Jalan Raya Pos: Membaca Indonesia dari Anyer hingga Panarukan
Oleh : Zainul Arifin (Inunk),
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Situbondo
Situbondo, JatimUPdate.id, – Di tengah masifnya pembangunan jalan tol, bandara, dan kawasan ekonomi khusus, satu pertanyaan mendasar kerap luput diajukan: infrastruktur sebenarnya dibangun untuk siapa? Pertanyaan itu menemukan cerminnya pada Jalan Raya Pos—jalur legendaris yang sejak dua abad lalu membelah Pulau Jawa dari Anyer hingga Panarukan.
Pada awal 2026 , sebuah perjalanan reflektif direncanakan menyusuri kembali jalur tersebut, dimulai dari Monumen Nol Kilometer Anyer dan berakhir di Panarukan, Situbondo. Perjalanan ini bukan sekadar wisata sejarah, melainkan ikhtiar membaca Indonesia melalui satu garis panjang yang dibangun dengan perintah, paksaan, dan pengorbanan manusia: Jalan Raya Pos.
Dibangun pada awal abad ke-19 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, Jalan Raya Pos kini dipahami sebagai sebuah palimpsest—naskah berlapis yang terus ditulis ulang oleh zaman. Setiap lapisannya menyimpan cerita berbeda: ambisi kekuasaan, daya hidup rakyat, percampuran budaya, hingga pertanyaan etis tentang arah pembangunan hari ini.
Tulisan reflektif ini disampaikan oleh Zainul Arifin (Inunk), Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Situbondo, yang memaknai perjalanan Anyer–Panarukan bukan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai praktik membaca ulang Indonesia.
Jalan sebagai Jejak Kekuasaan
Pada lapisan paling awal, Jalan Raya Pos adalah cetakan kekuasaan kolonial yang telanjang. Jalan ini dirancang bukan untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk kepentingan militer dan logistik kolonial. Ruang hidup masyarakat Jawa direduksi menjadi jalur efisiensi kekuasaan.
Daendels memproyeksikan kehendaknya ke tubuh Pulau Jawa, menjadikannya wilayah yang mudah diukur, diawasi, dan dikendalikan. Anyer, yang sebelumnya hidup dengan mitos dan ritus pesisir, direduksi menjadi “Titik Nol”—awal penghitungan jarak dan waktu.
Setiap jembatan dan hamparan jalan bukan semata simbol kemajuan, melainkan manifestasi sistem yang memandang tanah dan manusia sebagai sumber daya yang harus dimobilisasi.
Jalan yang Dihidupkan Rakyat
Namun, sejarah tidak pernah sepenuhnya tunduk pada kehendak penguasa. Di atas jalan yang dibangun dengan paksaan itu, kehidupan segera tumbuh dengan caranya sendiri. Pedagang keliling, santri, pengrajin, dan tukang cerita memanfaatkan jalur ini untuk bergerak, bertemu, dan bertukar gagasan.
Tanpa dirancang, Jalan Raya Pos menjelma menjadi ruang percampuran identitas terpanjang di Nusantara. Kota-kota seperti Cirebon, Semarang, dan Lasem berkembang bukan semata karena kebijakan kolonial, melainkan karena menjadi simpul pertemuan manusia dari beragam latar.
Dari perjumpaan itulah lahir batik pesisir, arsitektur Indo, masjid berornamen Tionghoa, hingga budaya kretek. Jalan ini memaksa pertemuan, dan dari pertemuan paksa itu justru lahir sintesis budaya yang kreatif dan bertahan hingga kini.
Ekonomi yang Terbelah
Lapisan berikutnya adalah ekonomi—dan di sinilah wajah Jalan Raya Pos tampak paling kontras. Di satu sisi, jalan ini melahirkan pusat-pusat industri kolonial seperti pabrik gula, pelabuhan ekspor, dan gudang komoditas. Di sisi lain, banyak desa hanya menjadi wilayah lintasan, tertinggal dari arus kemakmuran.
Namun, di sela ketimpangan tersebut, tumbuh ekonomi rakyat yang lentur dan bertahan. Warung lesehan, pasar tiban, bengkel kecil, produksi batik rumahan, hingga ribuan transaksi informal menjadikan badan jalan sebagai ruang hidup.
Ekonomi kecil ini menjadi bukti bahwa di balik proyek besar dan logika kapital, selalu ada daya hidup rakyat yang lebih adaptif, manusiawi, dan sulit ditundukkan.
Jalan dan Waktu yang Dilambatkan
Perjalanan Anyer–Panarukan 2026 juga dirancang sebagai perjalanan kontemplatif. Dengan berkemah dan singgah di titik-titik tertentu seperti Puncak Bogor, Lasem, hingga kawasan Madakaripura, peserta perjalanan sengaja memperlambat langkah.
Jalan yang awalnya dirancang untuk menaklukkan waktu justru dijadikan ruang untuk merasakan waktu. Situs-situs alam dan spiritual mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya berjalan linear, tetapi juga bersifat siklus dan hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat.
Pertanyaan untuk Pembangunan Hari Ini
Melintasi Jalan Raya Pos di abad ke-21 bukanlah tindakan netral. Ia menjadi cermin untuk bertanya: infrastruktur untuk siapa?
Jalan tol, bandara, dan kawasan ekonomi khusus hari ini kerap dipuji sebagai simbol kemajuan. Namun, pertanyaan dasarnya tetap sama seperti dua abad lalu—apakah pembangunan sekadar mengejar efisiensi, atau memberi ruang bagi keadilan sosial dan martabat manusia?
Perjalanan Anyer–Panarukan 2026 menjadi semacam ziarah reflektif. Setiap kota dan kampung yang dilewati adalah kata dalam kalimat panjang bernama Indonesia—kalimat yang memuat bekas paksaan, denyut perlawanan, warna percampuran, dan harapan akan keadilan.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan terletak pada jalan itu sendiri, melainkan pada pilihan etis bangsa ini: jalan seperti apa yang ingin dibangun bersama untuk masa depan. (red)
Editor : Redaksi