Catatan Mas AAS

Hidup adalah Mengenai Menerima dan Memberi!

Reporter : -
Hidup adalah Mengenai Menerima dan Memberi!
Mas AAS

Hari selalu baru. Sore pun demikian. Sekarang sedang melakukan perjalanan ke kampus. Bertemu mahasiswa guyon maton parikeno di dalam kelas!

Tatkala menjadi mahasiswa. Diri ini sepenuhnya siap diproses. Menyimak dan meneguk ilmu di bangku pendidikan formal. Semua dalam level menerima. Menerima ilmu, membuka cakrawala berpikir, melihat mana yang baik, lalu kemudian belajar bertindak melakukan sesuatu.

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Lalu, pada fase berikutnya. Sesuatu yang sudah kita terima apapun itu. Juga termasuk ilmu yang sudah dimiliki. Tentu saja ada keinginan untuk berbagi. Sebuah persepsi dan perspektif coba kita agih kan kepada anak bangsa di dalam kelas.

Bertemu anak-anak muda di dalam kelas di kampus ITB Yadika Pasuruan. Adalah sebuah kemewahan dan cara hidup penulis mengabdi pada kehidupan. Dalam diskusi di ruang-ruang kelas, adakalanya terjadi sebuah dejavu pada diri penulis. Mumpung memiliki kesempatan sebagai mahasiswa sebaiknya ada ruang eksperimen yang mesti banyak dilakukan oleh para mahasiswa tersebut. Itu semacam penulis menarik kembali memori lawas yang sudah terjadi. Meski jaman saat penulis masih berkedudukan sebagai mahasiswa strata satu, tentu saja fenomena nya sudah jauh berbeda, dengan para mahasiswa yang akan ditemui nanti di dalam kelas.

Kemampuan kognitif yang menekankan sebuah keadaaan bahwa mahasiswa memahami apa yang penulis sampaikan, boleh jadi itu telah diperoleh saat materi kuliah itu sudah disampaikan seturut RPS. Namun kemampuan di aspek rasa atau afektif seorang mahasiswa. Apalagi ada inisiatif untuk mengambil tindakan dalam ranah praksis yaitu dalam aspek psikomotorik, tentu ini tidak cukup diperoleh oleh para mahasiswa di dalam kelas semata. Harus ada kerelaan dari diri penulis untuk menjadi partner para mahasiswa tersebut, agar mereka memiliki sedikit keberanian melakukan sesuatu di dalam hidupnya saat sedang menjadi seorang murid di sebuah kampus!

Sehingga terobosan yang acap kali dilakukan penulis. Mengajak mahasiswa itu belajar di luar kelas: menyimak dan mengamati secara langsung fenomena yang terjadi di luar kelas, dan menggunakan semua informasi yang sudah didiskusikan di dalam kelas menjadi sebuah alat untuk menganalis. Mereka harus belajar menyampaikan pemikirannya, sehingga kemampuan berbicara menjadi penting dimiliki oleh para mahasiswa tersebut.

Atmosfer suasana belajar mengajar dalam suasana yang terbuka, tanpa ada hijab, dan rasa sungkan. Menjadi prioritas tersendiri yang dilakukan oleh penulis untuk merangsang para mahasiswa itu mau berpikir dan berbicara dalam momen diskusi baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Baca Juga: Gandeng Kejaksaan, BPJS Kesehatan Bakal Periksa 100 Badan Usaha Yang Menunggak Iuran JKN

Luaran dari terobosan yang dilakukan penulis. Diharapkan para mahasiswa yang telah kuliah di kampus ITB Yadika Pasuruan, memiliki ciri khas yang otentik: selain mereka terampil buka lapak, mereka pun terampil untuk berbicara menyampaikan pikiran-pikiran cerdasnya dalam memberikan solusi atas persoalan-persoalan yang terjadi di luar kelas!

Begitulah yang dipahami oleh penulis. Tentang arti hidup: menerima dan memberi. Bagaimana suatu kompetensi yang baik, mesti dimiliki oleh seorang mahasiswa di level strata satu yang dipahami oleh penulis. Secepat itu pula harus penulis deliver kepada para mahasiswa di kampus ITB Yadika Pasuruan di dalam kelas. Soal kekurangan yang ada, tentu dengan spirit tak berhenti untuk terus belajar, para mahasiswa itu harus mau belajar kembali di level selanjutnya.

Sehingga tradisi yang dibangun penulis secara terus menerus di dalam kelas kepada para mahasiswa di kampus ITB Yadika Pasuruan adalah: mengajak mereka membaca, berpikir, berbicara, dan pada ujungnya, semoga mereka juga berani untuk menulis mengunggah gagasan dan ide mereka lewat kerajinan memahat sebuah aksara! Penulis memiliki mimpi entah pada suatu ketika para mahasiswa juga alumninya dari kampus di Pasuruan ini, memiliki pride yang begitu tinggi karena pernah belajar menuntut ilmu di kampus perjuangan ini. Siapa yang harus membuat mereka bangga kuliah di sini, tentu saja para pendidik nya dahulu yang harus memberikan teladan. Teladan apakah gerangan? Mereka para dosen harus mengawali mau meng-install dengan rasa kesadaran dan antusias yang tinggi pride bekerja mengabdi di kampus ITB Yadika Pasuruan.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Energi, vibrasi, dan frekuensi, dari kebanggan dan antusiasme itu, diharapkan akan menular kepada anak didik yaitu para mahasiswa yang menimba ilmu, kuliah di kampus kebanggan masyarakat daerah Bangil Pasuruan ini.

Demikian sebuah letupan pemikiran yang menghampiri penulis. Saat penulis melakukan perjalanan untuk bekerja mengabdi pada kehidupan ke kampus ITB Yadika Pasuruan. Tentu saja saat letupan ini tidak segera berwujud menjadi sebuah tulisan, akan membuat vibrasi penulis saat bertemu mahasiswa nanti menjadi terganggu gelombangnya! Tidak lancar signal nya...


AAS, 04 April 2024
Stasiun Bungurasih Surabaya

Editor : Nasirudin