandara ini berpihak pada keadilan. Bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tapi memastikan kesejahteraan benar-benar dirasakan masyarakat.

Masyarakat sekitar bandara seharusnya menjadi penerima manfaat pertama. Bukan korban pembangunan. Bukan hanya objek yang digusur, lalu ditinggal cerita.

Baca Juga: Rapat di Pelabuhan Jangkar Tetapkan Skema Transit dan Biaya Pemulangan Santri Tahun 2026

Kalau kehadiran bandara ini benar-benar membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, memberdayakan masyarakat sekitar, maka nama Kyai As’ad akan hidup. Bukan hanya di papan nama, tapi di realitas sosial.

Tapi kalau sebaliknya—nama besar Kyai As’ad hanya jadi tameng bagi ketimpangan baru—maka itu bukan penghormatan. Itu pengkhianatan.
Santri Kyai As’ad tidak alergi pembangunan. Tapi santri juga tidak pernah diajari untuk diam saat keadilan dilanggar. Justru sebaliknya: keberpihakan kepada yang lemah adalah warisan paling mahal dari guru kami.

Bandara Kyai As’ad tidak boleh berhenti sebagai bangunan megah. Ia harus menjadi simbol pembangunan yang adil. Kalau tidak, maka wajar bila publik—terutama para santri—terus mengingatkan, mengkritik, bahkan menggugat.

Karena nama Kyai As’ad bukan sekadar nama. Ia adalah nilai. Dan nilai selalu menuntut tanggung jawab. (red)

Editor : Redaksi