Rumah Radio Bung Tomo, Pengamat: Memori Sejarah Jangan Dikalahkan Kepentingan Ekonomi

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
Ken Bimo Sultoni, dok Jatimupdate.id/roy
Ken Bimo Sultoni, dok Jatimupdate.id/roy

Surabaya, JatimUPdate.id - Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni buka suara terkait status Rumah Radio Bung Tomo yang disinggung Presiden Prabowo Subianto.

Bimo menegaskan, pernyataan Presiden Prabowo merupakan critical juncture bagi Pemkot Surabaya untuk mengamankan aset sejarah perjuangan.

"Kasus rumah radio Bung Tomo ini, menjadi titik awal atau critical juncture bagi Pemkot untuk serius menelusuri, memetakan dan juga mengamankan aset sejarah lainnya yang masih berkaitan dengan sejarah perjuangan kota," tutur Bimo, kepada JatimUPdate, Kamis (5/2).

Bimo menekankan agar kejadian serupa tidak terulang kembali untuk menjaga memori kolektif masyarakat.

Sebab memori itu tidak terbentuk secara alamiah, melainkan harus dijaga melalui keputusan politik, regulasi, dan keberpihakan kebijakan publik.

"Kejadian serupa ini tidak boleh terulang untuk menjaga memori kolektif masyarakat, ini tidak terbentuk alamiah, melainkan dijaga melalui keputusan politik, regulasi dan juga keberpihakan melalui keputusan kebijakan publik," beber Bimo.

Bimo menekankan pemerintah seyogianya hadir sebelum konflik muncul melalui inventarisasi, penetapan status cagar budaya serta pelibatan masyarakat sipil.

IDUL FITRI 1447H JATIM UPDATE

Sehingga kata Bimo sejarah tidak selalu berada pada posisi tawar yang lemah ketika berhadapan dengan kekuatan ekonomi. 

"Nah ketika negara abai, memori sejarah kota ini perlahan akan tergerus, dengan apa? Dengan logika pasar, pastinya ekonomi dan kepentingan jangka pendek." terang Bimo.

Bimo mengingatkan Rumah Radio Bung Tomo yang sudah rata tidak hanya menjadi pembelajaran berharga bagi kota Pahlawan.

Namun, juga menjadi rujukan bagi daerah lain merawat dan menjaga memori sejarah perjuangan.

"Hal ini berlaku bukan hanya untuk kota surabaya akan tetapi juga di wilayah lain di Indonesia mas," urai Ken Bimo Sultoni. (Roy)