Menuliskan Jejak: Urgensi Literasi Kepemimpinan Akademik
Oleh: Dr. Agus Andi Subroto
Baca Juga: Memperkuat Selubung Syaraf Myelin Menulis!
Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur
Pasuruan, JatimUPdate.id - Di balik pintu-pintu ruang rapat yang tertutup, di sela-sela tumpukan dokumen akreditasi, dan di tengah riuh rendah transformasi digital, para pimpinan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) swasta di Indonesia sesungguhnya sedang memainkan peran sunyi namun vital.
Mereka—para dekan dan ketua program studi—tidak sekadar menjalankan fungsi administratif birokrasi kampus. Lebih dari itu, mereka sedang menavigasi sebuah bahtera besar di tengah gelombang disrupsi.
Mereka merancang ekosistem kewirausahaan, menentukan masa depan ribuan mahasiswa, hingga menjaga relevansi institusi terhadap laju teknologi yang tak kenal ampun.
FEB swasta telah lama menjadi motor penggerak ekonomi lokal, inkubator bagi wirausahawan muda, serta pendamping setia bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, ironisnya, kerja-kerja raksasa ini sering kali luput dari catatan sejarah.
Kepemimpinan akademik di lingkungan kita kerap terjebak pada dimensi "praktik", bukan "narasi". Ia hadir sebagai pengalaman yang dirasakan saat menjabat, namun tidak mewujud sebagai warisan (legacy) yang bisa dipelajari setelah masa jabatan usai. Kontribusi-kontribusi strategis tersebut tersebar sebagai inisiatif parsial yang tidak terhubung, lenyap begitu sang pemimpin turun panggung.
Padahal, di era digital ini, adagium lama berlaku kian kejam: apa yang tidak dituliskan akan hilang, dan apa yang tidak terdokumentasi akan terlupa.
Berangkat dari kegelisahan inilah, muncul sebuah kesadaran kolektif di lingkungan Aliansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia (AFEBSI). Bahwa kepemimpinan akademik tidak cukup hanya "dijalankan"; ia mutlak perlu "dituliskan".
Menulis, dalam konteks kepemimpinan dekanat, bukanlah upaya glorifikasi diri atau pencitraan semata. Menulis adalah tindakan strategis untuk merekam jejak pemikiran, menafsirkan fenomena perubahan, dan mewariskan kebijaksanaan (wisdom) kepada generasi penerus.
Ketika seorang pemimpin menuangkan pengalamannya ke dalam tulisan, ia sedang mengubah pengetahuan tacit (tersirat) menjadi pengetahuan eksplisit yang dapat diduplikasi dan dikembangkan. Ini adalah bentuk keberlanjutan organisasi yang paling murni.
Gagasan untuk menyusun karya bersama para pimpinan FEB swasta—sebuah antologi pemikiran tentang kepemimpinan, kewirausahaan, dan era digital—bukanlah sekadar proyek penerbitan buku. Ini adalah upaya membangun fondasi intelektual organisasi.
Tema besar seperti "Membangun Kepemimpinan Kewirausahaan di Era Digital" bukan sekadar judul mentereng, melainkan sebuah pernyataan sikap.
Pernyataan bahwa bagi FEB swasta, kewirausahaan adalah identitas, kepemimpinan adalah fondasi, dan digitalisasi adalah keniscayaan. Ketika ketiga elemen ini dipertemukan dalam refleksi tertulis para dekan dan pimpinan organisasi, kita tidak sedang membuat buku kenang-kenangan. Kita sedang menyusun peta jalan.
Sebuah organisasi yang besar tidak hanya dinilai dari seberapa sibuk para pengurusnya bekerja, tetapi dari seberapa mampu mereka meninggalkan jejak peradaban. Menulis adalah metode "sederhana" untuk memastikan kerja keras kepemimpinan tidak berhenti sebagai memori personal, tetapi tumbuh menjadi pengetahuan kolektif yang mencerdaskan.
Dalam filosofi Jawa, kita mengenal ungkapan Urip iku Urup—hidup itu hendaknya menyala dan memberi manfaat. Menuliskan pengalaman memimpin adalah salah satu cara kita menyalakan cahaya tersebut. Setiap kata yang tertuang adalah sedekah pemikiran, sebuah upaya melawan lupa, sekaligus warisan bagi masa depan pendidikan ekonomi di Indonesia.
Sudah saatnya kepemimpinan kita tidak hanya dirasakan dampaknya hari ini, tetapi juga dibaca hikmahnya di masa depan. (red)
Editor : Redaksi